Analisa Usaha Ternak Lele, Pasti Bisa Untung. Tapi Semudah itukah?

Silahkan share di:

Ternak lele pemula – Semudah itukah?

Meskipun kelihatannya mudah, tapi ternyata budidaya ikan lele sering tidak seperti yang diharapkan.

Saya melihat sendiri dari teman – teman dan tetangga, banyak yang mencoba untuk budidaya ikan lele ini.

Akan tetapi tidak sedikit pula yang berhenti di tengah jalan.

Saya tidak meragukan akan potensi keuntungan yang bisa dihasilkan oleh ternak lele. Ia bisa memberi pendapatan yang cukup lumayan.

Lumayan tidak harus selalu dalam bentuk keuntungan yang besar dengan modal yang sedikit. Tapi kebutuhan masyarakat yang tinggi akan ikan juga termasuk keuntungan dalam bentuk lain.

Sekarang, ikan lele sudah dibutuhkan oleh semua orang setiap harinya. Tidak hanya warung makan, di pasar – pasar pedagang lele juga lebih sering sold out daripada daging ayam dan ikan jenis lainnya seperti gurame, nila, patin dsb.

Ini berarti permintaan lele itu tinggi. Kalau permintaan tinggi, maka penjualannya juga mudah. Selain itu kalau permintaannya terus tinggi, harga juga tidak akan jatuh – jatuh amat.

Intinya, untuk peternak lele tidak perlu ragu dan khawatir kalau lelenya tidak ada yang beli. Pasti terbeli.

Budidaya ikan lele itu sepertinya memang terlihat mudah. Terlihat tinggal menyediakan kolam (terpal, semen, tanah dst), diberi makan 2 kali sehari, rajin ganti air, panen dapet jutaan.

Akan tetapi untuk kebanyakan ternak lele pemula dengan jumlah modal pas pasan, akhirnya mundur di tengah jalan.

Harusnya kalau memang hasilnya bisa jutaan, maka harusnya lebih semangat untuk maju terus.

Berarti ada sesuatu yang membuat kita sering terlena.

Berapa modal usaha ternak lele kolam terpal?

Modal awal untuk memulai ternak lele tidak bisa dikatakan sedikit.

Untuk tebar bibit 1000 ekor saja, setidaknya kita masih membutuhkan modal sebanyak 2 – 3 jutaan.

Nanti kita bisa analisa satu per satu mengenai biaya dari item item yang diperlukan.

Pada mulanya usaha ternak lele ini terlihat bermodal kecil karena harga bibitnya yang murah. Untuk bibit ukuran 4 – 6 , harganya antara 100 – 200 rupiah saja.

Kalau 1000 ekor, ini baru 100 – 200 ribu saja. Tapi belum memperhitungkan harga pakannya.

Pakan ternak untuk ikan harganya tergolong lebih mahal daripada pakan untuk jenis ternak lainnya.

Hal ini karena ikan membutuhkan pakan dengan kualitas yang sangat tinggi. Kandungan proteinnya paling tinggi diantara jenis pakan ternak lainnya.

Tidak hanya itu, serat kasarnya juga paling rendah diantara lainnya.

Untuk bisa menghasilkan pakan dengan kualitas tersebut, dibutuhkan bahan dengan kualitas yang bagus. Dan, ini konsekuensinya harganya menjadi lebih tinggi.

Per kg, pakan lele berkisar 10 ribuan per kgnya dengan protein kasar sekitar 30%.

Lele 1000 ekor tidak akan menghasilkan jutaan

Banyak artikel yang menyebutkan bahwa hanya dengan ternak lele 1000 ekor bisa menghasilkan keuntungan sampai jutaan.

Bahkan dengan perhitungan paling sederhana pun, tidak akan ketemu hasil sebanyak itu.

Misalnya seperti ini.

Ok, katakanlah kita budidaya lele sebanyak 1000 ekor. Kita pelihara selama 2 – 3 bulan.

Seandainya selama itu tingkat kematian sebanyak 10%, maka kita masih bisa memanen lele sebanyak 900 ekor.

Dengan asumsi permintaan pasar per kg isi 8 – 10, maka bobot panen lele yang kita dapatkan antara 112 – 90 kg. Kita pakai asumsi yang 90 kg.

Dengan FCR 0,9, artinya untuk menghasilkan bobot lele 1 kg dibutuhkan pakan sebanyak 0,9 kg. Kalau bobot 90 kg, maka pakannya sebanyak 81 kg.

Setidaknya kita harus beli pakan sebanyak 3 sak dengan bobot per saknya adalah 30 kg.

Biaya pakannya adalah 10.000 x 30 x 3 = 900.000.

Harga jual lele kalau diambil tengkulak adalah 18.000 per kg nya. Penerimaan saat panen 90 kg x 18.000 = 1.620.000.

Gambaran paling singkat adalah seperti itu. Itu belum kalau air harus beli, listrik, vitamin dan lain – lain.

Kemungkinan kita bisa terima bersih sekitar 400 ribu untuk satu periode panen.

Memang harus lebih sabar. Kalau mau hasil yang lebih besar, jumlah yang dipelihara harus lebih banyak.

Cara budidaya ikan lele di terpal

Kolam terpal sebenarnya sudah cukup kuno untuk diterapkan di budidaya ikan lele. Tapi sampai sekarang masih banyak yang menggunakan.

Mungkin karena sangat mudah dan biayanya juga bisa minimal.

Budidaya ikan lele di kolam terpal ini pertama kali diperkenalkan oleh Bapak Mujarob Bekasi pada tahun 1999.[1]

Untuk memulai usaha ini, maka langkah – langkah yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut.

Pembuatan Kolam

Untuk bisa membuat kolam, maka pertama yang dibutuhkan adalah lahan dan terpal.

Lahan kalau bisa ada naungannya. Tidak terkena panas dan hujan secara langsung.

Panas yang menyinari kolam secara langsung akan menyebabkan perbedaan suhu kolam yang mencolok antara siang dan malam hari.

Ini bisa mempengaruhi kesehatan lele itu sendiri.

Air hujan juga bisa membuat pH air kolam berubah.

Idealnya memang di atas kolam ada bangunan yang bisa menahan sinar matahari dan hujan ini. Tapi kalau tidak memungkinkan, ya tidak masalah. Bisa diganti dengan paranet atau semacamnya.

Untuk kapasitas lele 1000 ekor, setidaknya butuh kolam seluas 3 meter x 2 meter. Jika ingin membuat kolam dari terpal biasa, berarti butuh terpal ukuran 5 x 4 meter.

Ukuran tersebut nantinya terpotong bagian kiri dan kanan masing – masing 1 meter.

Harga terpal ukuran tersebut sekitar 150 – 200 ribu sesuai dengan kualitasnya. Untuk yang kualitas menengah bisa diperoleh dengan harga 150 rb (secara online).

Selain terpal dibutuhkan juga bambu sebagai penyangga terpal. Kira – kira kebutuhan bambu ini sebanyak 6 lonjor bambu.

Jadi untuk bambunya kalau beli ya sekitar 90 ribuan.

budidaya lele ternak lele kolam terpal

Mempersiapkan kolam

Sebelum digunakan, kolam sebaiknya dicuci terlebih dahulu. Dicuci dengan air, sabun dan disikat biar bau dan bahan – bahan kimia saat proses produksi hilang.

Kalau sudah dicuci, keringkan selama satu hari. Kemudian baru diisi dengan air.

Air diisi sampai ketinggian 80 cm. Air ini didiamkan terlebih dahulu selama kurang lebih 1 minggu.

Setelah itu baru memasukkan benih lelenya.

Penebaran benih lele

Bibit harus berkualitas baik. Ciri – ciri bibit berkualitas baik adalah seperti ini.[2]

  • Benih yang baik didapat dari indukan yang unggul karena sifatnya akan menurun dari sang indukan.
  • Sifat benih yang bagus adalah memiliki sifat yang gesit/aktif, ukuran benih seragam, warna seragam, organ tubuh yang lengkap serta memiliki panjang tubuh 4 – 7 cm.

Benih yang baru datang harus diadaptasikan dengan kondisi air kolam terlebih dahulu. Hal ini untuk menghindari supaya bibit tidak stress.

Caranya, benih lele yang masih dalam plastik dicelupkan ke dalam kolam. Tunggu sampai beberapa saat supaya benih menyesuaikan dengan suhu air kolam. Kira – kira diperluakan waktu 10 – 15 menit.

Setelah itu biarkan benih lele berenang keluar dengan sendirinya ke kolam terpal yang kita buat.

Bisa juga adaptasi ini dilakukan dengan cara memasukkan air kolam ke kantong plastik tempat benih lele sedikit demi sedikit.

Sampai kira – kira air di kantong benih sama dengan air kolam, lepaskan benih dan biarkan mereka berenang dengan sendirinya menuju tempat barunya.

Setelah tahap ini maka kita akan masuk ke tahap perawatan.

Perawatan lele kolam terpal

Perawatan dalam budidaya ikan lele di kolam terpal lebih banyak memperhatikan terhadap kualitas air.

Hal ini karena air adalah media hidup ekan lele. Kalau medianya kualitasnya jelek maka pertumbuhannya juga terganggu.

Selain itu, kualitas air yang jelek juga menjadi awal munculnya berbagai penyakit.

Budidaya ikan lele yang dilakukan di kolam terpal, semakin hari kualitas air pasti akan semakin berkurang.

Berkurangnya kualitas air kolam ini dikarenakan kandungan oksigen terlarut yang semakin berkurang dan jumlah amoniak yang semakin meningkat.

Berkurangnya kandungan oksigen karena semakin banyak bahan – bahan yang terdapat dalam air kolam. Misalnya sisa pakan, kotoran lele itu sendiri dan ukuran lele yang semakin besar akan membutuhkan oksigen lebih banyak.

Untuk amoniak berasal dari kotoran ikan lele. Kalau air tidak diganti secara berkala, kandungan amoniak akan semakin tinggi.

Ini bisa membuat ikan menjadi keracunan dan mati dah…

Maka dari itu, mengganti atau menambah air untuk kolam lele ini wajib. Berbeda dengan bioflok, yang tidak perlu adanya penggantian air.

Untuk pebahasan mengenai bioflok ada dibagian bawah.

Penggantian dan penambahan air untuk budidaya lele di kolam terpal ini bisa dilakukan sebagai berikut.

Jika air sudah kotor dan jumlah ikan lele yang menggantung cukup banyak, segera ganti air.

Kebanyakan, untuk satu bulan pertama dan ke dua, penggantian air cukup dilakukan 1 kali sebulan.

Kalau bulan ke tiga, penggantian air dilakukan 2 kali dalam sebulan. Karena pada bulan ke tiga ikan sudah besar, makannya lebih banyak dan kotorannya juga lebih banyak.

Jadi, kandungan oksigen akan lebih cepat berkurang dan jumlah amoniaknya akan lebih cepat meningkat.

Cara mengganti air adalah dengan menyedot air pada bagian bawah kolam supaya endapan bisa terbuang.

Pemberian pakan ikan lele

Pakan lele paling mudah adalah diberikan pakan pelet. Karena yang jual sudah banyak dan tidak kesulitan untuk menemukannya.

Kalau mau pakan alternatif juga bisa. Misalnya keong, bekicot dan ikan rucah.

Tapi kemungkinan stoknya juga terbatas dan tidak bisa mengusahaknnya setiap hari.

Selain itu sebelum diberikan ke ikan lele, sebaiknya pakan alternatif tersebut direbus terlebih dahulu untuk mencegah penularan penyakit yang dibawa oleh pakan alternatif tersebut.

Ukuran pelet juga disesuaikan dengan besar kecilnya mulut ikan. Sampai umur dua minggu, bisa menggunakan pelet 118.

Pelet ukuran 781-2 untuk lele usia sampai 2 bulan. Dan setelah itu, sampai usia panen bisa menggunakan ukuran pelet 781.

Untuk 781, diameter peletnya sekitar 3 mm.

Harga pelet ini rata – rata sekitar 10 ribuan. Kalau mau harga lebih tinggi, juga banyak yang menjualnya.

Pakan ini diberikan dua kali sehari masing – masing sebanyak 3 – 5 % dari biomassa lele yang dipelihara. Biomassa itu jumlah bobot lele yang dipelihara.

Misalnya kita memasukkan bibit ukuran 4 – 6. Per ekor bobotnya sekitar 1,9 gram. Kalau kita memasukkan benih sebanyak 1000 ekor ke kolam, maka biomassanya adalah 1,9 gram x 1000 = 1900 gram = 1,9 kg.

Jumlah pemberian pakan kita ambil tengahnya, yaitu 4% saja. Maka jumlah pakan yang kita berikan adalah 4% x 1900 gram = 760 gram.

Jumlah tersebut diberikan sebanyak dua kali yaitu pagi dan sore. Jadi sehari kurang lebih butuh pakan sebanyak 1,5 kg lebih sedikit.

Tapi kan, lele setiap hari bobotnya bertambah. Jadi peberiannya juga semakin hari semakin banyak dong?

Iya betul. Idealnya seperti itu. Setiap hari jumlah pemberian pakan semakin bertambah. Tapi ini repot.

Penimbangan sampel bisa dilakukan seminggu sekali.

Misalnya, untuk minggu pertama kita masukkan 1000 ikan lele. Kita catat jumlah ikan yang mati, kalau ada.

Setelah satu minggu, kita ambil beberapa ekor ikan lele. Misalnya 10 ekor. Kita timbang beratnya. Beratnya sebagai contoh adalah 40 gram dari 10 ekor tersebut.

Misalnya selama seminggu tersebut yang mati sebanyak 20 ekor, berarti dalam kolam masih ada kurang lebih 980 ekor lele.

Berat biomassa menjadi 40 gram x (980/10) = 3920 gram.

Berart pada minggu ke dua, setiap memberikan pakan jumlahnya adalah sebanyak:

4% x 3920 gram = 1568 gram = 1,568 kg.

Begitu seterusnya untuk menghitung minggu – minggu berikutnya.

Panen lele

Lele sudah bisa dipanen saat usia 2,5 bulan.

Kemungkinan besar panen akan dilakukan panen sortir kalau tidak dilakukan sortir sebelumnya.

Karena pasti terdapat pertumbuhan yang tidak seragam dalam satu kolam lele.

Lele yang tidak lolos sortir bisa dipelihara kembali.

Sehingga, satu siklus budidaya lele ini semua bisa terjual setidaknya butuh waktu 3 bulan atau bahkan lebih.

Dengan tingkat kelulushidupan sebanyak 90%, setidaknya kita bisa mendapat panenan lele sebanyak 90 kg. Dengan asumsi size per kg nya berisi 10 ekor.

Kelulushidupan ini sudah tergolong tinggi. Untuk sebuah analisa kita sebaiknya menggunakan kelulus hidupan sebanyak 80%.

Analisa usaha lele 1000 ekor

Pada bab ini saya akan merangkum untuk analisa usaha lele per 1000 ekornya.

Supaya lebih mudah untuk di fahami kembali.

Asumsi yang akan saya gunakan adalah:

  • Ikan lele yang dipelihara berjumlah 1000 ekor. Ini tentu hanya perkiraan. Karena jumlah bibit pasti tidak bisa pas 1000 ekor. Biasanya ada lebihnya. Tapi tidak masalah tetap kita anggap 1000 ekor saja.
  • Kolam yang dibuat hanya satu buah kolam saja. Ukurannya 2 meter x 3 meter x 1 meter. Bahan untuk membuat kolam adalah terpal dengan kualitas menengah.
  • Padat tebarnya berarti 167 ekor per meter kubiknya. Padat tebar ini masih standard karena ukuran padat tebar untuk per meter kubik adalah 100 – 200 ekor.
  • Benih yang ditebar berukuran 4 -7 dengan berat rata – rata 1,9 – 2 gram per ekornya. Harganya berkisar antara 100 – 200 rupiah per ekornya.
  • Jangka waktu pemeliharaan 2,5 – 3 bulan.

Ada beberapa poin yang perlu kita perhatikan dalam menganalisa sebuah rencana usaha.

Investasi awal

Investasi awal untuk budidaya lele ini adalah kolam terpal saja. Tapi kalau dirasa perlu membeli alat lain seperti selang dan aerator silahkan ditambahkan saja.

Poin penting dari investasi adalah pemanfaatannya untuk jangka panjang karena kolam ini adalah aset kita.

Jadi kalau kemungkinan terburuk terjadi, jangan menyerah. Coba lagi karena menyerah hanya akan menambah kerugian.

KeteranganBiaya Rp
Kolam terpal ukuran 2 x 3 meter300000
Total investasi300000

Biaya produksi

Biaya produksi adalah biaya yang diperlukan untuk memproduksi lele untuk selama satu periode pemeliharaan.

Biaya ini meliputi pembelian bibit ikan lele, pakan, listrik, air, obat dan vitamin.

KeteranganJumlahBiaya satuanTotal
Bibit ikan lele1000150150000
Pakan ikan lele90 kg10000/kg900000
Listrik3000030000
Air19,25000/meter kubik96000
Obat dan Vitamin5000050000
Total1226000

Keterangan:

Untuk jumlah pakan, sudah saya singgung pada bagian awal artikel ini. Yaitu untuk fcr 0,9 jumlah pakan yang dibutuhkan 90 kg.

Ini jumlah pakan yang mepet. Kalau misal ada meleset dari perkiraan bisa terjadi kekurangan pakan. Jadi, memang sesekali perlu diberi pakan alternatif.

Untuk air, ada daerah atau wilayah untuk kebutuhan air harus beli. Kalau misalkan air di daerah setempat bisa gratis, bagian ini bisa dihilangkan.

Jumlah volume air yang digunakan adalah 2 meter x 3 meter x 0,8 meter = 4,8 meter kubik.

Seandainya selama pemeliharaan (3 bulan) ganti air 4 kali, maka volume air yang dibutuhkan selama satu periode adalah 4 x 4,8 = 19,2 meter kubik.

Harga air per kubiknya sekitar 5 ribu rupiah. Tinggal dikalikan saja biaya airnya adalah 5 ribu x 19,2 = 96000

Pendapatan dan keuntungan

Saya anggap kematian sebanyak 20 %. Berarti masih bisa panen lele sebanyak 800 ekor.

Sesuai asumsi di awal, per kg isi 10 ekor lele. Jadi bobot panen lele sebanyak 80 kg.

Harga jual lele per kg nya adalah 18.000. Diambil oleh pengepul. Kalau bisa jual sendiri ke pelanggan, harga bisa lebih tinggi.

Jadi, pendapatan selama 1 periode pemeliharaan adalah:

80 kg x Rp. 18.000/kg = Rp. 1.440.000

Keuntungannya adalah 1.440.000 – 1.226.000 = Rp. 214.000.

Seperti itu kira – kira potensi pendapatan yang kita peroleh dari usaha lele sebanyak 1000 ekor.

Cukup logis karena kalau dilihat dari modal yang kita gunakan, keuntungan tersebut jumlahnya 17% dari modal.

Kalau mau jumlah keuntungan yang lebih besar, bisa menambah jumlah lele yang dipelihara atau jual pecel lelenya.

Kalau jual pecel lelenya keuntungan bisa 50% bahkan 100%.

Kalau pakan beli dalam satuan karung, biasanya harga per kg nya tidak dihargai dengan harga ecer.

Ini bisa dimaksimalkan untuk menghemat biaya produksi.

Analisa usaha lele 5000 ekor

Kalau dari 1000 ekor lele keuntungan yang diperoleh tidak seberapa, kita coba bagaimana kalau yang dipelihara sebanyak 5000 ekor.

Secara sederhana hasil dari 1000 ekor di atas kita kalikan 5.

Tapi satu hal yang menjadi pertimbangan adalah jumlah kolam semakin banyak dan pasti lahannya juga lebih luas.

Karena tidak semua orang punya lahan, nanti ini perlu dimasukkan dalam perhitungan. Seandainya tanah atau lahan harus sewa.

Selanjutnya kita akan lihat apakah teknologi budidaya lele terbaru, yaitu kolam bioflok, bisa lebih meningkatkan pendapatan?

Referensi

[1] Presentasi Tri Rahmawati S.Pi. Teknik Budidaya (Pembesaran) Ikan Lele di Kolam Terpal. KAMIS, 24 NOVEMBER 2011; UBB-BALUNIJUK.

[2] Rusherlistyani , Dwi Sudaryati dan Sucahyo Heriningsih. 2017. Budidaya Lele Dengan Sistem Kolam Bioflok. LPPM UPN VY.

 

Silahkan share di:

Tinggalkan komentar