Batang Pisang Fermentasi, Untuk Kambing, Domba, Sapi Kah??

Silahkan share di:

Layakkah gedebog pisang untuk pakan?

Ini adalah postingan pertama saya yang membahas tentang Batang pisang atau Gedebog pisang.

Beberapa waktu yang telah lalu, batang pisang/gedebog pisang menjadi topik bahasan yang sempat viral. Untuk yang peternak kambing, mungkin sudah memahami apa yang saya maksudkan.

Biar saya perjelas saja, bahwa beternak bisa dilakukan tanpa angon dan ngarit. Terus alternatifnya apa kalau tidak ngarit?

Alternatifnya adalah pakan fermentasi dari gedebok pisang. Keren bukan?

Iya, keren dan sangat menarik. Hal ini karena gedebog pisang adalah bahan yang sangat murah, bahkan gratis.

Bahannya pun mudah untuk didapatkan dan jumlahnya juga cukup melimpah.

Akan tetapi pada prakteknya banyak peternak yang mengalami pengalaman tidak menyenangkan. Mungkin jumlah gedebog pisang yang digunakan dalam ransum jumlahnya terlalu banyak.

Sehingga, karena kandungan nutrisinya yang miskin, maka pertumbuhan ternaknya menjadi terhambat.

Tapi kita tidak boleh menilai dan menjudge sesuatu yang baru itu jelek dan tidak bagus. Sebuah inovasi perlu dikaji dan dipelajari lebih dalam lagi.

Siapa tahu, terobosan ini memang benar – benar bisa menjadi sebuah alternatif yang sangat bagus kedepannya.

Makanya, menurut saya perlu untuk mempelajari lebih lanjut mengenai bahan pakan dari gedebog pisang ini. Apakah bahan ini memang layak untuk dijadikan pakan atau tidak.

Gedebog pisang untuk pakan kambing, secara teori dulu

Postingan saya kali ini tidak untuk membahas viralnya gedebog pisang itu, melainkan seperti biasanya saja.

Sebenarnya penelitian gedebog pisang ini sudah cukup banyak dilakukan. Salah satunya yang akan saya uraikan pada artikel ini.

Untuk bisa menentukan apakah gedebog ini layak atau tidak, maka sebaiknya kita perlu tahu beberapa informasinya dulu.

Info tersebut antara lain adalah kandungan nutrisinya dan penyajiannya.

Ada sebuah penelitian dari peneliti-peneliti Program Studi Peternakan UNS yang meneliti tentang gedebog pisang/batang pisang ini.

Batang pisang/gedebog pisang tersebut tidak untuk diujikan ke hewan ternak langsung, melainkan hanya diuji di laboratorium saja.

Dalam penelitiannya, batang pisang/gedebog pisang tersebut dibuat dalam bentuk silase.

Ada yang hanya murni gedebog pisang dan ada yang gedebok pisang ditambah dengan bahan-bahan yang lainnya. Setelah itu gedebog pisang/batang pisang diuji dan diketahui hasilnya.

Kandungan nutrisi gedebog pisang

Kandungan nutrisi dari gedebog pisang bisa dilihat pada tabel di bawah ini.

Dari tabel di atas bisa dilihat bahwa kandungan serat kasar gedebog pisang sangat tinggi dan nilai protein kasarnya rendah.

Artinya, untuk digunakan sebagai pakan ternak, batang pisang ini sebenarnya kurang bagus. Apalagi kalau jumlahnya dalam ransum sangat dominan.

Oleh karena itu, dalam penggunaannya batang pisang ini harus ditambah dengan bahan – bahan lain yang kualitasnya bagus.

Kandungan air dari batang pisang juga sangat tinggi. Nilai bahan kering diatas cukup tinggi karena sebelumnya, batang pisang dijemur terlebih dahulu.

Batang pisang dijemur selama 1 – 2 hari atau kadar air yang dikandungnya menjadi 60 – 70 %.

Membuat silase Batang Pisang/Gedebog Pisang

Kandungan batang pisang dari Laboratorium Ilmu Nutrisi Makanan Ternak UNS memiliki kandungan nutrien bahan kering (BK) 87,7%, abu 25,12%, lemak kasar (LK) 14,23%, serat kasar (SK) 29,40%, protein kasar (PK) 3,01% dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) 28,24%.

Kekurangan-kekurangan dari gedebog pisang adalah:

kadang air yang tinggi, membuat cepat busuk dan mudah tercemar bakteri
serat kasar tinggi dan karbohidratnya sulit untuk dicerna
Cara pembuatan fermentasi silase batang pisang/gedebog pisang adalah sebagai berikut:

Batang pisang yang digunakan adalah batang pisang Kepok. Batang pisang dipotong-potong ukuran sekitar 5 cm dan dilayukan selama  1-2 hari sampai kadar air 60-70%.

Batang pisang ditimbang seberat 1000 gram atau 1 kg. Jumlahnya sedikit karena mungkin ini hanya skala penelitian.

Kemudian batang pisang tadi, ada yang ditambah dengan dedak padi, molases dan tepung gaplek. Bakteri fermentasi yang digunakan adalah EM4 sebanyak 1,5 ml untuk tiap-tiap variasi.

Variasi penelitiannya sebagai berikut:

Batang pisang+ tanpa akselerator + 21 hari
Batang pisang+ tanpa akselerator + 28 hari
Batang pisang+ dedak padi 10%+ 21 hari
Batang pisang+ dedak padi 10%+ 28 hari
Batang pisang+ molases 10%+ 21 hari
Batang pisang+ molases 10%+ 28 hari
Batang pisang+ tepung gaplek 10%+ 21hari
Batang pisang+ tepung gaplek 10%+ 28 hari
Tanpa akselerator maksudnya adalah hanya batang pisang dan EM4. 21 hari dan 28 hari adalah keterangan dalam lama waktu pemeraman silase.

Hasil

Secara umum hasil yang didapatkan dari penelitian ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Klik gambar untuk melihat lebih jelas.

langsung saja penjelasannya seperti ini:

Bau Silase

Bau harum keasaman seperti bau tape merupakan ciri khas silase yang baik.

Penambahan akselerator tepung gaplek dan molases menghasilkan silase yang baik dari segi bau yaitu asam seperti khas tape.

Hal ini dikarenakan tepung gaplek mengandung pati. Selama proses ensilase, pati yang terkandung didalam tepung gaplek diubah menjadi gula melalui proses sakarisasi sebelum proses fermentasi.

Karbohidrat dalam molases mudah dimanfaatkan mikroba selama proses fermentasi berlangsung untuk memproduksi asam laktat dan menyebabkan penurunan pH yang menghasilkan silase berbau asam.

Silase batang pisang yang ditambah dedak padi menghasilkan bau silase yang tidak berbau.

Hal ini dikarenakan karbohidrat yang terdapat pada dedak padi (pati dan selulosa), serta SK 11,6% dan BETN 48,3% yang menyebabkan penguraian karbohidrat oleh bakteri asam laktat (BAL) untuk memproduksi asam laktat tercapainya lambat sehingga pH yang dihasilkan diatas 4.

Silase batang pisang tanpa akselerator menghasilkan bau busuk.

Hal ini dikarenakan BETN dari batang pisang hanya 28,24% sehingga BAL kurang mendapatkan karbohidrat yang mudah larut untuk memproduksi asam laktat.

Akibatnya, bakteri yang berkembang dalam proses ensilase adalah bakteri Clostridia yang menghasilkan asam butirat yang menyebabkan silase menjadi berbau busuk.

Tujuan penambahan akselerator diantaranya yaitu untuk mendapatkan karbohidrat mudah terfermentasikan sebagai sumber energi bagi bakteri yang berperan dalam fermentasi sehingga mencepat kondisi asam dan menghambat pertumbuhan beberapa jenis bakteri lain dan jamur yang tidak dikehendaki.

Warna Silase

Warna silase yang dihasilkan silase batang pisang tanpa akselerator yaitu kehitaman.

Perubahan warna yang terjadi pada silase batang pisang tanpa akselerator dikarenakan ketika silase batang pisang mulai dimasukkan didalam silo, jaringan tanaman tersebut masih hidup dan melakukan respirasi secara aktif serta menghasilkan air, CO2, dan panas.

Panas yang dihasilkan mengakibatkan peningkatan temperatur di dalam silo yang menyebabkan perubahan warna silase menjadi kehitaman/busuk.

Fase anaerobik dapat dengan cepat dicapai pada silase batang pisang yang ditambahkan dedak padi, molases, tepung gaplek karena bakteri penghasil asam laktat memanfaatkan karbohidrat mudah larut pada akselerator tersebut untuk menurunkan pH silase sehingga warna silase yang dihasilkan berwarna coklat tua sampai coklat muda.

Jamur

Jamur yang dihasilkan silase batang pisang yang ditambah molases yaitu tidak ada jamur, sedangkan silase batang pisang yang ditambahkan dedak padi dan tepung gaplek menghasilkan silase yang jamurnya cukup.

Hal ini dikarenakan fase anaerobik dapat dengan cepat dicapai karena bakteri penghasil asam laktat (Lactobacillus) memanfaatkan penambahan akselerator dedak padi, molases, tepung gaplek untuk menurunkan pH sehingga jamur, maupun bakteri pembusuk tidak berkembang.

Silase batang pisang tanpa akselerator menghasilkan silase yang tidak ada jamur tetapi berbau busuk.

Tekstur

Tekstur silase yang dihasilkan silase batang pisang tanpa akselerator yaitu lembek.

Hal ini terjadi karena pada saat fase aerob yang terjadi pada awal ensilase terlalu lama sehingga panas yang dihasilkan terlalu tinggi menyebabkan penguapan pada silo.

Sedangkan pada silase batang pisang yang ditambah akselerator dedak padi, molases,dan tepung gaplek bertekstur padat dikarenakan tekstur dedak padi dan tepung gaplek yang halus dapat menguntungkan untuk mencegah kebocoran silo selama ensilase sehingga fermentasi anaerob dapat berlangsung sempurna.

Serta BETN dari dedak padi, molases, tepung gaplek masingmasing adalah 48,7%; 74% dan 76,3% sehingga bakteri seperti Lactobacillus plantarum dapat menfermentasi karbohidrat mudah larut menjadi asam laktat.

Lama ensilase 21 hari menghasilkan silase yang bertekstur padat dibanding dengan lama ensilase 28 hari.

Kalau mau membuat silase dari gedebog pisang hal-hal yang harus diperhatikan adalah perlu ditambahkan bahan lain seperti dedak padi, tepung gaplek, dan molases.

Dari ketiga bahan tambahan tersebut yang terbaik adalah molases. Lama pemeraman silase yang paling optimal adalah selama 21 hari.

Sumber:

Santi,R. K. , D. Fatmasari, S. D. Widyawati, dan W. P. S. Suprayogi.2012.Kualitas dan Nilai Kecernaan In Vitro Silase Batang Pisang (Musa paradisiaca) dengan Penambahan Beberapa Akselerator. Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret. Tropical Animal Husbandry Vol. 1 (1)

bantu kami dengan like dan share artikel ini. terima kasih

Silahkan share di:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan komentar