Batang Pisang Fermentasi, Untuk Kambing, Domba, Sapi Kah??

Silahkan share di:

Ini adalah postingan pertama saya yang membahas tentang Batang pisang atau Gedebog pisang.

Beberapa waktu yang telah lampau batang pisang/gedebog pisang menjadi topik bahasan yang sempat viral. Untuk yang peternak kambing mungkin sudah memahami apa yang saya maksudkan.

Postingan saya kali ini tidak untuk membahas viralnya gedebog pisang itu, melainkan seperti biasanya saja. Karena background saya yang bukan dari peternakan, saya hanya bisa menulis kalau ada jurnal penelitian atau jurnal publikasi saja.

Ada sebuah penelitian dari peneliti-peneliti Program Studi Peternakan UNS yang meneliti tentang gedebog pisang/batang pisang.

Batang pisang/gedebog pisang tidak untuk diujikan ke hewan ternak langsung melainkan hanya diuji secara laboratorium.

Batang pisang/gedebog pisang dibuat dalam bentuk silase.

Ada yang hanya murni gedebog pisang dan ada yang gedebok pisang ditambah dengan bahan-bahan yang lainnya. Setelah itu gedebog pisang/batang pisang diuji dan diketahui hasilnya.

Membuat silase Batang Pisang/Gedebog Pisang

Kandungan batang pisang dari Laboratorium Ilmu Nutrisi Makanan Ternak UNS memiliki kandungan nutrien bahan kering (BK) 87,7%, abu 25,12%, lemak kasar (LK) 14,23%, serat kasar (SK) 29,40%, protein kasar (PK) 3,01% dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) 28,24%.

Kekurangan-kekurangan dari gedebog pisang adalah:

kadang air yang tinggi, membuat cepat busuk dan mudah tercemar bakteri
serat kasar tinggi dan karbohidratnya sulit untuk dicerna
Cara pembuatan fermentasi silase batang pisang/gedebog pisang adalah sebagai berikut:

Batang pisang yang digunakan adalah batang pisang Kepok. Batang pisang dipotong-potong ukuran sekitar 5 cm dan dilayukan selama  1-2 hari sampai kadar air 60-70%.

Batang pisang ditimbang seberat 1000 gram atau 1 kg. Jumlahnya sedikit karena mungkin ini hanya skala penelitian.

Kemudian batang pisang tadi, ada yang ditambah dengan dedak padi, molases dan tepung gaplek. Bakteri fermentasi yang digunakan adalah EM4 sebanyak 1,5 ml untuk tiap-tiap variasi.

Variasi penelitiannya sebagai berikut:

Batang pisang+ tanpa akselerator + 21 hari
Batang pisang+ tanpa akselerator + 28 hari
Batang pisang+ dedak padi 10%+ 21 hari
Batang pisang+ dedak padi 10%+ 28 hari
Batang pisang+ molases 10%+ 21 hari
Batang pisang+ molases 10%+ 28 hari
Batang pisang+ tepung gaplek 10%+ 21hari
Batang pisang+ tepung gaplek 10%+ 28 hari
Tanpa akselerator maksudnya adalah hanya batang pisang dan EM4. 21 hari dan 28 hari adalah keterangan dalam lama waktu pemeraman silase.

Hasil

Secara umum hasil yang didapatkan dari penelitian ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Klik gambar untuk melihat lebih jelas.

langsung saja penjelasannya seperti ini:

Bau Silase

Bau harum keasaman seperti bau tape merupakan ciri khas silase yang baik.

Penambahan akselerator tepung gaplek dan molases menghasilkan silase yang baik dari segi bau yaitu asam seperti khas tape.

Hal ini dikarenakan tepung gaplek mengandung pati. Selama proses ensilase, pati yang terkandung didalam tepung gaplek diubah menjadi gula melalui proses sakarisasi sebelum proses fermentasi.

Karbohidrat dalam molases mudah dimanfaatkan mikroba selama proses fermentasi berlangsung untuk memproduksi asam laktat dan menyebabkan penurunan pH yang menghasilkan silase berbau asam.

Silase batang pisang yang ditambah dedak padi menghasilkan bau silase yang tidak berbau.

Hal ini dikarenakan karbohidrat yang terdapat pada dedak padi (pati dan selulosa), serta SK 11,6% dan BETN 48,3% yang menyebabkan penguraian karbohidrat oleh bakteri asam laktat (BAL) untuk memproduksi asam laktat tercapainya lambat sehingga pH yang dihasilkan diatas 4.

Silase batang pisang tanpa akselerator menghasilkan bau busuk.

Hal ini dikarenakan BETN dari batang pisang hanya 28,24% sehingga BAL kurang mendapatkan karbohidrat yang mudah larut untuk memproduksi asam laktat.

Akibatnya, bakteri yang berkembang dalam proses ensilase adalah bakteri Clostridia yang menghasilkan asam butirat yang menyebabkan silase menjadi berbau busuk.

Tujuan penambahan akselerator diantaranya yaitu untuk mendapatkan karbohidrat mudah terfermentasikan sebagai sumber energi bagi bakteri yang berperan dalam fermentasi sehingga mencepat kondisi asam dan menghambat pertumbuhan beberapa jenis bakteri lain dan jamur yang tidak dikehendaki.

Warna Silase

Warna silase yang dihasilkan silase batang pisang tanpa akselerator yaitu kehitaman.

Perubahan warna yang terjadi pada silase batang pisang tanpa akselerator dikarenakan ketika silase batang pisang mulai dimasukkan didalam silo, jaringan tanaman tersebut masih hidup dan melakukan respirasi secara aktif serta menghasilkan air, CO2, dan panas.

Panas yang dihasilkan mengakibatkan peningkatan temperatur di dalam silo yang menyebabkan perubahan warna silase menjadi kehitaman/busuk.

Fase anaerobik dapat dengan cepat dicapai pada silase batang pisang yang ditambahkan dedak padi, molases, tepung gaplek karena bakteri penghasil asam laktat memanfaatkan karbohidrat mudah larut pada akselerator tersebut untuk menurunkan pH silase sehingga warna silase yang dihasilkan berwarna coklat tua sampai coklat muda.

Jamur

Jamur yang dihasilkan silase batang pisang yang ditambah molases yaitu tidak ada jamur, sedangkan silase batang pisang yang ditambahkan dedak padi dan tepung gaplek menghasilkan silase yang jamurnya cukup.

Hal ini dikarenakan fase anaerobik dapat dengan cepat dicapai karena bakteri penghasil asam laktat (Lactobacillus) memanfaatkan penambahan akselerator dedak padi, molases, tepung gaplek untuk menurunkan pH sehingga jamur, maupun bakteri pembusuk tidak berkembang.

Silase batang pisang tanpa akselerator menghasilkan silase yang tidak ada jamur tetapi berbau busuk.

Tekstur

Tekstur silase yang dihasilkan silase batang pisang tanpa akselerator yaitu lembek.

Hal ini terjadi karena pada saat fase aerob yang terjadi pada awal ensilase terlalu lama sehingga panas yang dihasilkan terlalu tinggi menyebabkan penguapan pada silo.

Sedangkan pada silase batang pisang yang ditambah akselerator dedak padi, molases,dan tepung gaplek bertekstur padat dikarenakan tekstur dedak padi dan tepung gaplek yang halus dapat menguntungkan untuk mencegah kebocoran silo selama ensilase sehingga fermentasi anaerob dapat berlangsung sempurna.

Serta BETN dari dedak padi, molases, tepung gaplek masingmasing adalah 48,7%; 74% dan 76,3% sehingga bakteri seperti Lactobacillus plantarum dapat menfermentasi karbohidrat mudah larut menjadi asam laktat.

Lama ensilase 21 hari menghasilkan silase yang bertekstur padat dibanding dengan lama ensilase 28 hari.

Kalau mau membuat silase dari gedebog pisang hal-hal yang harus diperhatikan adalah perlu ditambahkan bahan lain seperti dedak padi, tepung gaplek, dan molases.

Dari ketiga bahan tambahan tersebut yang terbaik adalah molases. Lama pemeraman silase yang paling optimal adalah selama 21 hari.

Sumber:

Santi,R. K. , D. Fatmasari, S. D. Widyawati, dan W. P. S. Suprayogi.2012.Kualitas dan Nilai Kecernaan In Vitro Silase Batang Pisang (Musa paradisiaca) dengan Penambahan Beberapa Akselerator. Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret. Tropical Animal Husbandry Vol. 1 (1)

bantu kami dengan like dan share artikel ini. terima kasih

(Visited 1.824 times, 6 visits today)
Silahkan share di:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan komentar