Cara Baru, Mengubah manajemen menyimpan Pakan Ternak Kambing, Domba & Sapi

SHARE:

Mengejar peluang keberhasilan

Manajemen pakan ternak adalah hal kunci supaya ternak bisa berhasil. Kalau kita berhasil di bagian ini, 70% usaha kita bisa dibilang berhasil.

Meskipun yang 30% bisa menghancurkan semuanya, tapi seandainya kita sudah tidak ada masalah dalam hal pakan, peluang sukses menjadi lebih besar.

Peluang tersebutlah yang harus kita kejar. Sehingga, sampai sekarang akan selalu bermunculan cara dan metode untuk mengatur pakan ternak supaya lebih efektif.

Ditemukan metode baru yang menurut saya lebih efektif dalam mengatur pakan ternak.

Metode tersebut adalah menyimpan dan membuat pakan ternak sapi atau ruminansia lain dalam bentuk wafer pakan ternak.

Wafer pakan ternak ini sudah agak lama ditemukannya, tapi belum buming aja sepertinya.

Populeritasnya masih kalah dengan pakan fermentasi.

Mungkin karena metode ini cukup sulit dijual secara massal, karena tidak cukup hanya dengan speak speak saja (omong – omong doang).

Lihat saja, cara membuat wafer pakan ternak ini di artikel yang sudah saya tulis sebelumnya.

Bisa membuat wafer pakan ternak dari limbah tani dan sayuran.

Untuk membuat wafer, dibutuhkan peralatan yang cukup memadai. Sudah saya jelaskan di artikel tersebut.

Bayangkan saja, kalau disetiap presentasi penjualan harus mengadakan semua peralatan tersebut. Pasti repot dan melelahkan.

Berbeda dengan menjual metode fermentasi. Hanya butuh botol plastik dan sedikit presentasi yang memikat.

Dan, jualan bisa dilakukan.

Jadi, postingan ini hanya akan menguatkan artikel saya sebelumnya. Bahwa cara manajemen pakan ternak ini real, tidak ada “ajaib – ajaibnya”.

Penelitian tentang wafer pakan ternak ini diperkenalkan oleh guru besar dari Universitas Negeri ternama di Indonesia.

Jadi, apa ya…Bukannya tidak obyektif, saya hanya menyukai cara manajemen pakan ternak yang satu ini.

Yang Membuat Wafer pakan ternak layak disukai

1 . Sangat Praktis

Pakan ternak wafer itu tidak ada bedanya dengan pakan ternak pada umumnya. Ada kandungan proteinnya, serat, lemak, mineral dan vitaminnya.

Ya,,,meskipun itu tergantung dari selera pembuatnya sih. Mau nutrisi tersebut dimasukkan atau tidak.

Perbedaannya adalah wafer adalah wafer pakan ternak tersusun dari campuran bahan yang berkualitas kemudian dipress sehingga menjadi lebih padat.

Karena lebih padat, ia lebih ringkas. Padat tapi tidak terlalu keras sehingga kalau dimakan dan terkena air ludah ternak, bisa mudah hancur.

Dengan tekstur yang padat otomatis penyimpanan tidak membutuhkan ruang yang besar. Wafer pakan ternak ini mimiliki kepadatan 0,5 – 0,6 gram/cm3 nya.[1]

Sehingga, per meter kubiknya mampu menyimpan pakan wafer sebanyak 500 – 600 kg.

Ini bisa menghemat ruang untuk gudang pakan. Karena ruangnya yang dibutuhkan kecil, maka biaya untuk mengamankan stok pakan juga bisa lebih ditekan.

2 . Bersama – sama lebih ringan

Kalau tidak berkantong tebal, mengadakan peralatan untuk membuat wafer pakan ternak untuk sapi atau kambing ini sangat berat.

Butuh investasi alat yang tidak main – main. Alat – alat nya bisa dilihat di artikel sebelumnya. Ini linknya.

Bisa membuat wafer pakan ternak dari limbah tani dan sayuran.

Akan tetapi, kalau para peternak dalam satu wilayah bersatu dan membentuk kelompok ternak, mungkin semua itu bisa terwujud.

Daripada uangnya buat bikin alat, mending saya belikan kambing saja atau sapi.

Itu adalah pemikiran yang bagus. Tapi berternak bukan kegiatan sebulan tiga bulan atau setahun dua tahun. Kalau bisa ya, sampai bertahun – tahun kalau memang minat dan bakatnya di situ.

Perlu diingat juga, kebutuhan daging itu akan selalu naik. Kalau sering bertemu dan berdiskusi antar sesama peternak, lama – lama bakalan tahu gimana supaya hasil ternak bisa terjual dengan layak.

Semakin lama, lahan pengaritan akan semakin sempit.

Penjualan lahan untuk kavling dan perumahan baru, semakin lama tidak semakin mereda. Akan tetapi semakin meningkat.

Hal tersebut sudah terjadi bahkan di kota – kota kecil sampai pedesaan.

Berarti nanti, ngaritnya semakin jauh. Harus ke hutan dulu. Kalau rumahnya dipinggir hutan sih tidak masalah.

Belum lagi, kalau saat musim kemarau. Rumput dan hijauan tumbuh lambat sehingga ngarit menjadi semakin lebih sulit.

3 . Wafer untuk menyimpan pakan, bukan ransum komplit

Membuat wafer memang akan lebih efisien kalau kandungan nutrisinya komplit. Berarti bahannya harus ada konsentrat.

Tapi menurut saya itu lebih cocok untuk penggemukan. Karena pakannya berupa konsentrat dan sumber serat ( misalnya jerami kering).

Tapi tidak semua peternak melakukan penggemukan kan?

Lebih banyak peternak yang ingin pakannya tidak beli, alias harus ngarit.

Wafer ini tidak harus terbuat dari rumput, odot, rumput gajah, atau konsentrat.

Pakan ternak dalam bentuk wafer ini dibuat untuk mengatasi limbah organik yang sekiranya masih bisa untuk dibuat pakan ternak.

Jadi, yang hobi ngarit masih bisa ngarit. Tetap ngarit dan bersama – sama, bekerja sama untuk mendatangkan limbah pasar buat dijadikan pakan.

Limbah sayuran misalnya, kandungan nutrisinya cukup bagus. Protein kasarnya tinggi dan seratnya rendah.

Setengah hari saja, sayuran sudah layu. Cepat sekali busuknya.

Kalau ini bisa dikeringkan dan ditambah bahan lain supaya lebih disukai ternak, sudah bisa dibuta wafer.

Ada kok, penelitian tentang ini. Artinya pemberian konsentrat dilakukan secara terpisah. Jadi, kalau mau ngasih konsentrat silahkan atau diberi hijauan hasil ngarit juga oke.

Daripada limbah ini dibuat dalam bentuk silase atau fermentasi, saya lebih suka kalau dibuat wafer.

Silase dan fermentasi itu merepotkan. Boros ruang (banyak ember – ember, tong – tong dan plastik – plastik) dan juga waktu.

Selain itu resiko berjamur juga lebih tinggi.

Pakan wafer untuk pakan ternak domba

Bahkan untuk ternak domba, wafer ini bisa menggantikan rumput lapang 100%.[2] Wafernya terbuat dari limbah sayuran yang terdiri dari klobot jagung, kecambah tauge, dan daun kembang kol.

Artinya, saat rumput lapang sedang sulit, perkembangan domba tidak ada perbedaan yang signifikan dengan yang diberi rumput lapang. Bahkan, pertambaha bobot harian domba lebih tinggi dengan adanya tambahan wafer ini.

Jadi, saat kodisi sedang kepepet, kasih wafer aja dombanya sebenarnya tidak masalah.

Atau, bisa dikombinasikan antara pemberian rumput da wafer sehingga lebih hemat tenaga untuk ngaritnya.

Hasil tersebut diambil dari penelitian yang dilakukan terhadap 9 ekor domba yang dalam program penggemukan.

Berarti pakannya berupa kosentrat dan wafer. Wafernya ini, diberikan dalam bentuk 3 macam.

Pertama, wafer yang terbuat dari 100% rumput lapang. Kedua, wafer dibuat dari 50% rumput lapang dan 50% nya lagi limbah sayuran. Ketiga, wafer murni dari limbah sayuran saja.

Selama 6 minggu penelitian, kesimpulan data yang diperoleh bisa dilihat pada gambar di bawah ini.

Pakan Wafer untuk pakan ternak kambing

Dengan pakan sama seperti yang di atas, kalau domba performanya bisa bagus, saya kira buat kambing juga bagus.

Tapi kalau belum ada penelitiannya, rasanya kurang mantap untuk disampaikan di sini.

Meskipun saya yakin, dengan ransum konsentrat dan wafer seperti domba di atas, pertumbuhan kambing juga insyaAllah bagus.

Tapi saya akan menyampaikan penelitian yang lain yang pernah dilakukan.

Kali ini wafer dibuat dari ransum yang sudah komplit untuk kandungan nutrisinya. Sumber protein, lemak dan serat dicetak dijadikan satu.

Yang menarik adalah sumber serat yang digunakan untuk wafer adalah tongkol jagung.[3]

Komposisi dari ransum komplitnya terdiri dari tongkol jagung, dedak padi, bungkil kelapa, ampas tahu, tepung jagung, tepung tapioka, NaCl, mineral dan vitamin.

Untuk tongkol jagungnnya divariasi mulai dari 30% – 45%.

Dan setelah dilakukan penelitian selama 48 hari, data yang diperoleh seperti ini.

Kesimpulan

# Saya kira perlu digaris bawahi bahwa wafer pakan ternak ini tidak seperti fermentasi atau silase.

Wafer ini tidak membuat suatu bahan pakan kualitasnya menjadi lebih baik.

Pakan ini hanyalah salah satu metode penyimpanan atau manajemen stok pakan. Pakan wafer ini bisa digunakan untuk mengatasi masalah stok pakan yang berlebih tapi cepat busuk.

Bisa pakan hijauan atau limbah pasar bahkan untuk ransum komplit juga bisa.

Kualitas nutrisi dari pakan wafer tergantung dari kualitas bahan ransum yang dipakai untuk membuatnya.

Kalau bahannya ecek – ecek, maka pakan wafernya juga berkualitas rendah.

Referensi

[1] Y. Retnani*, W. Widiarti, I. Amiroh, L. Herawati & K.B. Satoto. Daya Simpan dan Palatabilitas Wafer Ransum Komplit Pucuk dan Ampas Tebu untuk Sapi Pedet. Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Media Peternakan, Agustus 2009, hlm. 130-136.

[2] Kamesworo, Sondhy. 2009.Pemberian Wafer Limbah Sayuran Pasar Terhadap Konsumsi, Pertambahan Bobot Badan dan Konversi Pakan Ternak Domba. Skripsi. Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

[3] Indayani, Dian. 2014. Pengaruh Pemberian Wafer Pakan Komplit yang Mengandung Berbagai Level Tongkol Jagung Terhadap Konsumsi Bahan Kering, Bahan Organik, dan Protein Kasar Pada Kambing Kacang Jantan. Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin Makassar.

SHARE:

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. Lekyo berkata:

    Saya sudah baca linknya, beritane mbulet mbulet, kalau dibocorkan sedikit saja bagaimana cara membuat dodol temulawak ini mungkin akan lebih bermanfaat.

  2. Neza Secoria berkata:

    sekarang ada inovasi baru nih dari dosen Unair yaitu khasiat temulawak untuk pakan ternak loh, yuk cek link di bawah :
    http://news.unair.ac.id/2018/08/10/dosen-unair-kenalkan-khasiat-temulawak-untuk-pakan-ternak/

PIYE MENURUTMU LUR?