Cara Membuat Pupuk Organik Cair Dari Kotoran Sapi

Silahkan share di:

Kenapa harus pupuk organik cair?

Pupuk organik cair itu pupuk seperti pada umumnya, namun bentuknya cairan. Bahan pembuatannya juga dari bahan – bahan alami.

Misalnya, dari kotoran hewan ternak seperti sapi, kambing, kelinci, kuda, kerbau dan ayam. Atau bisa juga dibuat dari limbah sayur – sayuran.

Bagi tanaman, sebenarnya tidak ada bedanya antara pupuk organik maupun anorganik. Fungsinya sama saja.

Tanaman hanya membutuhkan unsur hara yang terkandung dalam pupuk. Diantaranya seperti nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K) dan seterusnya.

Nitrogen dari pupuk organik dan Nitrogen dari pupuk kimia itu sama kan? Pasti sama. Sama – sama unsur Nitrogen.

Yang membedakan, bagaimana unsur nitrogen tersebut tersaji untuk tanaman. Dan setelah tanaman mengambil unsur tersebut, ada yang tersisa tidak dari pupuk tersebut.

Kalau ada, bagaimana efeknya?

Kelebihan dari pupuk organik cair ini adalah unsur hara makro dan mikro tersaji dalam bentuk larutan. Kalau ini diberikan kepada tanaman, maka akan lebih cepat terserap oleh tanaman.

Sehingga, dengan pemberian dan pengaturan lingkungan tanaman yang pas, tanaman akan tumbuh dengan pesat.

Kebanyakan, pupuk organik cair ini digunakan untuk pertanian hidroponik. Media tanam dari pertanian hidroponik, sangat terdukung dengan pupuk organik cair ini.

Bagi lingkungan, pupuk organik ini benar – benar dibutuhkan. Kita manusia, itu juga bagian dari lingkungannya pupuk organik lho.

Maksud saya seperti ini.

Penggunaan pupuk anorganik, efeknya kurang baik bagi lingkungan kalau digunakan dalam jangka panjang.

Residu atau unsur yang tertinggal dari pupuk anorganik secara perlahan tapi pasti bisa membuat lingkungan menjadi kurang produktif.

Hal ini terjadi dengan proses yang sangat akademik dan rumit.Kemudian, penggunaan pupuk organik menjadi topik hangat diperbincangkan.

Hal ini karena bahan lain yang tidak dibutuhkan oleh tanaman dari pupuk organik, bisa terurai secara alami. Sehingga, meskipun digunakan dalam jangka panjang, tidak akan memberikan efek negatif apapun.

Pupuk organik di pedesaan

pupuk organik cair di pedesaan masih belum familiar

Semua petani di desa pada tahu kalau pupuk organik itu lebih baik. Istilah lokalnya pupuk organik itu adalah “Rabok”.

Rabok itu adalah pupuk yang berasal dari tumpukan kotoran hewan. Seperti sapi dan kambing.

Tapi apa coba?

Meskipun mereka tahu kalau pupuk organik itu baik, nyatanya hanya sedikit yang mau menggunakannya.

Seolah – olah petani itu terhipnotis dengan pupuk anorganik. Semacam ada kurang yakin hasil pertaniannya kurang bagus kalau tidak pakai pupuk organik.

Memang, pupuk kimia hasilnya langsung bisa terlihat dalam satu periode tanam. Sedangkan pupuk organik reaksinya lebih lambat.

Selain itu, pupuk kimia lebih praktis dan cepat. Butuhnya kapan, beli, langsung bisa dipakai.

Ketersediannya juga merata hampir di setiap desa ada penjualnya. Ya meskipun kadang langka juga sih.

Pupuk kimia juga dikemas dengan rapi, tidak kotor dan petani tidak perlu ruang yang besar untuk menyimpannya.

Inilah saya kira yang menjadi kelemahan dari pupuk organik, khususnya di pedesaan.

Pertama, tidak semua petani itu punya hewan peliharaan ternak. Meskipun ada, biasanya hanya satu atau dua ekor.

Jadi, tidak semua petani punya sumber pupuk organik untuk pertaniannya.

Kedua, kebanyakan petani tidak punya ruang untuk menyimpan pupuk organik ini.

pupuk organik padat butuh ruang penyimpanan yang besar

Tentu saja. Data dari PT. Petrokimia Gresik misalnya, per hektar hanya butuh 300 kg untuk pupuk dasar padi.

Itu terdiri dari 100 kg urea, 125 kg SP-36 dan 75 kg KCL. Itu kan hanya butuh 6 karung pupuk. Kalau disimpan di pojokan rumah saja sudah cukup.

Bayangkan kalau harus pakai pupuk organik. Untuk pupuk dasar, butuh jumlah yang banyak, sampai ton – tonan kalau ingin hasil yang sama.

Lima ton kotoran sapi, kalau sudah jadi kompos, volumenya sangat tinggi. Ini karena kandungan airnya sudah cukup berkurang.

Jika setiap rumah di desa punya simpanan pupuk sebanyak ini, sepertinya akan menjadi pemandangan yang aneh kan…

Ketiga, kurangnya informasi tentang pengolahan pupuk organik.

Kotoran ternak yang ditumpuk begitu saja, belum sepenuhnya bisa digunakan sebagai pupuk.

Karena setiap hari ada kotoran baru yang muncul. Kemudian ditumpuk di bagian atas.

Ketika saat pemupukan tiba, hanya pupuk bagian bawah yang sudah jadi kompos. Sedangkan bagian yang atas belum.

Ini mungkin yang menjadi sebab kenapa pupuk organik kinerjanya tidak secepat pupuk anorganik. Karena pupuk diberikan masih dalam kondisi mentah dan belum siap untuk diserap oleh tanaman.

Pupuk Organik Di Perkotaan

Kalau di kota, sumber pupuk organiknya berbeda dengan pupuk organik di pedesaan. Itu menurut pendapat saya.

Di kota, pupuk organik lebih cenderung ke pengolahan sampah organik. Seperti sisa sayuran dan limbah makanan rumah tangga.

Kalau harus mendapatkan bahan pupuk seperti di desa ya susah. Mana ada yang memelihara sapi di kota.

Kalaupun ada, itu mereka yang lokasi tinggalnya di pinggiran kota.

Diperkotaan itu kan warganya sibuk – sibuk ya. Meskipun waktunya sama – sama 24 jam, rasanya dikota waktu berjalan singkat.

(Meskipun saya tinggal di kota, tapi dulu besar di desa, :D)

Mungkin karena banyak terkena macet kali ya. Jadi waktu banyak terbuang di jalan.

Habis dijalan kena macet dan capek, mau bikin pupuk organik jadi males.

Kalau beli, harganya juga lumayan mahal.

Sebenarnya banyak sekali studi dan riset – riset yang bertemakan pupuk organik. Baik itu pupuk organik padat maupun cair.

Bahan yang digunakan pun bervariasi. Mulai dari kotoran ternak, yang mudah didapat di pedesaan, sampai sampah sayur.

Satu per satu nanti akan saya uraikan di sini, tepat setelah ini.

Standard mutu pupuk organik cair

pupuk organik cair harus memenuhi standar kualitas

Membuat pupuk organik cair itu mudah. Yang sulit itu kalau harus memenuhi standard kualitas SNI.

Banyak sekali informasi di internet yang menunjukkan cara bagaimana mudahnya membuat pupuk organik cair ini.

Akan tetapi, bukan berarti pupuk yang dibawah standard tidak bisa digunakan. Pupuknya tetap bisa digunakan.

Kandungan unsur haranya juga bisa dimanfaatkan oleh tanaman. Tetapi hasilnya kurang maksimal atau dibawah standard.

Menurut saya tidak masalah meskipun pupuk yang kita buat kualitasnya kurang. Toh..pupuknya kita pakai sendiri.

Kecuali, kalau tujuannya sebagai bisnis. Kepuasan pelanggan harus benar – benar dipertimbangkan.

Tapi sepertinya, peraturan menteri pertanian untuk standard pupuk organik cair ini cukup longgar menurut saya.[1]

Ini dia standarnya.

standar kualitas pupuk organik cair

Cara membuat pupuk organik cair dari kotoran sapi

Dari kotoran sapi, pupuk organik cair bisa dibuat dengan berbagai cara. Mulai dari yang sederhana sampai yang melibatkan proses biologi.

Berikut ini adalah cara – caranya.

Cara 1, membuat pupuk oganik cair tanpa fermentasi

Cara yang paling sederhana adalah dengan mencampur kotoran sapi dengan air.

Perbandingan antara feses sapi dan air adalah 1 : 2. Kalau kotoran sapinya 1 kg, airnya sekitar 2 kilo.

bahan untuk membuat pupuk organik cair

Ini bukan perbandingan yang baku, masih bisa diubah sesuai keinginan.

Akan tetapi, menurut penelitian yang pernah dilakukan, perbandingan tersebut adalah yang terbaik.[2]

Kemudian kedua bahan tersebut dicampur dan diaduk. Mengaduknya tidak hanya semenit dua menit. Melainkan jam – jaman.

Optimalnya pengadukan dilakukan selama 4 jam. Cukup sulit kalau dilakukan dengan tangan. Harus ada bantuan alat mekanik lain.

Setelah itu disaring atau dipisahkan antara bagian yang cair dan padat. Yang cair, jadi pupuk organik cair sedangkan yang padat menjadi pupuk organik padat.

proses penyaringan pupuk organik cair

Kalau Anda membuat pupuk cair dengan cara ini, C/N rasio nilainya sekitar 17. Sedangkan nilai pH nya 7.

Cukup bagus lah untuk kedua parameter tersebut. Tapi untuk jumlah unsur hara dan mikronya mungkin masih kurang.

Hal ini mungkin karena tidak ada proses biologis pada cara ini.

Meskipun begitu, kalau digunakan pada tanaman ternyata pupuk ini juga bisa memberikan pengaruh pertumbuhan yang cukup baik.

Pembuatan pupuk organik cair dengan cara ini telah dicoba pada tanaman kacang hijau dan kacang tolo. Tapi uji cobanya tidak lama, hanya 15 hari.

Selama waktu tersebut, pertumbuhan kacang tolo bisa 1,8 cm/hari sedangkan kacang hijau 1,79 cm/hari.[2]

Kelemahan dari cara ini adalah sulit kalau dilakukan tanpa menggunakan alat bantuan.

Cara 2, membuat pupuk organik cair dengan em4 dan mol

Cara yang kedua ini sedikit lebih ribet tapi lebih mudah daripada cara yang pertama.

Bahan – bahan yang dibutuhkan adalah kotoran sapi, air dan starter bakteri. Kalau memungkinkan bisa ditambah bahan lain seperti dedak dan gula pasir atau molases.

Starter bakteri banyak macemnya. Bisa menggunakan EM4, MOL, Starbio dan masih banyak yang lainnya.

em4 untuk membuat pupuk organik cair

Karena MOL pembahasannya cukup panjang, rencana akan saya buat dalam artikel tersendiri.

Update terus di blog ini pokoknya.

Sebelum dipakai, EM4 harus sudah diaktifkan terlebih dahulu. Cara mengaktifkannya bisa dilihat di artikel ini.

Cara membuat pupuk kompos dari kotoran sapi dengan em4.

Cara membuat kompos dari kotoran kambing dengan em4.

Setelah bakterinya aktif, sekarang kita bisa mulai membuat pupuk organik cairnya.

Pertama – tama kotoran sapi dicampur dengan air. Perbandingannya sama seperti pada cara 1.

Kalau kotoran sapinya 50 kg, maka airnya 100 liter.

Kemudian campuran tersebut diaduk sampai merata. Setelah tercampur, ditambahkan EM4 sebanyak 1 persen.

Kalau campurannya menjadi sebanyak 150 liter, maka EM4nya sebanyak 1,5 liter. EM4 nya yang sudah diaktifkan tadi.

Kemudian ditambah dedak padi dan gula pasir atau gula merah. Kalau ada, lebih hemat bisa pakai tetes tebu.

Setelah itu diaduk lagi dan disimpan dalam wadah tertutup selama 3 minggu. Setiap 3 hari dilakukan pengadukan.

Setelah 3 minggu berlalu, pupuk organik cair kemudian diaerasi selama 10 hari.

Kenapa harus diaerasi?

Sebelum diaerasi, kandungan pH nya sangat rendah. Untuk menaikkannya, bisa dilakukan dengan aerasi.

Yang terakhir, setelah diaerasi, pupuk organik cair bisa disaring.

Bagian yang cair digunakan sebagai pupuk organik cair sedangkan sisa saringan, bisa digunakan sebagai kompos padat.

Dari penelitian yang pernah dilakukan[3], kalau membuat pupuk cair seperti di atas, maka hasilnya kurang lebih seperti ini.

hasil pupuk organik cair dengan em4

Kualitas pupuk organik cair menurut penelitian yang pernah dilakukan adalah seperti itu. Sekarang tinggal dikroscek saja, apakah sudah memenuhi standard permentan atau belum.

Cara 3, membuat pupuk oganik cair dengan starter

Untuk hasil pupuk organik yang lebih baik, bisa mengikuti cara atau metode yang berikut ini.

Kali ini starter yang digunakan tidak EM4, melainkan Sacharomyces cerevisiae. Jamur yang satu ini belum terkenal untuk masyarakat umum.

Jadi, mungkin cukup sulit untuk mendapatkannya.

Tapi saya tidak ingin Anda mendapat kesulitan. Untuk mendapatkan starter ini, Anda bisa membelinya secara online. Sudah ada beberapa yang menjualnya. Bukan saya lho…

Kalau secara online tidak berhasil, Anda bisa mendaptkan starter ini pada ragi roti.

Tapi, mungkin kalau dari ragi roti tidak murni starter tersebut yang diperoleh. Kemungkinan ada ikutan beberapa jenis kapang yang lainnya.

Metode pembuatan pupuk organik cair yang ini lebih rumit lagi. Tapi, masih memungkinkan untuk dilakukan oleh masyarakat umum.

Langsung saja, langkah – langkahnya seperti ini.

Pertama – tama kotoran sapi ditambah dengan Kapang ini. Kapangnya sebanyak 0,2% dari jumlah kotoran sapi.

Kalau kotoran sapinya 10 kg, maka kapangnya sebanyak 0,02 kg atau 20 gram.

Kemudian dicampurkan sampai rata. Selanjutnya kotoran sapi dibuat kompos selama 1 minggu.

Cara pengomposannya bisa dilihat di sini.

Cara membuat kompos dari kotoran sapi dengan EM4.

Setelah proses pengomposan selesai, kompos tersebut diekstrak. Ekstrak ini dilakukan supaya unsur hara yang diperlukan oleh tanaman bisa terlalur ke dalam air.

Cara mengekstraknya menggunakan air panas. Jumlah air panasnya adalah 4 kali dari jumlah komposnya.

Kalau komposnya 10 kg, maka air panasnya sekitar 40 liter. Diaduk dan kemudian disaring.

Cairannya kemudian ditempatkan ke dalam wadah tertutup sambil diaerasi selama 2 bulan.

Selasai….

“Merebus air sebanyak 40 liter?”

Kalau ini sih bukan skala rumah tangga lagi, cukup sulit untuk diterapkan.

Tapi tunggu dulu.

Air yang digunakan adalah 4 kali lipat bukan?

Artinya, kalau kita membuat pupuk organik cair dari 1 kg kotoran sapi, kita bisa dapat setidaknya 4 liter poc.

OK…kalau begitu saya harap semua bisa menangkap apa yang saya maksudkan.

Dari sebuah penelitian yang pernah dilakukan, hasil dari pupuk organic cair ini adalah sebagai berikut.[4]

hasil pupuk organik cair dengan starter kapang

Sedikit lebih baik bukan, untuk hasilnya.

Kesimpulan

Kita tidak perlu terlalu ambil pusing dengan standard mutu yang telah ditetapkan oleh permentan terhadap pupuk organik cair ini.

Bagi saya, itu hanyalah peraturan untuk menjaga kepuasan konsumen terhadap produk pupuk organik cair yang ada di pasaran.

Kalau kita mau membuat pupuk organik cair, bukan untuk kita jual bukan?

Jadi, kalau ingin membuatnya, silahkan. Buat saja.

Sampai di sini dulu untuk artikel ini, sampai jumpa minggu depan untuk artikel berikutnya.

Referensi

[1] PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 70/Permentan/SR.140/10/2011

[2] Dewi, Putri Ratna & Kanevi Octova Paradita. 2010. Pembuatan Pupuk Organik Cair dari Kotoran Hewan (Sapi). Program Studi Diploma III Teknik Kimia Universitas Sebelas Maret Surakarta.

[3] Dedy Permana. 2011. Kualitas Pupuk Organik Cair dari Kotoran Sapi Pedaging yang Difermentasi Menggunakan Mikroorganisme Lokal. Skripsi. Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

[4] Tb.Benito A.K, Yuli A. H., Eulis T. M, dan Ellin Harlia. Pemanfaatan Feses Sapi Perah Menjadi Pupuk Cair dengan Penambahan Saccharomyces cerevisiae. Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran Bandung. Jurnal Ilmu Ternak, Desember 2013, Vol. 13, No. 2.

(Visited 666 times, 15 visits today)
Silahkan share di:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan komentar