3 Cara Mengatasi Layu Fusarium Pada Berbagai Tanaman

SHARE:

Layu fusarium

Layu fusarium adalah penyakit tanaman yang disebabkan oleh infeksi jamur atau cendawan Fusarium Oxysporum sp.

Beberapa penyakit tanaman termasuk layu fusarium telah saya tuliskan dalam artikel sebelumnya. Tapi kali ini kita akan fokus pada penyakit layu fusarium dan cara – cara untuk mengatasi atau mencegahnya.

Jamur ini berada dalam tanah. Menyerang tanaman melalui akar, kemudian masuk ke xylem dan mengganggu metabolisme tanaman.

Jamur ini bisa bertahan cukup lama di tahan. Bisa tahunan bahkan sampai puluhan tahun.

Oleh sebab itu, sepertinya cukup sulit untuk benar – benar bisa menghilangkan sumbernya.

Layu fusarium ini bisa menyerang cabai, tomat, kentang, terong, pisang dan beberapa tanaman lainnya.

Gejala tanaman yang terserang layu fusarium adalah daun yang mengalami kelayuan. Kemudian kering, gugur dan akhirnya tanaman mati.

Gejala layu fusarium pada tanaman cabai merah diawali dengan memucatnya tulang-tulang daun, terutama daun bagian atas, kemudian diikuti dengan merunduknya tangkai, dan akhirnya tanaman cabai merah menjadi layu secara keseluruhan.

cara mengatasi layu fusarium

Jamur Fusarium sp. menginfeksi dari akar lalu ke seluruh tanaman, melalui pembuluh xylem sehingga mengganggu proses transport air dan penyerapan nutrisi pada tanaman dan akhirnya tanaman menjadi layu.

Seharusnya langkah – langkah SOP penanaman yang baik sudah harus dilakukan di awal.

Misalnya memilih bibit dari varietas yang tahan terhadap layu fusarium, mamakai mulsa, irigasi yang baik dan langkah eradikasi.

Tapi itu semua sepertinya belum memberikan hasil yang memuaskan di lapangan. Akhirnya tetap saja penggunaan fungisida kimia kembali menjadi pilihan utama.

Karena lebih praktis dan kinerjanya juga lebih efetif. Ini terlepas dari bahaya atau tidak penggunaan fungisida kimia.

Alternatif menggunakan fungisida nabati dan beberapa jamur antagonis mulai diperkenalkan dan banyak diteliti.

Kembali lagi, ketika hasil di laborat di lemparkan ke lapangan efisiensi mulai diperbandingkan.

Antara dari segi kemampuan membasmi penyakit dan biaya.

Mungkin dari segi efektifitas membasmi penyakit antara fungisida nabati dan kimia bisa bersaing.

Tapi dari segi efisiensi waktu dan biaya, apakah ini pernah di analisa?

Setelah ini kita bisa membandingkan hal tersebut. Jika kita bisa mengetahui perbandingannya, kita bisa memahami keputusan para petani untuk lebih menggunakan fungisida kimia.

Bertani skala laborat, hobi dan perkebunan itu berbeda.

Skala laboratorium, yang penting mendapatkan data dari fungisida ataupun metode yang sedang di uji.

Entah itu mahal atau tidak, itu dibahas di judul yang lain dalam riset yang berbeda. Biasanya seperti itu. Begitu juga dengan hobi, yang penting tanamannya sehat dan berhasil berbuah.

Tapi, skala kebuh yang besar tekanannya berbeda. Jika tanamannya tidak berhasil, ekonomi keluarga menjadi taruhannya.

Maka petani harus melakukan langkah – langkah yang efektif, hemat waktu dan tingkat keberhasilannya tinggi.

Cara mengatasi layu fusarium pada tanaman

Ada tiga cara yang sekarang ini cukup efektif untuk mengatasi layu fusarium. Baik itu layu fusarium pada cabai, tomat, kentang, pisang, atau tanaman yang lainnya.

Mengenai sop dasar cara menanam, ini diluar itu. Kita sudah berada dilangkah selanjutnya.

Ketiga cara mengatasi layu fusarium yang akan saya sebutkan adalah:

  1. Menggunakan fungisida kimia.
  2. Fungisida nabati dan.
  3. Jamur antagonis layu fusarium.

Mari kita bahas satu per satu dengan lebih jelas.

1 . Fungisida kimia untuk layu fusarium

Kita tidak perlu membahas banyak tentang fungisida kimia ini. Karena sudah jelas berbagai merek fungisida yang bisa kita temui di pasaran fungsinya adalah untuk mengatasi layu fusarium.

Mengenai merk dan bahan aktifnya bisa dicari sendiri. Infonya banyak tersedia secara online.

Kita akan mengambil satu contoh fungisida yang benar – benar fungisida kimia. Kalau Anda mencari dan menemukan keterangan dibuat dari thricoderma sp, itu bukan fungisida kimia.

Melainkan jamur antagonis yang memang untuk melawan jamur fusarium secara alami. Itu akan kita bahas nanti.

Cara sederhana untuk membandingkan dengan fungisida nabati adalah dengan melihat dosis penggunaannya.

Rata – rata, dosis untuk fungisida kimia ini adalah 1 – 2 ml untuk setiap 1 liter air.

Misalnya kita membeli dengan kemasan 200 mL, maka kita bisa mendapat fungisida siap semprot sebanyak 200 liter.

Kita catat harganya misalnya 60.000 rupiah.

Dalam hal ini kita tidak meragukan kemampuan fungisida kimia ini. Anggap saja efektifitas dalam membunuh jamur di atas 70%.

Kita langsung ke langkah ke 2 dalam cara mengatasi layu fusarium.

2 . Fungisida nabati untuk layu fusarium

Ada beberapa tanaman herbal yang bisa digunakan sebagai fungisida nabati. Tanaman – tanaman herbal ini diambil bagian yang memungkinkan untuk mendapatkan ekstraknya.

Biasanya yang paling mudah digunakan adalah daun dan umbinya.

Bagian dari tanaman herbal yang bisa digunakan sebagai fungisida nabati adalah:

  1. Daun pepaya.
  2. Daun sirsak.
  3. Daun jeruk purut.
  4. Daun nimba.
  5. Daun ketapang.
  6. Daun cengkeh.
  7. Kulit jati.
  8. Kulit pinus.
  9. Chitosan (kulit udang).
  10. Bayam duri.
  11. Bawang putih.
  12. Jawer kotok.
  13. Kangkung.
  14. Ekstrak sirih.
  15. Serai wangi.
  16. Cengkeh.
  17. Daun Brotowali.

Meskipun memiliki kemampuan dalam mengatasi layu fusarium yang berbeda – beda, tanaman herbal di atas bisa menjadi pilihan yang sangat baik.

Semua herbal di atas memiliki kemampuan dalam menghambat perkembangan jamur fusarium.

Tapi, rata – rata tidak sampai memberikan performa yang sempurna 100%.

Selain itu, banyak metode – metode pengekstrakan yang sangat teknis laboratorium, sehingga akan sulit untuk diaplikasikan langsung ke petani.

Kita akan melihat beberapa saja, yang diuji secara invivo dan metodenya sederhana.

Maksud dari in vivo di sini adalah fungisida herbal benar – benar di terapkan ke tanaman percobaan.

Jadi ada tanamannya, kemudian tanaman diinfeksi secara sengaja dengan jamur fusarium. Setelah itu, fungisida nabati di berikan. Seperti itu.

Yang harus dimengerti adalah jamur fusarium ini kan menyerang dari akar kemudian masuk ke pembuluh xylem tanaman.

Maka keberadaan jamur ini ada di dalam jaringan tanaman. Fungisida kontak mungkin kurang efektif terhadap jamur fusarium ini.

Karena jamur tidak berada di permukaan tanaman, melainkan di dalam jaringan tanaman. Berbeda dengan jamur penyebab bercak daun. Ia menyerang tanaman dari luar. Sehingga, fungisida kontak mungkin akan bekerja lebih efektif.

Pemberian fungisida nabati rata – rata dicampurkan atau dimasukkan ke media tanah.

Logikanya ya itu tadi. Fungisida diharapkan bisa menekan perkembangan jamur fusarium langsung ke sumber mereka.

Fungisida daun brotowali untuk jamur fusarium

Cara membuat fungisida nabati dari daun brotowali adalah:

  1. Daun brotowali dibersihkan dan dicuci bersih.
  2. Daun dikering anginkan (pengeringan tanpa penjemuran).
  3. Daun kemudian di giling halus.
  4. Direndam selama 72 jam dengan ethil acetat.
  5. Setelah itu dilakukan 2 kali penyaringan, filtrat yang diperoleh melalui penyaringan diuapkan dengan vacum rotary evaporator pada suhu 40 oC dengan memisahkan solven dengan ekstrak.[3]

Seperti itu.

Kalau dirasa sulit ya tinggal langkah 4 dan 5 dihilangkan. Daun brotowali yang sudah digiling halus langsung diaplikasikan ke media tanaman.

Yaitu sebanyak 50 gram per lubang tanam.

Yang tidak kalah penting adalah data yang diperoleh dari riset ini.

Selama lima minggu pengamatan terhadap tanaman cabai, performa terbaik diperoleh fungisida kimia.

Dari 10 tanaman cabai semuanya bisa hidup dan bertahan sampai usia 5 minggu pengamatan.

Sedangkan penggunaan ekstrak daun brotowali 5%, mulai minggu ke 4 mulai ada tanaman yang mati.

Hingga minggu ke 5, hanya 70% atau 7 tanaman yang masih bertahan.

Artinya apa? Pemberian fungisida nabati harus diberikan secara periodik jika ingin bisa bersaing dengan fungisida kimia.

Karena bahan aktif dalam fungisida nabati mudah tercuci dan hanyut bersama air penyiraman. Ini tidak hanya untuk fungisida dari daun brotowali, semua jenis fungisida nabati kandungan bahan aktifnya mudah tercuci oleh air alias hanyut atau amblas.

Fungisida daun nimba, daun cengkeh dan daun sirsak

Kebetulan daun cengkeh, daun nimba dan daun sirsak yang dibuat sebagai fungisida nabati ini dibuat dengan cara yang sederhana.

Meskipun dengan cara sederhana, daun – daun dari tanaman tersebut cukup mampu untuk menekan serangan layu fusarium.

Memang hasilnya tidak sebaik fungisida kimia yang lebih mampu menekan jamur fusarium dalam waktu yang lebih lama.

Caranya membuat fungisida nabati dari daun nimba, daun cengkeh dan daun sirsak ini adalah sebagai berikut:

  1. Daun sirsak, nimba dan cengkeh masing – masing dikeringanginkan selama 7 hari.
  2. Setelah itu dihaluskan dengan menggunakan blender dan diayak dengan menggunakan ayakan 60 mesh.
  3. Kemudian tepung daun tersebut diberikan ke tanaman dengan cara dibenamkan ke media tanam sebanyak 50 gram/tanaman.[4]

Kemudian selama 42 hari pengamatan fungisida nabati ini tidak banyak memberikan pertolongan kepada tanaman yang terserang layu fusarium.

Rata – rata hanya setengah (sekitar 50%) dari tanaman percobaan yang bisa diselamatkan. Sisanya, masih terserang layu fusarium dan mengalami kelayuan.

Oleh sebab itu, kita langsung saja ke cara mengatasi layu fusarium yang lebih mutakhir yaitu dengan musuh alami.

Mengatasi layu fusarium dengan thricoderma sp

Jamur dilawan dengan jamur. Itulah kira – kira konsepnya.

Secara jangka panjang menurut saya ini lebih memungkinkan karena jamur antagonis yang digunakan untuk melawan fusarium ini aktif.

Artinya aktif adalah mereka akan selalu berada dalam tanah dan bisa berkembang secara terus menerus. Secara langsung, dengan mereka terus berkembang dalam tanah maka otomatis penekanan terhadap perkembangan cendawan fusarium juga terus berlangsung.

Jenis jamur yang sekarang ini paling efektif dalam melawan jamur fusarium secara efektif adalah jamur thricoderma sp.

Secara alami, jamur thricoderma sp ini sudah ada pada tanah. Yaitu pada daerah sekitar perakaran tanaman yang sehat.

Keberadaan jamur thricoderma ini bisa menghambat jamur patogen fusarium melalui cara antibiosis dan secara fisik.

Mekanisme antibiosis terjadi dengan cara jamur Trichoderma sp. mengeluarkan senyawa antibiotik yang dapat menghambat pertumbuhan jamur lain.

Selain itu, jamur thricoderma sp. Mampu menghasilkan enzim hidrolitik, kitinase dan selulase.

Enzim – enzim tersebut bisa merusak sel jamur lain diantaranya adalah jamur fusarium.

Sedangkan secara fisik, jamur thricoderma bisa menghambat cendawan fusarium melalui kompetisi ruang, kompetisi nutrisi dan mikoparasit.

Maksudnya adalah ketika ada 2 organisme atau lebih yang hidup dalam suatu tempat, maka mereka akan berkompetisi untuk bisa bertahan.

Entah itu satu akan mengalahkan yang lain, dengan cara mengusir atau bagaimana, entahlah. Mereka sangat kecil sekali.

Tapi yang jelas, hadirnya thricoderma sp itu tidak menguntungkan bagi jamur fusarium.

Ini sudah dibuktikan secara laborat maupun secara langsung ke beberapa jenis tanaman.

Dari sebuah penelitian, pemberian thricoderma sebanyak 50 gram per lubang tanam bisa mengatasi terjadinya layu fusarium pada tanaman tomat.[5]

Dalam hal ini thicoderma tersedia dalam bentuk serbuk. Tanaman di tanam dalam pot dengan massa atau jumlah media tanam sekitar 8 kg.

Jika ditanam di persawahan mungkin efektivitasnya akan berkurang. Karena area media tanam yang lebih luas. Berbeda dengan pot yang luasannya dibatasi oleh pot itu sendiri.

Cara mengatasi layu fusarium dengan kompos?

Thricoderma juga memiliki kemampuan dalam mendegradasi bahan organik.

Sering sekali saya menemukan jurnal yang menggunakan cendawan ini untuk membuat bahan fermentasi.

Artinya, jamur thricoderma bisa dipakai untuk starter fermentasi dalam pembuatan kompos.

Sehingga, kita bisa mendapatkan dua keuntungan sekaligus. Yaitu :

  1. Mendapatkan kompos sebagai pupuk organik.
  2. Cendawan thricoderma yang terkandung dalam kompos secara alami akan menekan perkembangan jamur patogen seperi fusarium.

Ini sangat memungkinkan sekali diterapkan dan mudah pelaksanaannya di lapangan.

Pemberian kompos dengan ditambah dengan 40 gram thricoderma dapat menekan layu fusarium sebesar 87,7%.[6]

Cara mudah mendapatkan cendawan thricoderma

Kita ambil cara yang mudah – mudah saja untuk bisa mengatasi layu fusarium pada tanaman kita. Dalam hal ini yaitu cara mendapatkan cendawan thricoderma.

Kita bisa mengkombinasikan antara tanaman herbal dan cendawan ini. Misalnya saja daun cengkeh, daun sirsak atau daun nimba kita buat kompos dengan ditambah starter cendawan thricoderma.

Tapi sebelum itu kita harus tahu bagaimana cara mendapatkan cendawan thricoderma ini.

Atau mungkin kita bisa mendapatkan produk di pasaran yang sudah mengandung cendawan thricoderma ini di dalamnya.

Alhasil, lebih praktis dan siap untuk dipakai.

Kenapa saya merekomendasikan untuk membeli?

Jika Anda mempunyai keahlian dan kemampuan untuk bisa mengisolasi cendawan dari alam, silahkan saja membuatnya sendiri.

Tapi yang jelas metodenya cukup panjang, membutuhkan bahan – bahan yang kurang familiar, dan harus menjaga tingkat kesterilan selama bekerja.

Silahkan saja jika kita mampu.

Tapi kalau tidak bisa, sekarang banyak sekali produk yang sudah siap pakai dan ada kandungan thricoderma di dalamnya.

Informasinya bisa dicari sendiri.

Saya kira cukup sekian, tentang cara mengatasi layu fusarium ini. Semoga bisa berguna.

Sampai jumpa lagi.

Referensi

[1] Ghea Dotulong , Stella Umboh , Johanis Pelealu. Uji Toksisitas Beberapa Fungisida Nabati terhadap Penyakit Layu Fusarium (Fusarium oxysporum) pada Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L.) secara In Vitro. Program Studi Biologi, FMIPA Universitas Sam Ratulangi, Manado. Jurnal Bioslogos, Agustus 2019, Vol. 9 Nomor 2.

[2] Andri et al. Penekanan Nabati Pada Tanah Tanaman Tomat Terkontaminasi Fusarium Oxysporum F.Sp. Lycopersici. Jurusan Ilmu Hama dan Penyakit Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Jurnal ilmu – ilmu pertanian Indonesia 12 (1): 13-18 (2010).

[3] Ida Bagus Gede Darmayasa dan Ni Made Susun Parwanayoni. Potensi Ekstrak Daun Brotowali (Tinospora Crispa (L) Miers) Sebagai Fungisida Nabati Terhadap Penyakit Layu Fusarium Pada Tanaman Cabai (Capsicum Annum L.). Jurusan Biologi F. MIPA Universitas Udayana, Kampus Bukit Jimbaran, Bali. Prosiding Seminar Nasional Prodi Biologi F. MIPA UNHI.

[4] Rahmi Hayati , Tjut Chamzurni, Buni Amin. Aplikasi Beberapa Fungisida Nabati Dengan Berbagai Dosis Untuk Mengendalikan Penyakit Layu Fusarium (Fusarium oxysporum) Pada Tanaman Tomat. Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Unsyiah Volume 1, Nomor 1, November 2016.

[5] Novita, Trias. Trichoderma sp. dalam Pengendalian Penyakit Layu Fusarium pada Tanaman Tomat. Fakultas Pertanian Universitas Jambi. Biospecies, Volume 4 No. 2, Juli 2011, hlm. 27 – 29 27.

[6] Istifadah, Noor. Dkk. Kemampuan Kompos Plus Dalam Menekan Penyakit Layu Fusarium Pada Tanaman Tomat. Jurnal Agrikultura Volume 19, Nomor 1, 2008.

SHARE:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *