Di mana Seharusnya Ternak Kambing Etawa, Pantai atau Gunung?

Silahkan share di:

Di mana kita harus ternak kambing etawa?

Ternak kambing etawa bisa memberikan kebanggaan tersendiri bagi peternaknya. Kalau saya melihatnya seperti itu.

Bisa jadi karena kambing ini termasuk jenis kambing yang kualitasnya sangat baik. Atau bisa dibilang jenis kambing unggul.

Jadi, kalau kita memelihara ternak dengan jenis yang unggul, pasti bangga dan lebih percaya diri bukan?

Salah satu keunggulan kambing etawa ini bisa memiliki tumbuh yang tinggi besar dan panjang. Selain itu, kambing ini bisa diambil atau diperah susunya karena produksi susu saat laktasi memang cukup banyak.

Oleh karena itu, kambing etawa ini dikenal sebagai ternak yang bisa diambil manfaat daging dan susunya.

Akan tetapi kalau dilihat – lihat, sepertinya banyak kambing etawa yang super, lokasinya ada di wilayah yang bersuhu dingin.

Di Jawa, kambing etawa yang super banyak ditemui di wilayah selatan pulau jawa. Seperti Kaligesing, Bogor, Jogjakarta, Tawangmangu, Kediri, Jombang, Lumajang dan seterusnya.

Di wilayah sekitar pantura mungking juga ada, tapi mungkin sayanya saja yang kurang tahu.

Kenapa bisa seperti itu?

Jawabannya sangat bisa sekali. Dan, saya menyebutkan ternak kambing etawa lebih berkembang diwilayah selatan jawa daripada pantura, bukannya tanpa alasan.

Alasannya adalah suhu lingkungan dimana kita melaksanakan ternak kambing etawa tersebut.

Suhu lingkungan memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap pertumbuhan kambing etawa.

Pertumbuhan kambing dilingkungan bersuhu lebih dingin, ternyata lebih besar daripada wilayah bersuhu lebih panas.

Suhu lingkungan ini kan berbanding lurus dengan ketinggian. Semakin tinggi lokasi dari permukaan laut, suhunya semakin dingin.

Di Jawa bagian selatan, topografi wilayahnya lebih banyak yang berbukit – bukit. Lihat saja peta pulau jawa di bawah ini.

ternak kambing etawa di pulau jawa

Lebih hijau mana antara wilayah utara dan selatan. Di bagian selatan, warna hijaunya lebih merata daripada wilayah utara.

Di pantura hanya ada beberapa titik yang hijau. Yaitu di wilayah gunung muria yang kaki gunungnya ada di Kudus, Sebagian Pati dan Jepara.

Selain itu ada di wilayah Batang yang memang jalur pantura membelah hutan jati atau alas roban.

Selain warna hijau tersebut menunjukkan wilayah yang berbukit, juga bisa menunjukkan bahwa sumber pakan hijauan lebih mudah untuk diperoleh.

Dan jenis pakan apa yang kita berikan ke kambing, hasilnya tidak akan membohongi.

Lalu, apakah ternak kambing etawa tidak bisa dilakukan di wilayah pantura?

Ya bisa dong,,.

Kambing etawa ini sekarang sudah menjadi kambing peranakan etawa atau kambing PE. Artinya kambing ini yang beredar sekarang sudah hasil persilangan dengan kambing lokal.

Sehingga, kambing ini sudah sangat adaftif dengan lingkungan lokal kita. Dengan kata lain kambing pe bisa beradaptasi dengan baik terhadap berbagai wilayah di Indonesia.

Buktinya, penyebaran kambing ini sudah kemana – mana. Mungkin sudah semua di wilayah Indonesia ada kambing etawa ini.

Tapi untuk tujuan produksi susu, sebaiknya ternak kambing etawa dilakukan di wilayah bersuhu lebih dingin.

Nanti kita akan sama – sama lihat bahwa ada perbedaan antara kambing yang dipelihara di suhu dingin dan wilayah yang bersuhu lebih panas.

Pertumbuhan atau perkembangan ada sedikit perbedaan. Tapi perbedaannya tidaklah begitu besar untuk tujuan menghasilkan daging.

Tapi kalau untuk kambing perah, lain lagi ceritanya.

Yuk….lanjutkan!

Dataran tinggi atau dataran rendah untuk kambing etawa?

Dataran rendah mencakup semua wilayah yang ketinggiannya tidak sampai 200 meter di atas permukaan laut.

Suhu di dataran rendah untuk Indonesia berkisar antara 23 0C – 28 0C.[1] Namun ada literatur lain yang menyebutkan kalau suhu di ketinggian ini antara 20 0C – 33,5 0C.[2]

Suatu wilayah dianggap sebagai dataran tinggi apabila ketinggiannya di atas 700 meter di atas permukaan laut.

Dengan ketinggian ini, suhu di dataran tinggi menjadi lebih dingin. Suhunya antara 6,6 0C – 31 0C.[2]

Ternak kambing etawa di lingkungan dengan suhu yang berbeda, memberikan pertumbuhan yang berbeda pula.

Menurut sumber [2], perbedaannya adalah seperti ini.

Di dataran tinggi, pertumbuhan kambing bisa lebih tinggi per harinya. Perbedaannya cukup lumayan, yaitu sebanyak 24 gram/hari.

Dalam sebulan saja, kalau perbedaan ini bisa konstan, selisih bobotnya bisa 24 gram x 30 = 720 gram.

Seandainya cempe efektif mulai makan sendiri setelah 3 bulan, maka usia setahun saja ada perbedaan bobot setidaknya 720 gram x 9 bulan = 6.480 gram atau hampir 6,5 kg.

Beda bobot 6,5 kg itu, penampilan kambing sudah cukup berbeda bukan?

Sebenarnya, titik persoalan bukan pada ketinggian lokasi. Melainkan pada suhu lingkungan.

Tidak hanya pada kambing, setiap makhluk hidup apabila suhu lingkungannya tinggi, maka tubuh akan memberikan respon. Respon ini dilakukan untuk mempertahankan suhu tubuhnya.

Kalau kita mungkin responnya bisa buka baju, kipas – kipas, minum es, atau pasang AC di rumah. Rasanya males makan dan pengennya cuma minum saja.

Tapi kalau hewan, responnya berupa mengurangi jumlah makan. Dengan kata lain, kambing yang dipelihara di suhu lebih tinggi, konsumsi pakannya tidak sebanyak jika dipelihara di wilayah bersuhu lebih rendah.

Konsekuensinya, karena jumlah konsumsinya tidak banyak, maka pertambahan bobot hariannya juga lebih rendah.

Dan menurut sumber penelitian lain[3], ternak kambing etawa yang dilakukan di ketinggian 200, 400 dan 600 mdpl konsumsi hariannya adalah seperti ini.

Konsumsi Berat Kering di ketinggian 200 m dpl, 400 m dpl dan 600 m dpl masing-masing 642,62 ± 27,39 gram/ekor/hari 824,45 ± 22,87 gram/ekor/hari dan 1777,64 ± 259,19 gram/ekor/hari.

Tapi tenang saja, ini bukan persoalan yang serius. Tetap tidak masalah kalau ternak kambing etawa dilakukan di wilayah panas. Tetap bisa tumbuh dan berkembang.

Tapi kalau menganggap ini serius, mungkin ini bisa dijadikan sebagai alternatif solusinya.

1 . Membuat kandang close house untuk kambing etawa dan dipasang AC di dalamnya.

2 . Buat jarak antara lantai kandang dan atap cukup tinggi. Supaya panas dari atap tidak cepat langsung berefek ke kambing. Tapi ventilasi dan sirkulasi kandang harus bagus.

3 . Porsi makan lebih diperbanyak pada malam hari. Karena suhu pada malam hari relatif lebih dingin daripada malam hari.

4 . Biarkan saja, ini bukan persoalan yang serius. Ternak tetap jalan terus.

Itu dari segi perbedaan suhu lingkungan terhadap pertumbuhan harian kambing etawa, kalau untuk produksi susunya akan saya uraikan di bawah ini.

Produksi susu kambing etawa di dataran rendah dan tinggi

Menurut saya kalau ingin ternak kambing etawa dengan tujuan menghasilkan susu, ketinggian dan suhu lingkungan sangat perlu diperhatikan.

Hal ini karena respon kambing dengan lingkungan yang panas, konsumsi pakannya akan lebih sedikit.

Sedangkan produksi susu sangat dipengaruhi oleh jumlah pakan yang dikonsumsi oleh ternak. Terlepas dari faktor kualitas genetik ya..

Faktor konsumsi pakan ini akan mempengaruhi ke faktor yang lainnya. Jika konsumsi pakan sedikit, maka nutrisi yang masuk ke tubuh kambing juga sedikit.

Konsekuensi langsung adalah produksi susu juga menjadi lebih sedikit.

Pernah ada penelitian yang meneliti tentang ini. Yaitu penelitian yang dilakukan pada peternakan di ketinggian 200 mdpl dan 600 mdpl.[3]

Dan hasilnya benar – benar berbeda. Secara singkat hasilnya bisa dilihat pada gambar di bawah ini.

Dari hasil di atas dapat kita lihat konsumsi ransumnya saja sudah sangat berbeda jauh. Maka otomatis jumlah protein yang masuk ke tubuh kambing juga berbeda.

Di wilayah bersuhu dingin, tubuh kambing akan memberikan respon.

Karena suhu lingkungannya lebih dingin dari suhu tubuh, maka supaya ia bisa mempertahankan suhu tubuh, detak jantung mereka akan lebih cepat dan makannya lebih banyak.

Reaksi tubuh seperti ini berdampak pada produksi susu secara langsung. Jumlah produksi susu ternyata hampir 2 kali lebih banyak daripada kambing yang di wilayah dataran rendah.

Akan tetapi kita tidak bisa menyimpulkan kalau usaha ternak kambing etawa di dataran rendah tidak menguntungkan.

Karena meskipun di dataran rendah produksi susunya lebih sedikit, tapi konsumsi pakannya juga sedikit.

Produksi susu di dataran tinggi lebih banyak, tapi jumlah pakan yang dibutuhkan juga banyak. Berarti biaya pakannya juga lebih tinggi.

Untuk menentukan untung tidaknya memang diperlukan analisa usaha yang lebih lanjut.

Dan, saya kira untuk tema ini saya cukupkan sampai sekian.

Semoga ada manfaatnya, terima kasih dan sampai jumpa minggu depan. Sebelum menutup laman ini ada baiknya baca kesimpulan dari postingan ini terlebih dahulu.

Kesimpulan

# Ketinggian dan Suhu dalam ternak kambing etawa hanyalah faktor lingkungan. Faktor ini memang penting tapi bukanlah yang paling penting.

Setiap kambing mungkin memiliki tingkat respon yang tidak sama. Semua itu tergantung dari kualitas genetiknya juga.

Kualitas bibit yang baik, pakan yang berkualitas dan manajemen pemeliharaan yang baik adalah faktor yang paling menentukan. Bukan dimananya kita melakukan ternak kambing etawa.

Jadi, ternak kambing terus lanjut dan semoga sukses!

Referensi

[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Dataran_rendah

[2] Batubara, Aron, dkk. 2016. Kambing Peranakan Etawah (PE). Jakarta: IAARD Press.

[3] Diana. 2015. Pengaruh Ketinggian Tempat Terhadap Respon Termoregulasi dan Produksi Susu pada Kambing Peranakan Etawa (PE). Sekolah Pasca Sarjana Institute Pertanian Bogor.

Silahkan share di:

Tinggalkan komentar