Kangkung Untuk Pakan Ternak Apa Saja, Kambing, Itik, Ayam dll

SHARE:

Kangkung untuk pakan?

Kangkung yang biasanya kita kenal sebagai sayuran itu, ternyata bisa digunakan sebagai pakan ternak.

Jika kita sering berselancar ke dunia maya, maka akan menemui pelaku usaha yang menjual kangkung sebagai pakan.

Namanya adalah rendeng kangkung.

Rendeng kangkung adalah kangkung yang dicacah kemudian dikeringkan. Bisa jadi ini kangkung dari limbah atau sengaja menanam kangkung untuk dijadikan pakan.

Tapi kalau sampai dijual untuk pakan, sepertinya kok sengaja ditanam.

Tidak ada masalah kalau kangkung digunakan sebagai pakan. Terutama pakan ternak ruminansia. Seperi kambing domba atau sapi.

Karena kangkung juga memenuhi kualitasnya untuk dijadikan pakan ruminansia.

Diantaranya adalah kandungan protein ada, lemak kasarnya ada dan yang terpenting serat kasarnya juga tinggi.

Artinya, kangkung bisa digunakan untuk menggantikan pakan berupa rumput.

Tapi jangan diartikan kalau kambing yang diberi kangkung pertumbuhannya lebih baik daripada diberi rumput ya,.

Arti dari kata bisa “menggantikan” tidak seperti itu. Kalau tidak ada rumput, ternak diberi kangkung juga masih baik – baik saja.

Bisa tumbuh dengan normal selayaknya mereka saat mendapat pakan rumput.

Kenapa seolah – olah harus diutamakan pakan rumput?

Karena kangkung tidak akan tumbuh kalau tidak secara sengaja ditanam. Artinya butuh cost atau biaya untuk menanam, beli bibit, panen, pengeringan dan penyimpanan.

Sedangkan kalau rumput bisa diperoleh secara freee….karena kemurahan Tuhan yang Maha Esa yang telah menurunkan hujan dan menumbuhkan rerumputan.

Kecuali kita sudah mempunyai perhitungan yang matang tentang kapasitas produksi dan target penjualan ternak, bolehlah merambah ke menanam kangkung untuk pakan.

Untuk itu kita perlu data yang lebih banyak dari kangkung ini.

Kangkung darat atau kangkung air?

Kalau untuk pakan, lebih praktis kangkung darat dong. Tapi tergantung lokasi juga sih. Jika memungkinkan kangkung air untuk tumbuh dengan baik, kangkung air bisa menghasilkan hijauan lebih banyak.

Karena daunnya lebih lebar. Tapi kelemahannya karena tumbuhnya diperairan, hijauan yang dipanen pasti lebih kotor.

Bedanya apa kangkung darat dengan kangkung air?

Omong – omong soal kangkung, kita mengenal adanya kangkung darat dan kangkung air.

Kita bisa melihat perbedaannya pada ketiga hal.

Pertama pada tempat hidupnya, kedua bentuk daunnya dan ketiga pada warna bunganya.

Untuk tempat hidupnya, kangkung air hidup pada tempat yang banyak air. Biasanya tumbuh pada genangan air dangkal atau rawa – rawa. Kangkung akan tumbuh merambat dan daunnya akan semakin banyak seperti ketela rambat.

kangkung air untuk pakan

Sedangkan untuk kangkung darat ia akan tumbuh tegak seperti bayam. Kecuali ketika sudah muncul sulurnya, ia akan rubuh dan mulai merambat.

Selanjutnya kita bisa melihat perbedaannya pada bentuk daun

Daun kangkung air biasanya bentuknya seperti ini.

kangkung untuk pakan

Daunnya lebih lebar dan bentuknya seperti love. Pada bagian pangkal daun, cekungan yang membentuk love sangat jelas.

Berbeda dengan kangkung darat. Kangkung darat bentuk daunnya lebih runcing lebih mirip seperti bentuk daun bambu.

kangkung untuk pakan

Lebar daun kangkung darat juga lebih kecil daripada kangkung air.

kangkung untuk pakan ternak

Meskipun untuk benih kangkung darat merk tertentu, daunnya ada yang mirip seperti kangkung air.

Selanjutnya, kangkung air berbunga dengan warna putih kemerah-merahan, sedangkan kangkung darat bunganya berwarna putih bersih.

kangkung air untuk pakan

 

Kandungan nutrisi kangkung untuk pakan ternak

Jika kita mencari informasi kandungan gizi atau nutrisi dari kangkung, maka kita bisa saja mendapatkan informasi yang membingungkan.

Karena kangkung juga menjadi bahan makanan yang dikonsumsi manusia, maka informasi gizi yang ada akan berbeda dengan kandungan nutrisi yang dibutuhkan dalam peternakan.

Terutama dalam penyampaiannya, jenis dan satuannya akan berbeda dengan peternakan.

Kandungan nutrisi dari kangkung bisa dilihat pada tabel di bawah ini.[1] Ini kandungan nutrisi dari kangkung air, sedangkan untuk kangkung darat kemungkinan nilai nutrisinya juga tidak jauh berbeda.

Kandungan nutrisiKangkung segarKangkung kering
Berat kering %84,45100
Abu %13,3615,82
Protein Kasar %9,411,13
Serat Kasar %23,3427,64
Lemak Kasar %2,472,92
Beta-N %35,8842,49

Kandungan Nutrisi Kangkung Versi Image

Dari kandungan nutrisi di atas bisa kita lihat, bahwa kandungan protein dari kangkung air ini cukup lumayan.

Setara kalau dibandingkan dengan rumput lainnya. Misalnya rumput odot atau mombaca.

Selain itu, serat kasar dari kangkung juga tinggi. Baik dalam keadaan segar atau kering. Serat kasar sangat dibutuhkan oleh hewan ternak ruminansia. Karena sistem pencernaannya didesain untuk jenis pakan seperti itu.

Oleh karena itu, kangkung ini tidak menyebabkan mencret pada ternak ruminansia.

Kemungkinan kangkung akan menyebabkan mencret adalah ketika diberikan dalam keadaan segar, muda, dan basah atau kotor.

Jadi, mencret pada ternak karena kangkung bukanlah kangkung sebagai penyebab utamanya. Melainkan karena adanya bahan atau materi pengotor lain yang ikut termakan dan masuk ke pencernaan hewan.

Kangkung ini masih bisa dipreteli lagi. Kalau telaten dan punya banyak waktu, kita bisa mendapat pakan dengan kandungan nutrisi yang sangat tinggi dari kangkung ini.

Yaitu hanya dengan mengambil daunnya saja. Maka pilihan yang tepat adalah kangkung air karena daunnya lebih lebar – lebar.

Tingginya serat kasar pada rendeng kangkung disebakan karena batang kangkung ikut disertakan.

Kandungan nutrisi daun kangkung kering (tepung) bisa dilihat pada tabel di bawah ini.[2][3]

NutrisiJumlah (% BK)
Protein Kasar20,16 – 23,99
Serat Kasar15,40 – 16,17

Luar biasa bukan, kandungan nutrisi dari daun kangkung ini. Daun kangkung ini bisa menjadi alternatif sebagai pakan sumber protein selain indigofera.

Bisa juga untuk bahan penyusun konsentrat.

Memang dari segi kuantitas, produksi hijauannya tidak sebanyak indigofera. Tapi kangkung bisa dipanen lebih cepat.

Produksi hijauan kangkung

Anda pasti sudah bisa membayangkan bahwa produksi hijauan dari kangkung ini tidaklah sebanyak rumput odot atau mombaca.

Jadi, jika targetnya untuk mengejar jumlah atau kuantitas produksi, jelas kangkung bukan pilihan yang memuaskan.

Menurut survey di kabupaten Lamongan pada tahun 2013, data produksi kangkung darat dan luas lahan penanaman bisa dilihat pada tabel di bawah.[4]

Luas Lahan (hektare)Produksi hijauan kangkung (ton)
0 – 0,250,32
0,26 – 0,510,62
0,52 – 0,811,42
0,82 atau lebih2,53

Artinya, dari tabel di atas per hektar lahan hanya menghasilkan hijauan kangkung sekitar 3 ton saja.

Ini dalam keadaan segar, belum dalam keadaan keringnya.

Misalnya berat kering dari kangkung adalah sebanyak 85%, maka dalam keadaan kangkung kering hanya diperoleh bobot hijauan sebanyak 2,5 ton rendeng kangkung.

Akan tetapi dengan interval waktu panen yang lebih singkat, ini menjadi kelebihan dari kangkung itu sendiri.

Silahkan dikalkulasi sendiri dan eksperimen sendiri untuk mengetahui data yang aktual.

Karena data di atas dilakukan pada tahun 2013, sekitar 6 tahun dari tahun 2019.

Kangkung untuk pakan kambing

Idealnya pakan kambing atau domba itu berbagai macam hijauan. Ada pakan yang digunakan sebagai sumber serat atau tenaga dan ada yang sebagai sumber protein.

Contoh pakan sebagai sumber serat adalah segala jenis rumput dan daun – daunan (rambanan). Rendeng kangkung ini jika dilihat dari kandungan nutrisinya, ia termasuk sebagai sumber serat.

Sedangkan pakan yang bisa sebagai sumber protein adalah daun dari tanaman legum dan konsentrat.

Idealnya pakan kambing atau domba harus ada kedua jenis pakan di atas. Tapi kebanyakan tidak demikian.

Faktanya di lapangan peternak hanya memberi makan apa yang ada saja. Sangat sulit untuk mengadakan jenis pakan yang ideal di atas.

Kecuali hanya beberapa peternak dengan skala menengah ke atas dan mempunyai target pasar yang stabil.

Dengan pasar yang sudah stabil, perkembangan kambing dan domba juga harus tertarget.

Dengan begitu, mereka bisa saja mendatangkan pakan yang ideal supaya target produksi juga tercapai.

Tapi intinya bukan pada bagaimana supaya bisa menyediakan pakan ideal.

Intinya adalah kangkung bisa digunakan sebagai pengganti pakan utama dari kambing/domba yang berupa rumput. Kambing tidak mengalami masalah dan pertumbuhannya juga baik – baik saja.[5]

Memang selama penelitian, pakan yang digunakan adalah pakan ideal. Yaitu rumput dan konsentrat dan kangkung – konsentrat.

Kemudian kita kembalikan ke fakta lapangan. Banyak sekali ternak yang hanya diberi makan rumput saja sehari – harinya.

Jika kualitas dan kandungan nutrisi dari rendeng kangkung tidak berbeda jauh dengan rumput, maka rendeng kangkung ini juga bisa diberikan sehari – hari kepada kambing atau domba.

Kangkung untuk pakan lele

Pada bagian ini tidak ada isi tentang lele yang diberi makan kangkung. Adanya kangkung untuk pakan jenis ikan lain.

Tapi, jika kita teruskan kita akan mendapatkan analogi yang mungkin juga sangat bisa diterapkan pada ikan lele.

Saat ini saya belum menemukan jurnal yang berhubungan tentang kangkung untuk ikan lele. Terutama untuk pakannya. Kalau untuk akuaponiknya, banyak.

Ok, mari langsung saja ke intinya.

Intinya adalah kangkung digunakan sebagai pakan tambahan. Artinya pakan utama masih pelet, tapi ikan diberi makan tambahan dengan penambahan kangkung. Kangkungnya adalah kangkung air.

Pemberian kangkung sebagai pakan tambahan ini lebih mudah daripada harus benar – benar memasukkan kangkung ke dalam ransum.

Karena kangkung harus dibuat menjadi tepung untuk bisa dicetak menjadi pelet. Butuh biaya produksi tambahan.

Ok, kita fokus dulu pada kangkung yang digunakan sebagai pakan tambahan pakan ikan.

Ikan nila diberi pakan berupa pelet komersil dan kangkung yang dicacah.

Pemberian kangkung ada yang diberi kangkung dengan perbandingan 1:1, 1:2 dan 1:3.

Yang satu bagian adalah pelet komersilnya dan 1, 2 dan 3 adalah jumlah kangkungnya.

Jumlah pelet diberikan sebanyak 5% dari bobot biomassa ikan.

Misalkan bobot bibit ikan per ekor adalah 5 gram dan jumlahnya misalnya 10 ekor. Maka total bobot biomassa adalah 50 gram.

Pelet yang harus diberikan adalah 5/100 x 50 gram = 2,5 gram/ekor/hari.

Maka jumlah kangkung yang diberikan:

Pellet:kangkungPeletkangkung
01:01:00 AM2,5 gram2,5 gram
01:02:00 AM2,5 gram5 gram
01:03:00 AM2,5 gram7,5 gram

Tabel di atas hanyalah contoh. Karena setiap minggu berat ikan akan bertambah, maka harus dilakukan pengukuran berat sampling untuk mendapatkan jumlah pakan pelet yang sesuai.

Begitu juga, kangkungnya juga disesuaikan dengan jumlah pelet yang terakhir.

Cara pemberiannya adalah kangkung dicacah menjadi sekecil mungkin. Kemudian diberikan bersama – sama dengan pellet.

Dan menurut penelitian, ikan yang diberi pakan tambahan kangkung lebih banyak 1:3, pertumbuhannya lebih tinggi. Baik itu dari panjang ikan dan berat ikan.[6]

Secara nalar seharusnya memang seperti itu.

Metode ini juga bisa dicoba pada lele. Lele diberi pakan standar, yaitu pakan ikan komersil dan diberi pakan tambahan berupa kangkung cacah.

Jika seandainya lele benar – benar tidak mau makan kangkungnya, maka pertumbuhan tetap aman karena peletnya. Ini adalah resiko terburuk dari percobaan.

Tidak ada ruginya, selain air kolam menjadi lebih kotor karena limbah kangkungnya.

Kangkung untuk pakan itik

Untuk unggas misalnya itik petelur, awalnya saya meragukan penggunaan kangkung ini.

Karena kangkung memiliki serat kasar yang tinggi. Sedangkan kemampuan unggas dalam mencerna serat kasar tidak sehandal kambing atau domba.

Oleh karena itu, jika terlalu banyak maka pemberian kangkung malah menjadi blunder. Alih – alih mau irit, malah jeblok karena produksi telur akan turun.

Dan ternyata benar. Penggunaan kangkung untuk itik tidak boleh terlalu banyak.

Itik mojosari yang sudah bertelur, kebutuhan pakannya sekitar 150 gram/ekor/harinya.

Maksimal jumlah kangkung dalam ransum adalah sebanyak 1,5 % saja. Berarti jumlah kangkungnya adalah 2,25 gram saja, per ekor, per hari.[7]

Jumlah kangkung ini tidak membuat produksi telur dan kualitasnya menurun. Artinya produksinya masih normal dan baik – baik saja.

Tapi apakah jumlah kangkung yang sedikit itu bisa membuat pakan menjadi lebih hemat?

Bisa jadi, asalkan jumlah itik yang dipelihara cukup banyak.

Andaikan kita punya 1000 ekor itik, maka butuh kangkung sebanyak 2,25 kg kangkung per hari.

Silahkan dihitung sesuai harga kangkung yang berlalu diwilayah masing – masing. Per kg kangkung lebih murah atau lebih mahal daripada harga bekatul halus.

Untuk panduan saja, dengan adanya 1,5 % kangkung dalam pakan, nilai nutrisi dari ransum adalah sebagai berikut.

EM (Kkal/Kg) 2709,11
Protein Kasar %18,18
Lemak Kasar %8,02
Serat Kasar %4,90
Ca %3,01
P %0,62

Bahan penyusun pakan adalah konsentrat itik dari phokpand dan bekatul halus. Untuk menyusun ransumnya bisa lihat – lihat di artikel pakan alternatif unggas.

Di situ tidak plek untuk itik, tapi metode penyusun ransumnya bisa diterapkan pada itik.

Kangkung untuk pakan ayam petelur

Maaf kawan, tidak ada dan sedikit sekali jurnal ilmiah yang menggunakan kangkung untuk unggas. Baik itu untuk itik, bebek atau ayam.

Karena kangkung serat kasarnya tinggi. Jika dipaksakan harus ada dalam ransum, nilai serat kasar ransum akan tinggi.

Kecuali daunnya. Iya, daun kangkung saja yang ditepung. Itu bisa 20% dalam ransum.[8]

Dan tidak berpengaruh negatif pada performa produksi ayam.

Masalahnya adalah memetik daun kangkung satu per satu juga bukan perkara mudah. Kegiatan ini akan memakan waktu dan biaya.

Tidak yakin juga bisa menghebat pengeluaran pakan.

Akan tetapi jika mau mencoba silahkan saja.

Kesimpulan

Mohon kawan, baca dulu kesimpulan ini supaya tidak salah faham terhadap kangkung sebagai pakan unggas ini. Kalau untuk ruminansia tidak diragukan lagi. Kangkung bagus.

  • Kangkung itu termasuk pakan hijauan untuk unggas.
  • Sementara ini hijauan kebanyakan dipakai sebagai pakan pelengkap saja. Bukan masuk dalam ransum utama, hanya sebagai pengenyang unggas saja.
  • Kangkung mengandung vitamin dan mineral yang sangat banyak. Bisa jadi ini bisa meningkatkan produktivitas dan kesehatan unggas.
  • Hijauan, termasuk kangkung, sebaiknya diberikan pada unggas dengan jumlah tidak lebih dari 5% dari total ransum.

Saya kira, seperti itu untuk kangkung sebagai pakan ternak ini. Semoga berguna dan bermanfaat.

Referensi

[1] Canadianti, Monica. 2013. Respon Fisiologis Dan Tingkah Laku Domba Garut Dengan Pakan Limbah Tauge Atau Kangkung Kering Sebagai Pengganti Rumput. Departemen Ilmu Produksi Dan Teknologi Peternakan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor Bogor.

[2] Noveni Samosir, Herlita. 2019. Pengaruh Penggunaan Tepung Daun Kangkung Air (Ipomoea Aquatica Forsk.) Terfermentasi Dalam Pakan Terhadap Pertumbuhan Benih Ikan Gurami (Osphronemus Gouramy). Fakultas Perikanan Dan Kelautan Universitas Riau Pekanbaru.

[3] Agustono, Andy Setyo Widodo dan Widya Paramita. Kandungan Protein Kasar Dan Serat Kasar Pada Daun Kangkung Air (Ipomoea Aquatica) Yang Difermentasi. Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 2,No. 1, April 2010.

[4] Mufid Dahlan, Wardoyo dan Handoko Prasetyo. Suplay Produksi Bahan Kering Jerami Kangkung Sebagai Bahan Pakan Ternak Ruminansia Di Kabupaten Lamongan ( Studi Musim Tanam Mk Ii Tahun 2012. Jurnal Ternak, Vol.04, No.02, Desember 2013. Program Studi Peternakan Fakultas Peternakan, Jl.Veteran 53 A, Lamongan, Indonesia.

[5] Purnamasari, Listya. 2013. Respon Fisiologis Domba Ekor Tipis Serta Palatabilitas Limbah Tauge Dan Kangkung Kering Sebagai Pengganti Rumput. Departemen Ilmu Produksi Dan Teknologi Peternakan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor Bogor.

[6] Rianda Putra, Eri Yusni dan Irwanmay. Pengaruh Penambahan Kangkung Air (Ipomoea Aquatica) Pada Pakan Terhadap Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis Niloticus) Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

[7] Andi Alfian, Osfar Sjofjan dan Halim Natsir. Pengaruh Penggunaan Limbah Kangkung (Ipomoea Aquatica) Dalam Pakan Terhadap Kualitas Eksternal Telur Itik Mojosari. Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya.

[8] https://onesearch.id/Record/IOS5689.56#details

SHARE:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *