Managemen Berternak Kambing Etawa

Silahkan share di:

Managemen Perkawinan Kambing Etawa

Keberhasilan berternak kambing etawa terkait erat dengan jumlah produksi anakan kambing yang dihasilkan.

Untuk bisa menghasilkan anakan kambing etawa, ya tentu indukannya dikawinkan supaya hamil.

Mengetahui masa-masa indukan kambing etawa yang minta kawin, sebenarnya tidak sulit.

Ciri yang paling utama yaitu kambing akan mengembik secara terus menerus. Ada makanan di depannya, kambing tidak sedang sakit tapi selalu mengembik, ini pertanda besar kambing etawa minta dikawinkan.

Lihat juga artikel tentang mengetahui tanda kambing hamil.

Sebagian besar masyarakat sudah banyak yang  mengerti akan hal ini.

Indonesia saya kira merupakan negara yang beruntung, karena kambing – kambing di Indonesia tidak ada musim kawin.

Indukan kambing-kambing di Indonesia bisa dikawinkan sepanjang tahun, asalkan tiba masa birahinya.

Kalau Anda lihat blog-blog luar negri, di eropa dan amerika misalnya, perkawinan kambing ternyata musiman.

managemen-perkawinan-dan-penyakit-kambing-etawa
kambing etawa betina dan kambing etawa jantan

Dengan manajemen perkawinan yang baik, kambing etawa dapat beranak tiga kali dalam 2 tahun. Ini adalah potensi dan peluang yang sangat besar.

Disamping potensi tetap harus ada perencanaan yang matang, supaya saat kambing etawa beranak dan laktasi (menysui) tersedia pakan yang mencukupi dan memadai.

Kambing etawa betina hanya mau kawin pada saat periode birahi (estrus) yang waktunya  relatif singkat (12 – 48 jam) atau 36 jam, dan ini berulang (siklus) setiap 18 – 24 hari (kalau dirata-raata 20 hari).

Berbeda halnya dengan kambing etawa jantan, aktivitas seksualnya dapat terjadi setiap saat dan sepanjang tahun.

Anak kambing etawa jantan yang pertumbuhannya baik akan mulai dapat kawin pada umur yang relatif muda 6 – 10 bulan, namun sebaiknya pejantan muda tersebut mulai dipakai sebagai pemacek pada umur sekitar 15-18 bulan.

Managemen Penyakit Kambing Peranakaan Etawa

Seperti kambing-kambing pada umumnya, kambing etawa juga bisa mengalami penyakit yang menjangkiti kambing lain.

Penyakit-penyakit berikut yang biasa menyerang kambing etawa, cara mengatasinya tergantung seberapa parah penyakit tersebut dan jenis infeksi dari penyakit tersebut.

Kalau ringan, kadang kambing bisa sembuh dengan sendirinya, ada yang bisa diobati dengan cara tradisional dan ada yang perlu penanganan dokter hewan serta kadang ada yang perlu ditangani oleh jagal :D.

Penyakit mata

Penyakit ini bisa menyerang kambing PE pada saat cuaca kurang baik serta adanya penurunan daya tahan tubuh kambing PE, biasanya mudah sekali terserang penyakit mata.

Untuk pengobatan sementara dan pertama yang dilakukan dengan daun sirih, garam dan air panas, yang dicampurkan kemudian dikompreskan pada mata kambing setelah agak dingin, satu sampai dua kali sehari.

Penyakit batuk flu

Kambing peranakan etawa yang terserang penyakit ini, biasanya susah bernafas dan sering batuk batuk layaknya manusia.

Penyebanya karena kambing etawa memakan makanan hijauan yang agak basah terkena air hujan yang berlebihan.

Pengobatannya, para peternak biasanya menggunakan beras kencur yang diseduh dengan air panas, kemudian diminumkan pada kambing yang sakit setelah agak dingin.

Penyakit Cacingan/Nafsu makan Menurun

Kalau kambing nafsu makannya menurun, bisa jadi karena kambingnya cacingan.

Penyakit cacingan hampir selalu di jumpai oleh setiap kambing PE karena faktor makanan yang biasanya membawa benih cacing kedalam perut kambing etawa.

Pengobatan penyakit ini biasanya dapat dilakukan dengan memberi obat cacing layaknya manusia sesuai dengan petunjuk pada kemasan obat.

Penyakit Gatal atau Korep

Penyakit jenis ini biasanya menyerang pada sebagian kulit kaki, kepala dan sebagian tubuh kambing Peranakan Etawa, jenis penyakit ini mudah sekali menular pada kambing yang lain.

Pengobatan dan penangananya pertama sebaiknya pisahkan kambing PE yang sakit gatal ini dengan kambing yang lain.

Kemudian pengobatanya kita bisa ambil beberapa butir belerang, oli bekas di campur dengan minyak goreng dan garam, di tumbuk sampai halus dan dioleskan ke bagian yang gatal dan sakit.

Lakukan beberapa kali hingga luka kurap mengering.

Penyakit Kelenjar Susu atau Mastitis

Kambing peranakan etawa yang terkena penyakit ini gejalanya adalah ambing susu membengkak, kambing demam dan suhu tubuhnya sangat tinggi, nafsu makan menurun,warna susu tidak normal, dan produksi susu menurun atau bahkan berhenti sama sekali.

Penyebabnya adalah karena infeksi oleh bakteri. Infeksi bisa terjadi karena tidak tuntasnya pemerahan susu dan pemerahan yang tidak higienis.

Untuk pencegahannya bisa melakukan “teat dip” setiap kali pemerahan.

Teat dip itu larutan untuk mencelup puting susu yaitu 250 ml chlorohexadine 2% + 45 ml gliserin + air sehingga menjadi 1 liter larutan.

Pengobatan dilakukan dengan memasukkan antibiotik melalui puting susu, setelah ambing dikosongkan (diperah) terlebih dahulu. Pengobatan dapat dilakukan 2-3 kali per hari, sampai ternak benar-benar sembuh.

Penyakit Scabies

Penyakit ini disebabkan oleh parasit kulit dan bisa menular pada ternak lain.

Kambing etawa yang terserang penyakit ini, biasanya terlihat gelisah, sering menggosok-gosokkan bagian tubuh yang terasa gatal karena terkena scabies kebenda-benda kasar.

Kulit yang sering digosok-gosokkan pada benda kasar mengalami luka dan menimbulkan kopeng atau kerak dan bulu pada bagian yang terkena penyakit ini menjadi rontok.

Bagian tubuh kambing etawa yang biasa terserang penyakit ini adalah telinga, muka, leher, serta ekor, tetapi untuk tingkat lanjut bisa menyebar keseluruh tubuh dan kambing mengalami gatal parah.

Penyakit ini bisa dicegah dengan cara menjaga kebersihan kandang dan memandikan kambing minimal sekali dalam satu minggu.

Pengobatan penyakit scabies dapat dilakukan dengan mengoleskan salep Scabisid dibagian yang berkopeng, dengan terlebih dahulu mengelupas bagian yang berkopeng dan dibersihkan dengan sabun antiseptik.

Pengobatan scabies bisa juga diobati dengan cara menggunakan asap cair.

Penyakit Tetanus

Penyakit ini paling sulit untuk bisa di obati namun ada bebarapa cara untuk pencegahan.

Dengan cara melakukan prefentif yaitu dengan memotong plasenta yang basah dan agak panjang dan kemudian mengolesinya dengan kunyit dengan tujuan agar tidak terkena baksil tetanus yang biasanya melalui ujung plasenta ini.

Penyakit Kembung atau Timpani

Penyakit ini dipicu oleh kegagalan tubuh kambing dalam mengeluarkan produk berupa gas yang berasal dari proses pencernaan di dalam lambung.

Gejala yang dapat dilihat antara lain kambing terlihat gelisah, susah benafas, perut sebelah kiri bagian atas terlihat kembung dan jika ditepuk-tepuk mengeluarkan bunyi agak keras seperti kendang.

Upaya pencegahan yang bisa dilakukan adalah dengan tidak memberikan hijauan yang masih terlalu muda atau hijauan yang basah atau hijauan yang basah oleh embun.

Langkah pengobatan sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan mengusahakan kambing tetap berdiri, selanjutnya mulut diganjal agar sedikit terbuka, diberi minum minyak kacang atau minyak kelapa sebanyak 100 sampai 200 mililiter, kemudian memijat perlahan bagian perut yang kembung untuk membantu mengeluarkan angin.

Penyakit Diare atau Mencret

Penyakit ini juga sering menyerang kambing PE yang biasanya di sebabkan makanan sejenis yang berlebihan atau karena kambing memakan hijauan makanan ternak yang berupa daun yang masih terlalu muda yang berlebihan.

Untuk mengatasi penyakit Mencret pada kambing etawa cukup menggunakan buah mahkota dewa.

Caranya adalah dengan mengiris – iris beberapa buah mahkota dewa kemudian campukan dengan garam serta air panas. Sesaat setelah dingin, minumkan pada kambing yang terserang diare atau mencret tersebut.

Jika susah menemukan buah mahkota dewa, bisa dilakukan terapi makanan kambing dengan mencampur daun jambu biji yang di campur dengan garam secukupnya

Ecthyma Contagiosa

Penyakit ini disebabkan oleh virus, dan dapat menular kepada manusia.

Tanda penyakit ini, terdapat luka-luka pada bibir yang bisa menyebar hingga sela-sela kuku, bahkan keambing pada kambing betina.

Selain itu, biasanya diikuti dengan mengurusnya badan kambing, dan nafsu makan juga menurun.

Pengobatan dapat dilakkan oleh dokter dengan menyuntikan antibiotik jenis Leokonomisin.

Referensi:

Seftiarini, Nurul. 2011. Studi Komparasi Pengelolaan Peternakan Kambing Peranakan Etawa (PE) di Dusun Nganggring & Dusun Kebonan di Kabupaten Sleman. Program Studi Pendidikan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta.

Sutama, I Ketut.2011.Kambing Peranakan Etawah Sumberdaya Ternak Penuh Berkah.Balai Penelitian Ternak Ciawi Bogor.Badan Litbang Pertanian Edisi 19-25 Oktober 2011 No.3427 Tahun XLII.

 

(Visited 142 times, 1 visits today)
Silahkan share di:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan komentar