Manfaat Pupuk Kandang Ayam Komplit, Terakhir Bisa Buat Pakan

Silahkan share di:

Pupuk kandang ayam vs kambing dan sapi

Dulu saya selalu membanding – bandingkan antara pupuk kandang yang berasal dari kotoran ayam, kambing dan sapi.

Kira – kira bagus mana ya?

Tapi sekarang setelah banyak menulis tentang pupuk kandang, hal itu sudah tidak lagi saya lakukan.

Hal ini karena ketiga – tiganya adalah sampah. Dan sebisa mungkin sampah harus bisa dimanfaatkan kembali (reuse).

Penggunaan kembali limbah peternakan seperti kotoran ayam adalah digunakan sebagai pupuk.

Dengan demikian bisa membantu untuk meningkatkan produktifitas ekonomi di bidang yang lain. Misalnya untuk pertanian dan perikanan.

Kemudian limbah peternian digunakan kembali untuk mendukung kemajuan di bidang peternakan.

Ini seperti sirkulasi yang tidak ada putusnya.

Menurut saya, pupuk dari kotoran ayam, kambing dan sapi tidak bisa ditentukan mana yang terbaik. Kecuali ketiganya di bandingkan secara fair.

Dan itu cukup merepotkan.

Alasannya adalah: Konsentrasi atau kandungan unsur hara dalam masing – masing pupuk tersebut tidak sama.

Jelas nilainya tidak akan sama. Karena kandungan unsur seperti nitrogen, kalium dan fosfor dalam kotoran ditentukan oleh beberapa faktor.

Diantara faktor tersebut adalah pakan dan sistem pencernaan dari hewan.

Pakan dari ayam mengandung protein kasar yang tinggi. Biasanya kandungan PK dari pakan ayam minimal 17% ke atas.

Sedangkan pakan untuk ruminansia, rata – rata kandungan protein kasar dari pakannya lebih rendah.

Dari segi sistem pencernaan apalagi. Hewan ruminansia memiliki pencernaan yang lebih kompleks dan berlangsung lebih lama. Sehingga membuat nutrisi yang terserap bisa lebih baik.

Berbeda dengan unggas yang pencernaannya lebih sederhana dan berlangsung lebih singkat.

Dengan perbedaan sistem penceraan ini, tentu yang keluar juga berbeda bukan?

Makanya, kalau dibandingkan, pupuk kandang ayam, kambing dan sapi dengan jumlah yang sama, akan memberikan hasil yang berbeda.

Karena jumlah yang harus disamakan adalah kandungan unsur haranya, bukan jumlah beratnya. Itu kalau mau dibandingkan secara fair.

Oleh karena itu, mari kita sama – sama lihat lebih dalam lagi mengenai pupuk kandang dari kotoran ayam ini.

Kandungan unsur hara pupuk kandang ayam

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, kandungan unsur hara dari kotoran ayam juga dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Faktor yang bisa mempengaruhinya adalah jenis pakan dan penyimpanan dan pengolahannya.

Di bawah ini nanti ada beberapa hasil dari uji laborat mengenai kandungan unsur hara yang terdapat pada kotoran ayam.

Nilainya mungkin ada sedikit perbedaan. Tapi itu bisa kita kembalikan lagi pada pernyataan di atas, bahwa jumlah unsur hara kotoran ayam dari peternakan satu bisa berbeda dengan peternakan yang lain.

Dari beberapa sumber ilmiah, kandungan unsur hara pada kotoran ayam adalah sebagai berikut.

kandungan-unsur-hara-pupuk-kandang-ayam

Kandungan unsur hara pupuk kandang ayam [1]

Kandungan unsur hara pupuk kandang ayam [2]

Kandungan unsur hara pupuk kandang ayam [3]

Tabel – tabel di atas adalah kandungan unsur hara yang ada pada kotoran atau kompos ayam.

Untuk mengetahui apakah nilai ini lebih tingi atau lebih rendah dari kotoran sapi atau kambing, silahkan baca di artikel ini.

Membuat kompos dari kotoran sapi.

Membuat kompos dari kotoran kambing.

Saya pernah menulis tentang kompos dari kambing dan sapi di artikel tersebut.

Fermentasi pupuk kandang ayam

Untuk mempercepat kematangan dari kotoran ayam ini, bisa dilakukan dengan melakukan fermentasi.

Caranya cukup mudah dan sederhana. Bahan – bahannya juga tidak sulit dan mudah untuk didapatkan.

Bahan – bahan yang perlu dipersiapkan adalah kotoran ayam, Starter, dan bahan lain sebagai sumber bahan organik tambahan.

Starter yang bisa digunakan dan paling mudah adalah EM4. Untuk bahan tambahan bisa menggunakan sekam padi dan dedak atau bekatul.

Detail bahannya adalah sebagai berikut.

Kotoran ayam 15 kg.

Em 4 10 ml.

Molases 10 ml.

Air 1 liter.

Sekam 5 kg.

Dedak 0,5 kg.

Langkah – langkahnya adalah sebagai berikut.

Aktifkan terlebih dahulu EM4 nya. Caranya Em4, Molases dan air dicampur jadi satu dan diaduk sampai merata.

Kemudian diamkan selama setidaknya selama 24 jam supaya bakteri yang ada pada EM4 sudah aktif.

Setelah starter diaktifkan, kemudian campurkan ke kotoran ayam, sekam dan dedak. Diaduk sampai merata.

Buat menjadi seperti guludan dan ditutup dengan plastik atau karung. Kompos ini diperam selama 8 hari. Setiap 3 hari di bolak – balik.

Setelah 8 hari, setidaknya pupuk kompos dari kotoran ayam ini sudah bisa digunakan.

Menurut penelitian [4], membuat kompos dari kotoran ayam dengan cara tersebut hasil uji kandungan unsur haranya adalah sebagai berikut.

Hasilnya bisa dikatakan cukup lumayan meskipun masih kalah dengan pupuk komersial. Tapi biaya yang kita perlukan jauh lebih murah.

Kalau mau lebih murah lagi, kita bisa menggunakan starter lokal atau MOL.

Untuk membuat fermentasi dengan Mol ini, bahan – bahan yang diperlukan adalah.

  • Wadah dengan penutupnya, misalnya toples.
  • Air leri atau air cucian beras sebanyak 2,5 liter.
  • Gula merah 62,5 gram.
  • Hati pisang 1,25 cm.
  • Plastik atau penutup.
  • Kotoran ayam 2 kg.

Langkah – langkah pembuatannya bisa mengikuti panduan berikut ini.

Kita buat molnya terlebih dahulu.

Hati pisang dicacah kecil – kecil, gula merah dihaluskan dan dimasukkan ke air leri. Semuanya diaduk sampai merata.

Kemudian masukkan ke toples dan tutup rapat. Setiap hari, diaduk 2 – 3 kali. Lakukan selama 7 hari. Setelah ini insyaAllah Molnya sudah jadi dan siap digunakan. Yang dipakai adalah airnya saja.

Ketika molnya sudah jadi bisa digunakan untuk fermentasi kotoran ayamnya. 10 ml MOL, bisa dipakai untuk fermentasi kotoran ayam sebanyak 2 kg.

Fermentasi dengan mol bisa dilakukan selama 5 hari.

Hasilnya kandungan unsur haranya menurut penelitian [3] adalah seperti ini.

Pupuk organik cair kotoran ayam

Selain dimanfaatkan dalam bentuk kompos, kotoran ayam juga bisa dibuat dalam bentuk pupuk organik cair.

Tapi perlu diingat, pembuatan pupuk organik baik itu cair maupun bokasi, dengan teknik pembuatan yang sederhana hasilnya masih jauh di bawah standar yang diharuskan.

Misalnya pembuatan kompos atau poc dengan bahan yang terdiri dari kotoran kambing, sapi atau ayam saja. Tanpa bahan tambahan lain, kandungan unsur haranya masih seadanya.

Tapi ini bukanlah persoalan yang serius. Standarisasi hanyalah digunakan untuk perlindungan konsumen supaya tidak kecewa.

Kalau untuk penggunaan sendiri, tidak masalah berapapun kandungan kandungan unsur haranya. Pupuk tetap masih bisa digunakan.

Supaya bisa tetap memenuhi kebutuhan unsur hara yang dibutuhkan tanaman, mungkin dosis pemberiannya lebih diperbanyak. Atau, kalau dalam bentuk pupuk organik cair, kepekatannya lebih ditingkatkan.

Untuk membuat pupuk organik cair dari kotoran ayam caranya juga tidak sulit. Kita bisa menggunakan metode dan bahan – bahan yang sederhana saja.

Bahan utamanya adalah kotoran ayam itu sendiri.

Air, Gula atau molases.

Wadah. Bisa toples, tong , drigen atau semacamnya.

Pengaduk, Plastik untuk menutup dan tidak lupa starter bakterinya.

Untuk starter bakteri bisa menggunakan EM4 atau ragi tape.

Kalau menggunakan em4, maka em4 nya harus diaktifkan terlebih dahulu.

Caranya bisa dilihat di artikel sebelumnya. Sudah pernah saya tuliskan di artikel – artikel saya sebelumnya.

Diantaranya bisa dilihat di artikel di bawah ini.

Membuat pupuk kompos dari kotoran kambing dengan EM4.

Membuat pupuk kompos dari kotoran sapi dengan EM4.

Kalau males buka linknya saya berikan saja langsung di bagian selanjutnya.

Membuat pupuk organik cair dari kotoran ayam dengan ragi tape

Siapkan kotoran ayam, jumlahnya sekitar 1 kg.

Ragi tape 3 gram (mungkin 2 – 3 butir) dihaluskan.

Gula pasir atau tetes tebu sebanyak 10 gram.

Air 5 liter.

Kotoran ayam, ragi tape, gula dan air dimasukkan kedalam wadah. Bisa pakai ember, botol atau semacamnya.

Semua bahan diaduk sampai merata.

Setelah itu ditutup rapat dengan plastik dan diikat.

Setiap hari dilakukan pengadukan dan ditutup kembali.

Ciri – ciri pupuk organik cair dari kotoran ayam yang sudah jadi adalah sudah tidak adanya perubahan suhu, warna dan bau.

Menurut penelitian[5], untuk bisa mencapai kondisi stabil membutuhkan waktu yang cukup lama. Kurang lebih sekitar 34 hari waktu yang diperlukan.

Suhu akhir 28 0C, tidak berbau dan warna coklat muda. Tidak berbau itu artinya bau tai ayamnya sudah tidak tercium lagi.

Membuat pupuk organik cair dari kotoran ayam dengan EM4

Kalau menggunakan EM4, cara dan jumlah bahannya sama dengan cara di atas. Bedanya, untuk ragi tape kita ganti dengan EM4.

Jumlah EM4 yang sudah diaktifkan adalah sekitar 2,5 liter.

EM4 nya itu yang sudah aktif ya jadi bukan 2,5 botol em4 melainkan 2,5 liter em4 yang sudah dicairkan dan diaktifkan.

Sebenarnya baik dengan ragi tape atau em4, hasilnya tidak begitu berbeda.

Menurut penelitian yang sama[5], kandungan unsur hara dari kedua cara di atas adalah sebagai berikut.

Jika tertarik untuk membuat pupuk organik cair dari kotoran ayam ini, silahkan dicoba cara di atas.

Dosis efektif pupuk kandang ayam

Kalau membahas dosis yang efektif dari pupuk kotoran ayam ini, nilainya mungkin akan berbeda – beda.

Hal ini karena dosis atau jumlah pupuk juga dipengaruhi oleh kondisi tanah sebelumnya.

Bisa jadi jumlah yang efektif adalah 10 ton per hektar, 12 atau bahkan 30 ton per hektarnya.

Jumlah tersebut bukanlah jumlah yang sedikit bukan? 12 ton itu mungkin volumenya hampir 2 truk.

Hal ini karena jumlah unsur hara yang ada pada pupuk kandang baik itu ayam, kambing ata sapi sedikit.

Berbeda dengan pupuk anorganik yang jumlah unsur haranya memang diperkaya supaya jumlah ketersediaan unsur haranya lebih banyak.

Sehingga, untuk pupuk anorganik per hektar lahan tidak sampai membutuhkan jumlah pupuk berton – ton.

Akan tetapi, kalau kita usaha ternak bisa berkesinambungan dengan pertanian, masalah limbah ternak ini harusnya tidak menjadi persoalan lagi.

Produksi limbah ternak bisa dengan mudahnya terserap oleh pertanian. Mengingat kebutuhan lahan akan pupuk kandang ini sangat tinggi.

Tapi sepertinya masih banyak petani yang kurang percaya diri dengan penggunaan pupuk kandang ini.

Maka dari itu, mari kita lihat beberapa penelitian yang menggunakan pupuk kandang ayam dengan berbagai macam dosisnya.

Pupuk kandang ayam untuk kacang tanah

Yang pertama adalah pupuk kandang ayam untuk tanaman kacang tanah. Tanaman ini ditanam di tanah entisol.

Tahan entisol dalam ilmu geografi adalah tanah yang masih baru. Secara awam, ciri tanah jenis ini dapat dengan mudah kita kenali dengan teksturnya yang berpasir, debu dan lempung.[1]

Kandungan unsur hara dari tanah ini cukup rendah dan derajat keasamannya rendah (bersifat asam).

Menurut penelitiannya, untuk tanah jenis ini, jumlah terbaik pupuk kandang ayam yang digunakan adalah sebanyak 12 ton/hektarnya.

Pupuk kandang ayam untuk mentimun

Masih dengan jenis tanah yang sama, yaitu tahan asam. Penggunaan pupuk kandang ayam ini untuk tanaman mentimun.[2]

Untuk tanaman mentimun, dosis yang efektif dari pupuk kandang ayam ini adalah sebanyak 15 – 25 ton/hektarnya.

Dengan jumlah pupuk sebanyak itu, bobot buah mentimunnya bisa 330 – 460 gram per tanamannya.[2]

Pupuk kandang ayam untuk hijauan (HMT)

Tidak hanya untuk pertanian. Penggunaan pupuk kandang ayam juga digunakan kembali untuk mendukung sektor peternakan ruminansia.

Akan tetapi manfaatnya lebih khusus untuk memaksimalkan produksi hijauan atau makanan ternak.

Kebetulan dalam penelitiannya, hijauan atau rumput yang ditanam adalah Bachiaria humidicola. Hijauan yang cukup sering ditanam khusus untuk pakan ternak ruminansia seperti kambing dan sapi.

Pemberian pupuk kandang ayam ini, sangat jelas bisa meningkatkan produksi hijauan tersebut.

Pupuk kandang ayam vs kambing vs sapi

Rumput yang dipupuk dan yang tidak dipupuk, menunjukkan hasil produksi yang sangat berbeda.

Selain itu, menggunakan pupuk kandang ayam untuk rumput ini hasilnya lebih baik daripada pupuk kompos dari kambing dan sampi.

Dengan catatan, dosisnya disamakan yaitu 30 ton per hektar.

Untuk itu, secara singkat hasilnya dari penelitian yang dilakukan[6] dapat dilihat di tabel di bawah ini.

Mst adalah minggu setelah tanam. Dan hasil di atas adalah hasil dari penelitian yang diambil pada minggu ke delapan setelah hijauan ditanam.

Ok, saya kira cukup sekian untuk pembahasan pupuk kandang dari kotoran ayam ini.

Sebenarnya masiha ada topik yang menarik yaitu kotoran ayam ini digunakan sebagai campuran pakan unggas lagi.

Tapi sepertinya untuk bahasan tersebut membutuhkan banyak fokus sehingga insyaAllah saya akan menulisnya di artikel lain.

Silahkan diambil manfaatnya, kalau ada. Kalau ada kekurangan saya mohon maaf.

Sampai jumpa lagi….

Referensi

[1] Sabran, Ilyas, Yosep Pata’dungan Soge, H. Imam Wahyudi. Pengaruh Pupuk Kandang Ayam Bervariasi Dosis Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogeae L. ) Pada Entisol Sidera. e-J. Agrotekbis 3 (3) : 297 -302 , Juni 2015.

[2] Tufaila, M. Dewi Darma Laksana dan Syamsu Alam. Aplikasi Kompos Kotoran Ayam untuk Meningkatkan Hasil Tanaman Mentimun ( Cucumis sativus L.) di Tanah Masam. Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo, Kendari. JURNAL AGROTEKNOS Juli 2014 Vol. 4 No. 2. Hal 120 -127.

[3] Hariatik. Perbandingan Unsur NPK pada Pupuk Organik Kotoran Sapi dan Kotoran Ayam dengan Pembiakan Mikro Organisme Lokal (MOL). Program Studi Pend. Sains, Program Pasca Sarjana, Universitas Sebelas Maret.

[4] Sholikah, Miftakhul Hidayatus, Suyono, dan Prima Retno Wikandari. Efektifitas Kandungan Unsur Hara N Pada Pupuk Kandang Hasil Fermentasi Kotoran Ayam Terhadap Pertumbuhan Tanaman Terung (Solanum melongena L.). Prodi Kimia, Jurusan Kimia, Universitas Negeri Surabaya. UNESA Journal of Chemistry Vol. 2, No. 1, January 2013.

[5] Wardhanita, Mia. 2015. Pembuatan Pupuk Organik Cair dari Kotoran Ayam Dengan Aktivator Ragi Tape dan Aktivator Effective Microorganisms 4 (EM4). Program Studi Budidaya Tanaman Perkebunan Jurusan Manajemen Pertanian Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.

[6] Satata, Budya dan Maria Erviana Kusuma. 2014. Pengaruh Tiga Jenis Pupuk Kotoran Ternak (Sapi, Ayam, dan Kambing) Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Rumput Brachiaria Humidicola. Jurnal Ilmu Hewani Tropika Vol 3. No. 2. Desember 2014 ISSN : 2301-7783.

Silahkan share di:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan komentar