Pilih Telur Puyuh Ringan, Jika Ingin Hasil DOQ betina.

Silahkan share di:

Usaha ternak puyuh hasilnya adalah berupa telur puyuh konsumsi, daging puyuh dan DOQ.

Untuk telur puyuh konsumsi, sudah pernah saya tulis dalam artikel Analisa usaha ternak puyuh 1000 ekor.

Jika berkenan membacanya, silahkan dibuka link artikelnya.

Untuk menghasilkan DOQ atau anakan puyuh, maka telur yang dihasilkan harus ditetaskan.

Manajemennya pemeliharannya sedikit berbeda dengan telur puyuh untuk konsumsi. Untuk menghasilkan telur puyuh tetas, maka telur harus dalam keadaan fertile.

Keadaan fertile ini harus menyertakan puyuh jantan dalam satu kandang dengan puyuh betina.

Manajemen untuk pembibitan puyuh ini silahkan baca di artikel di bawah ini.

Manajemen ternak puyuh dari magang.

Mulai dari sini, saya menganggap kita sudah bisa menghasilkan telur puyuh yang fertil atau terbuahi.

Jika tujuan kita berternak puyuh untuk menghasilkan bibit puyuh, maka yang paling tinggi permintaannya adalah bibit puyuh petelur.

Untuk menghasilkan bibit puyuh petelur, maka DOQ yang paling diinginkan adalah DOQ yang berjenis kelamin betina.

Ada cara atau trik yang bisa digunakan untuk menentukan jenis kelamin puyuh dari bentuk dan berat telurnya.

Metode ini memang akan sedikit merepotkan karena harus menyeleksi telur puyuh satu per satu dan sedikit ada tambahan alat lain.

Alat tambahan yang diperlukan adalah jangka sorong.

 

 

Menyeleksi jenis kelamin puyuh bisa dilakukan setelah telur menetas. Biasanya ini dilakukan setelah puyuh masuk fase grower.

Akan tetapi, jumlah perbandingan antara puyuh jantan dan betina sekitar 50:50.

Cara ini selain bisa menentukan puyuh jantan dan betina, juga bisa menentukan telur yang fertile dan tidak fertile.

Sehingga nanti telur yang masuk ke mesin penetas tingkat penetasannya bisa sangat tinggi.

Sedangkan telur yang tidak lolos bisa langsung di jadikan sebagai telur konsumsi.

Bentuk telur yang sesungguhnya

Bentuk telur puyuh itu bisa dikategorikan menjadi tiga bentuk.

Pertama adalah telur lancip, telur sedang dan telur bulat.

Penjelasannya adalah seperti ini.

Tolong perhatikan gambar telur di bawah ini. Kalau anda perhatikan dengan sangat detail, maka bentuk telur – telur puyuh tersebut ada sedikit perbedaan.

Sekarang, untuk menentukan apakan telur lancip, sedang dan bulat harus menggunakan alat bantuan dan sedikit kemampuan matematika.

Alat bantuannya sudah saya singgung di atas, yaitu jangka sorong.

Pada gambar di bawah ini, ada bagian telur yang disebut sebagai panjang telur dan lebar telur.

Ukurlah panjang dan lebar dari telur puyuh. Setelah itu hitung dengan cara seperti ini.

Lebar telur dibagi dengan panjang telur kemudian kalikan 100%. Catat hasilnya.

Apakah telur tersebut termasuk kategori telur lancip, sedang atau bulat dapat ditentukan dari gambar di bawah ini.

Jika hasilnya adalah antara 70,59% – 73,53%, maka telur puyuh tersebut bisa dikatakan sebagai telur yang lancip.

Untuk kategori telur yang sedang dan bulat dapat dilihat pada gambar di atas.

Kalau hasilnya 100%, berarti yang anda ukur bukannya telur puyuh, melainkan bekel dan kelereng.

Hampir sama dengan bentuk telur, berat telur juga ada yang disebut ringan, sedang dan berat.

Benarkan bentuk dan berat telur punya pengaruh?

Mungkin ada anggapan bahwa bentuk telur memiliki pengaruh terhadap tingkat fertilitas dari telur puyuh.

Telur yang lancip lebih tinggi daya tetasnya sedangkan telur yang lebih bulat tidak.

Tapi ini masih sedikit simpang siur. Dari beberapa penelitian yang pernah dilakukan, hasilnya menunjukkan adanya perbedaan hasil.

Nanti kita akan lihat pada bagian akhir artikel ini.

Begitu juga dengan berat telur. Telur puyuh yang lebih berat katanya memiliki tingkat daya tetas yang tinggi.

Selain itu, telur yang lebih berat dianggap lebih menghasilkan doq jantan sedangkan bobot telur puyuh yang lebih ringan cenderung enghasilkan doq betina.

Daripada Anda fokus pada bentuk dan berat telur, lebih baik fokus pada manajemen pembibitan sejak awal.

Bentuk telur dan berat telur menurut saya hanyalah faktor tidak langsung. Hasilnya tidak bisa diupayakan.

Tidak ada cara yang bisa dilakukan supaya puyuh bisa menghasilkan telur lancip atau bulat.

Apakah ada?

Lebih baik Anda fokus pada pemilihan bibit yang berkualitas dan manajemen pemeliharaan yang baik.

Anda bisa membacanya di artikel di bawah ini.

Manajemen ternak puyuh.

Manajemen yang baik sejak awal menurut saya lebih efektif daripada harus menyeleksi telur puyuh satu per satu.

Waktu yang diperlukan untuk menghitung panjang, lebar, berat telur puyuh kemudian menghitung indeks telurnya paling tidak butuh waktu 20 detik.

Jika harus menyeleksi 800 telur, waktu yang dibutuhkan adalah 16.000 detik atau sekitar 4 jam lebih.

Bayangkan jika harus menghabiskan waktu 4 jam setiap hari hanya untuk menyeleksi telur untuk di tetaskan.

Sangat merepotkan bukan?

Jika anda masih tertarik untuk membaca penelitiannya, silahkan lanjutkan membaca artikel ini.

Penelitiannya cukup menarik, dan semoga bisa memberi manfaat.

Penelitian tentang bentuk telur puyuh

Kita bahas penelitian pertama tentang bentuk telur burung puyuh.[1] Penelitian ini untuk mengetahui apakah ada hubungan antara bentuk telur lancip terhadap fertilitas telur, daya tetas, lama tetas dan berat tetas.

Untuk hasilnya saya hanya akan membahas tentang fertilitas telur dan daya tetasnya.

Hal ini karena untuk lama tetas dan berat tetas telur puyuh, tidak ada hubungannya dengan bentuk telur.

Fertilitas dan daya tetas telur dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Variabel

Bentuk Telur

Lancip

Sedang

Bulat

Fertilitas telur (%)94,2882,8588,57
Daya tetas (%)93,9393,177,41

Meskipun perbedaannya cukup sedikit, tapi bentuk telur lancip memiliki nilai fertilitas dan daya tetas yang paling tinggi.

Meskipun begitu, tapi kesimpulan peneliti menganggap bahwa bentuk telur tidak berpengaruh terhadap daya tetas dan fertilitas telur puyuh.

Saya kira perlu untuk menyampaikan beberapa poin di bawah ini.

Jumlah telur puyuh total yang digunakan dalam penelitian hanya 105 butir.

Jumlah telur lancip, sedang dan bulat masing – masing 35 butir.

Kalau semua telur yang menetas, baik lancip, sedang dan bulat dijumlah, fertilitas total masih cukup tinggi yaitu sekitar 88%.

Jadi, kalau Anda harus membedakan hanya telur yang lancip atau bulat untuk ditetaskan, saya kira hanya buang – buang waktu dan tenaga.

Toh, hasilnya kalau dimasukkan semua ke mesin tetas, jumlah hasil tetasannya tetap bagus.

Sekarang kita akan lihat penelitian dari peneliti yang berbeda.

Penelitian ini menggunakan telur puyuh sebanyak 162 butir. Kemudian telur – telur puyuh tersebut dikelompokkan berdasarkan bentuk dan beratnya seperti pada penelitian di atas.

Hasilnya pun sama seperti pada penelitian yang pertama. Yaitu bentuk telur tidak ada hubungnnya dengan jenis kelamin DOQ, berat tetas dan lama tetas.[2]

Akan tetapi ada satu hal yang menarik dari penelitian ini. Yaitu, bobot telur puyuh, mempengaruhi terhadap jenis kelamin DOQ yang dihasilkan.

Hasilnya akan saya bahas pada bagian setelah ini.

Berat telur puyuh adalah identik dengan kualitas

Bentuk telur janganlah terlalu diperhatikan. Tidak begitu masalah apakah telur puyuh nantinya berbentuk lancip, sedang atau bulat.

Karena kualitas pada telur bukan itu intinya.

Kualitas telur sebenarnya berasal dari kualitas bibitnya. Pejantannya, indukannya, genetiknya, pakan dan manajemennya.

Akan tetapi, biasanya telur yang berkualitas ditandai pada berat telurnya.

Telur yang lebih berat, ternyata memiliki kualitas yang lebih baik daripada telur yang ringan.

Dari beberapa penelitian berikut ini, semuanya memberikan hasil kesimpulan yang hampir senada.

Meskipun telur puyuh memberikan hasil yang lebih baik, perbedaannya dengan telur ukuran sedang dan ringan tidaklah begitu banyak.

Perlu difahami lebih, bahwa telur yang ringan bukan berarti telur tersebut jelek. Dan telur yang berat adalah telur yang baik.

Telur ringan, sedang dan berat ini ketiganya masih dalam range telur yang normal.

Semuanya masih memiliki peluang yang sama untuk ditetaskan. Asalkan, telur puyuh tersebut berasal dari bibit dan manajemen yang baik.

Telur berat, isinya puyuh jantan

Terakhir ini hanya sebagai informasi hiburan saja. Bahwa telur yang berat nantinya DOQ nya jantan.

Memang ada sebuah jurnal penelitian yang menunjukkan hasil seperti itu.[2]

Dari telur puyuh sebanyak 54 butir berukuran ringan, yang menetas adalah sebanyak 31 butir.

Berapa persen itu yang menetas? Hanya 57%. Cukup sedikit kan.

Dari 31 butir yang menetas, 29 nya DOQ betina dan 2 ekor DOQ jantan.

Sedangkan untuk telur ukuran sedang, dari 54 butir telur yang menetas adalah sebanyak 33 butir. Persentase menetasnya lebih tinggi daripada telur yang ringan.

Dari 33 butir tersebut, 15 ekor adalah DOQ jantan dan 18 adalah DOQ betina.

Untuk telur yang berat, jumlah telur yang menetas hanya 28 butir. Malah yang paling sedikit.

Akan tetapi, dari 28 butir tersebut 2 ekor adalah DOQ betina dan sisanya DOQ jantan.

Sekarang kita tahu

Sekarang kita jadi tahu, bahwa kualitas telur pada puyuh itu ditentukan dari kualitas bibit dan manajemen perawatannya.

Manajemennya bisa dibaca di artikel ini.

Manajemen pembibitan puyuh.

Bukan pada bentuk dan berat telur itu sendiri.

Memang ada kajian ilmiah yang mengelompokkan telur puyuh berdasar pada bentuk dan berat telur.

Tapi menurut saya itu masih sebatas kajian teori.

Dari beberapa jurnal penelitian yang saya baca, hasil – hasilnya masih belum ada konsistensi.

Studi satu hasilnya seperti ini sedangkan studi yang lain hasilnya berbeda. Ini akan membingungkan kalau saya sampaikan semuanya.

Baiklah,,,semoga bisa bermanfaat ya artikel ini. Sampai ketemu lagi dengan saya di artikel – artikel saya berikutnya.

Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk mampir. Oh iya, silahkan share jika ada pengalaman penetasan telur di kolom komentar di bawah.

Referensi

[1] Fitriansyah, Agy Gun Gun, Ulfa Indah Laela Rahmah, Dini Widianingrum. 2016. Performa Telur Tetas Burung Puyuh Jepang (Coturnix coturnix japonica) Berdasarkan Perbedaan Bentuk Telur. Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Majalengka.

[2] Mahi, Muhammad, Achmanu, dan Muharlien. 2012. Pengaruh Bentuk Telur dan Bobot Telur Terhadap Jenis Kelamin, Bobot Tetas dan Lama Tetas Burung Puyuh (Coturnix coturnix japonica). Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya

Silahkan share di:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan komentar