tanaman indigofera

Tanaman Indigofera Budidaya Untuk Pakan

 

Apa itu tanaman indigofera?

Indigofera adalah salah satu tanaman penting dalam kehidupan manusia yang tergolong dalam jenis tanaman polong – polongan atau kacang – kacangan. Hal ini karena buah dari tanaman indigofera bentuknya polong.

buah dari tanaman indigofera

Tanaman ini memiliki nama lain dalam bahasa jawa yang berbeda – beda di tiap daerah. Ada yang menyebutnya sebagai Tarum, Nila, Indigo dan Tom.

Dalam dunia pakan ternak, tanaman ini termasuk dalam jenis tanaman legum. Sebagai sumber protein yang bagus untuk ternak. Nanti, Kita akan bahas detail mengenai ini.

Indigofera sp. Memiliki jenis yang sangat banyak sekali. Ada yang menyebutkan sekitar 700 an. Tapi jenis yang paling mudah ditemui adalah Indigofera spicata, Indigofera stragalina, Indigofera tinctoria, Indigofera natalensis, Indigofera arrecta, Indigofera zollingeriana dan Indigofera australis.

Ciri – ciri tanaman indigofera

Meskipun jenisnya sangat banyak, karena ia sebagai tanaman legum, secara fisik indigofera ini bisa diketahui dengan ciri – ciri sebagai berikut:

  • Tanaman tumbuh tegak, mempunyai banyak cabang dan akar bisa tumbuh cukup dalam ke tanah.
  • Daun berwarna hijau terang dan bunga berwarna ungu.
  • Tinggi bisa sampai 2 meter dengan diameter kayu bisa berukuran 20 cm. Cukup besar untuk ukuran tanaman legum.

Contoh dari tanaman indigofera dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

gambar tanaman indigofera

Sedangkan jenis untuk tanaman indigofera ini jumlahnya sangat banyak sekali. Ada 750 nama untuk indigofera ini. Jika berniat ingin tahu semuanya, silahkan lihat di wikipedia bahasa inggris dengan kata pencarian indigofera sp.

Manfaat tanaman indigofera

Dengan jenis yang sebanyak itu, dan sudah tersebar di berbagai wilayah di dunia, pasti banyak manfaat yang bisa diambil dari tanaman ini.

Manfaat paling utama dari tanaman ini adalah sebagai bahan pewarna dan sebagai tanaman herbal.

Sekarang, di Indonesia indigofera mempunyai manfaat baru yaitu sebagai pakan ternak. Indigofera sekarang banyak dibudidayakan karena kualitasnya yang bagus untuk menjadi sebuah pakan.

Indigofera untuk pewarna

Tidak semua tanaman indigofera bisa digunakan sebagai bahan pewarna. Hanya beberapa yang banyak digunakan.

Jenis yang biasa dipakai untuk pewarna ini adalah indigofera tinctoria dan indigofera suffruticosa. Warna yang dihasilkan adalah warna indigo pastinya.

pewarna dari tanaman indigofera

Indigofera untuk obat dan kesehatan

Dalam dunia perherbalan, indigofera dapat digunakan untuk hal – hal berikut:

  • Sakit gigi bisa diobati dengan indigofera articulata.
  • Mengurangi bengkak karena sengatan serangga dan gigitan ular bisa diobati dengan indigofera oblongifolia.
  • Penyakit tukak lambung bisa diobati menggunakan indigofera arrecta.
  • Bagian dari  Indigofera brevicalyx and Indigofera swaziensis bisa dipakai untuk sikat gigi.

Tanaman indigofera untuk pakan ternak

Sama halnya dengan tanaman legum lainnya, indigofera sangat bagus untuk pakan ternak.

Inilah kelebihan indigofera jika dibandingkan dengan tanaman hijauan lainnya.

  • Toleran dengan wilayah minim air. Sehingga, budidaya tanaman indigofera sangat cocok untuk jadi alternatif pakan saat musim kemarau.
  • Produktivitas hijauannya cukup tinggi.
  • Mengandung protein yang tinggi sehingga bagus untuk penggemukan ternak dan ternak sapi/kambing perah.
  • Memiliki nilai kecernaan yang tinggi sehingga akan lebih banyak nutrisi yang diserap oleh ternak daripada yang terbuang bersama kotoran.
  • Kandungan mineralnya sangat ideal terhadap kebutuhan ternak. Bisa membantu pertumbuhan ternak lebih optimal.
  • Anti nutrisi indigofera sangat rendah terutama tanin. Kandungan taninnya hanya 0,6 – 1,4 ppm.
  • Palatabilitasnya tinggi atau disukai oleh ternak.

Tanaman indigofera untuk kambing

Sebagai tanaman legum, indigofera lebih berfungsi sebagai sumber protein untuk kambing.

Protein sangat dibutuhkan terutama untuk kambing yang sedang dalam produksi tinggi.

Misalnya, kambing yang sedang masa pertumbuhan atau sedang dalam masa laktasi.

Dengan porsi pemberian yang lebih banyak, pertumbuhan ternak, kenaikan bobot harian dan produksi susu bisa menjadi lebih maksimal.

Meskipun demikian, tidak disarankan untuk menggunakan indigofera sebagai pakan tunggal. Tetap harus ditambah jenis pakan lain dalam pemberiannya, misalnya rumput.

Kita akan melihat seberapa baik daun indigofera ini bisa meningkatkan produksi ternak kambing. Entah itu dari pertumbuhan, kenaikan bobot badan dan produksi susunya.

Dengan begitu kita bisa memiliki gambaran tentang potensi pakan supaya ternak menjadi lebih efisien.

Kambing usia pertumbuhan

Komposisi terbaik dari tanaman indigofera untuk kambing usia pertumbuhan adalah 50% rumput dan 50% indigofera.[3]

Komposisi ransum tersebut bisa menghasilkan pertambahan bobot harian sebanyak rata – rata 44 gram/ekor/hari. Jika dibandingkan dengan kambing yang hanya diberi full rumput, PBBH nya hanya 37 gram/ekor/hari.

Ada selisih sekitar 7 gram per hari/ekor. Dengan kata lain, indigofera bisa meningkatkan kenaikan bobot harian sekitar 18% lebih tinggi daripada kambing dengan pakan rumput saja.

Pakan diberikan sebanyak 4% BK dari bobot kambing. Jika bobot kambing adalah 11 kg, maka jumlah pakan yang diberikan adalah 440 gram dalam berat kering. Berarti,  220 gram untuk indigofera dan 220 gram untuk rumput.

Jika diberikan dalam bentuk segar, kita perlu melihat data Berat kering dari masing – masing pakan.

Berat kering dari indigofera adalah 22% dan rumput lapangan BK 18%. Jadi, dalam bentuk segar, indigofera dan rumput yang diberikan masing – masing adalah sekitar 1 kg dan 1,2 kg.

Dari penelitian yang lain, ternyata memberikan hasil yang lebih baik.

Kambing dengan pemberian indigofera sebanyak 45% dalam ransum memberikan kenaikan bobot harian rata – rata sebanyak 52 gram/ekor/hari.[4]

Sedangkan kambing dengan pakan hanya rumput saja, PBBH nya hanya 28 gram/ekor/hari.

Ada peningkatan kenaikan PBBH 85% lebih banyak. Luar biasa.

Kenapa hasilnya bisa sangat berbeda dengan penelitian yang pertama?

Ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi.

Pertama adalah kualitas genetik dari ternak kambingnya. Tapi karena jenis kambing yang dipakai sama, yaitu boerka, maka penyebab perbedaan hasil ini mungkin karena faktor lain.

Kedua adalah usia dan teknik pemotongan indigofera. Semakin tua usia panen, kandungan nutrisinya semakin menurun, serat kasar meningkat dan kecernaannya lebih rendah.

Semakin muda usia pemotongan, kandungan nutrisinya semakin bagus tapi produksi hijauan yang diperoleh semakin sedikit

Indigofera pengganti konsentrat

Pakan dari kambing perah biasanya tidak meninggalkan konsentrat. Konsentrat ini bisa membooster produksi susu karena kandungan nutrisinya yang sangat bagus.

Pada umumnya, komposisi ransum untuk kambing perah adalah 60% rumput dan 40% nya adalah konsentrat. Bagaimana kalau 40% konsentrat ini diganti dengan indigofera?

Kalau harga konsentrat memang dirasa mahal, alternatifnya bisa memakai daun indigofera. Kalau kita lihat, kandungan nutrisi dari indigofera ini ternyata lebih tinggi daripada konsentrat. Terutama untuk kandungan protein kasarnya. Silahkan dibandingkan sendiri.

Jadi, secara tidak langsung pakan dari indigofera ini juga bisa dianggap sebagai pengganti konsentrat.

Kita akan melihat bukti bahwa pakan dari indigofera ini bisa memberikan hasil yang sama dari pakan konsentrat, bahkan lebih baik.

“Kambing saanen dengan ransum indigofera mampu memproduksi susu rata – rata 660 ml/ekor/hari dibandingkan hasil dari ransum konsentrat yang hanya 539 ml/ekor/hari. Sedangkan kambing PE produksi susu dari ransum indigofera 762 ml/ekor/hari dan ransum konsentrat rata – rata produksinya hanya 379 ml/ekor/hari.[5]

Data diambil dalam kondisi produksi susu diluar puncak produksi, indigofera diberikan dalam bentuk pelet dan ransum diberikan sebanyak 4% Berat kering dari bobot badan kambing.

Dalam bentuk pelet, kandungan nutrisi indigofera berbeda dengan yang kondisi hijauan segar. Terutama pada nilai berat keringnya. Berat kering dari pelet indigofera ini jauh lebih tinggi.

Perbandingan kandungan nutrisinya bisa dilihat pada tabel di bawah ini.

Kandungan NutrisiPelet IndigoferaHijauan indigofera
Bahan Kering (%)88,1121,97
Abu (%)6,416,14
Protein Kasar (%)25,6624,17
Serat Kasar (%)1415,25
Lemak Kasar (%)2,96,15
Beta N (%)39,14 
TDN (%)75,47 

Bahan kering pada pelet lebih tinggi karena sebelum dibuat pelet, daun indigofera dikeringkan terlebih dahulu sehingga kandungan airnya berkurang.

Bahan kering dari pelet ini jumlahnya hampir 4 kali lipat dari pada indigofera saat masih dalam bentuk hijauan.

Jadi, seumpama kesulitan untuk mendapat peletnya, jumlah hijauan yang kita berikan harus 4 kali lipat dari jumlah pelet indigoferanya.

Tanaman Indigofera untuk sapi

Jika efek tanaman indigofera untuk kambing sebegitu bagusnya, sama halnya untuk pakan sapi.

Kebanyakan hijauan yang diberikan ke ternak sapi adalah rumput gajah dan rumput raja. Rumput ini mudah sekali dibudidayakan dan memiliki kandungan nutrisi yang cukup lumayan.

Sebenarnya dengan pemeliharaan yang sederhana, sapi dengan pakan rumput gajah saja sudah bisa. Ini ada di artikel rumput gajah untuk pakan sapi.

Akan tetapi, sapi yang diberi ransum mengandung indigofera, pertambahan bobot hariannya lebih tinggi.

Menurut penelitian, sejumlah 60% indigofera dalam ransum bisa meningkatkan pertambahan bobot harian sapi potong 39% lebih tinggi.[6]

Dalam penelitian tersebut, ransum yang digunakan adalah full hijauan yaitu rumput gajah.

Kemudian rumput gajah sebagiannya diganti dengan hijauan indigofera. Sampai jumlah maksimal hijauan indigofera dalam ransum adalah sebanyak 60%.

Jadi, dengan pakan 40% rumput gajah dan 60% hijauan indigofera, pertambahan bobot harian sapi sekitar 0,5 kg/ekor/hari.

Kenapa hanya 0,5 kg? Ini tergantung dari jenis sapi potong yang dipelihara. Kalau untuk sapi PO kenaikan sebanyak ini sudah lumayan. Tapi kalau untuk kelas sapi import seperti simental dan limosin, kenaikan sebesar ini tergolong sedikit.

Jika tertarik untuk menggunakan ransum pakan seperti ini, teknisnya cukup mudah.

Cara menghitung pemberiannya sama dengan kambing di atas. Kita harus tahu berat badan sapi, berat kering rumput gajah dan indigofera, lalu kita bisa hitung jumlah perkiraan yang harus diberikan dalam bentuk segar.

Tanaman indigofera untuk ayam petelur

Kita tahu hijauan dari indigofera memiliki kualitas yang tinggi. Untuk ruminansia seperti kambing, domba dan sapi memang tidak ada masalah.

Tapi untuk unggas, ceritanya mungkin agak sedikit berbeda.

Yang menjadi berbeda karena serat kasar dari indigofera ini. Serat kasar sebanyak 15% memang tergolong kecil untuk ternak ruminansia. Tapi itu adalah jumlah yang besar untuk unggas.

Unggas butuh serat kasar jauh lebih kecil daripada itu. Hal ini karena unggas memiliki saluran pencernaan yang monogastrik.

Oleh karena itu, penggunaan tanaman indigofera untuk unggas, jumlahnya perlu dibatasi.

Saat ini memang belum banyak penelitian tentang daun indigofera untuk ternak unggas.

Namun, salah satu literatur menyebutkan bahwa untuk campuran ransum ayam petelur, jumlah indigofera bisa diberikan dalam jumlah 5 – 15%.[7]

Jumlah tersebut adalah jumlah optimal supaya produksi dari ayam petelur tidak terganggu

Budidaya indigofera

Kita harus mencoba untuk budidaya tanaman indigofera ini. Karena untuk bisa mendapat manfaat dari hijauan yang berkualitas ini, satu – satunya cara termudah adalah dengan menanamnya sendiri.

Tanaman ini bisa ditanam dari biji benihnya atau stek batang. Tapi, kalau belum ada tanamannya, lalu apa yang distek? Mau tidak mau diawal harus membeli bibitnya.

Bibit tanaman indigofera cukup mudah untuk didapatkan. Yang jual melalui online juga tidak sedikit. Silahkan cari sendiri ya untuk informasi penjualnya.

Tapi sebelum itu, ada dua hal yang harus ditentukan untuk budidaya indigofera ini.

Pertama, jenis indigoferanya dan kedua adalah lahan dan lokasi penanamannya.

Tidak semua jenis indigofera mudah untuk didapatkan. Saat ini yang sedang dikembangkan untuk pakan ternak adalah indigofera jenis Indigofera zollingeriana.

Keunggulan tanaman indigofera sebagai pakan hijauan

Ada jenis banyak legum yang kualitasnya juga sebagus indigofera. Misalnya lamtoro, kaliandra dan turi yang juga bagus sebagai sumber protein untuk kambing atau sapi.

Lantas, kenapa harus indigofera? Ini adalah alasan kenapa indigofera lebih unggul.

  1. Indigofera memiliki kualitas nutrisi yang lebih bagus. Tidak hanya nilai protein kasarnya, tetapi serat dan antinutrisinya juga kecil.
  2. Toleran dengan jenis tanah yang buruk. Indigofera bisa tumbuh cukup baik ditanah yang kondisinya kurang air, tanah basa dan tanah masam.
  3. Pertumbuhan dan produksi hijauan lebih tinggi. Indigofera bisa memproduksi hijauan segar sebanyak 33 ton/ha/tahun sedangkan gamal hanya 28 ton/ha/tahun.[8]

Teknis budidaya indigofera

1 . Pembenihan.

Biji indigofera direndam dengan air selama semalam. Setelah itu dikecambahkan dan disemai. Bisa disemai di nampan.

Setelah usia semai 10 hari, tanaman bisa dipindah ke polibag ukuran 0,5 kg.

Waktu yang diperlukan untuk penyemaian ini adalah antara 30 – 41 hari.

Bibit muda dipelihara di bawah naungan dengan menggunakan paranet naungan 65%.

Kalau penanaman dari stek batang, pilih batang yang pertumbuhannya bagus. Potong sepanjang 30 cm.

Jangan langsung ditanam tapi didiamkan terlebih dahulu selama 1 – 3 hari. Ujung yang ditanam ditaruh di atas.

2 . Pengolahan tanah

Untuk hasil yang lebih baik perlu dilakukan pemupukan lahan. Kecuali jika ingin hasil yang seadanya, pengolahan lahan bisa dilakukan sesuka hati.

Dosis pupuk kalau pakai kompos kandang adalah 5 ton/hektar. Kalau lahannya hanya 1000 meter persegi, pupuk kandangnya perlu 0,5 ton/hektar.

Tanpa dosis – dosisan, beri pupuk kandang per lubang tanamnya antara 250 – 300 gram.

3 . Berapa jarak tanam indigofera?

Jarak tanam indigofera memiliki beberapa referensi. Ada yang jarak tanamnya 1 m x 1,5 meter dan ada yang 1 meter x 0,5 meter.

Jarak tanam perlu diatur. Sistem tanam monokultur (lahan khusus ditanami indigofera), jarak tanam bisa diatur 1 meter x 1,5 meter.

Kalau menanamnya mau tumpang sari, berarti jaraknya diperlebar minimal 3 meter x 3 meter. Supaya tanaman utama tidak tertutup untuk mendapatkan sinar matahari.

4 . Perawatan

Untuk perawatan paling hanya menyiangi rumput gulma, penyiraman dan pemupukan foliar (pupuk daun semprot) kalau mau. Tidak disemprot juga tidak masalah.

Kalau niat, penanaman bisa menggunakan plastik mulsa. Ini bisa menekan timbulnya rumput liar dan bisa mengurangi air permukaan tanah untuk menguap.

5 . Pemanenan

Pemanenan pertama bisa dilakukan 60 hari setelah tanam. Dengan cara dipangkas.

Atau, kita menunggu sampai usia tanaman indigofera antara 6 – 8 bulan.

Pemangkasan setidaknya pada ketinggian 1 meter dari tanah.

Pemanenan selanjutnya dilakukan setiap 60 hari setelah pemangkasan sebelumnya.

Pengolahan hijauan indigofera

Jika lahan yang dimiliki cukup luas, maka hasil hijauan setiap kali panen akan melimpah. Untuk bisa disimpan dalam jangka waktu lama, maka panenan ini perlu diolah.

Pengolahan yang paling sederhana adalah dengan membuat tepung daun indigofera.

Karena langkah – langkahnya cukup sederhana dan alat yang dibutuhkan juga tidak terlalu mahal. Yang paling mahal mungkin hanya mesin gilingnya.

Langkah terbaik untuk membuat tepung indigofera ini ada di artikel ini. Silahkan dibaca.

Saya kira cukup sekian untuk tanaman indigofera ini, semoga bermanfaat. Tolong SHARE ya Bro, biar yang lain pada tahu juga.

Apa tanaman indigofera?

Indigofera Zollingeriana merupakan tanaman legum yang memiliki kandungan protein tinggi 25-31%, TDN minimal 70% dengan tingkat kecernaan bahan kering 75-78%.

Apakah indigofera sama dengan Gamal?

Beda. Keduanya sama – sama leguminosa, tapi jenisnya berbeda. Gamal nama latinnya Gliricidia sepium.

Referensi

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Indigofera

[2] http://www.litbang.pertanian.go.id/info-teknologi/1704/

[3] Simanihuruk,K. Dan J. Sirait. Pemanfaatan Leguminosa Pohon Indigofera sp. Sebagai Pakan Basal Kambing Boerka Fase Pertumbuhan. Loka Penelitian Kambing Potong Sumatera Utara. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2009.

[4] Tarigan, Andi dan S. P. Ginting. Pengaruh Taraf Pemberian Indigofera sp. Terhadap Konsumsi dan Kecernaan Pakan serta Pertambahan Bobot Hidup Kambing yang Diberi Rumput Brachiaria ruziziensis. Loka Penelitian Kambing Potong Sumatera Utara. JITV Vol. 16 No1 Th. 2011: 25-32.

[5] Titis Anugraheni P. A. 2011. Pemanfaatan Pellet Indigofera sp. Pada Kambing Perah Peranakan Etawah dan Saanen Di Peternakan Bangun Karso Farm. Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan IPB Bogor.

[6] Nurhayu, A. dan Daniel Pasambe. Indigofera Sebagai Substitusi Hijauan Pada Pakan Sapi Potong Di Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan. Seminar Nasional Peternakan 2, Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin Makassar, 25 Agustus 2016.

[7] Wahyuni Lubis, Sri. 2018. Pengaruh Penggunaan Tepung Daun Indigofera zollingeriana dalam Ransum Terhadap Konsumsi Ransum, Konsumsi Protein, Hen-day dan bobot Telur Ayam Ras. Skripsi. Jurusan Peternakan Universitas Lampung.

[8] Herdiawan, Iwan dan Krisnan R. Produktivitas dan Pemanfaatan Tanaman Leguminosa Pohon Indigofera zollingeriana pada Lahan Kering. Balai Penelitian Ternak Bogor. WARTAZOA Vol. 24 No. 2 Th. 2014 Hlm. 75-82.

2 comments

  1. Bagus, kalau doyan.

  2. Kalau dikonsumsi manusia bagus ngga ya kira² ini daun?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *