Temulawak untuk Meningkatkan Nafsu Makan Ternak Kambing

Jamu Kambing Agar Cepat Gemuk

Di artikel ini saya akan menulis tentang bagaimana temulawak bisa digunakan untuk jamu kambing supaya gemuknya menjadi lebih cepat.

Sehingga ia bisa menjadi herbal ajaib yang akan mengatasi segala persoalan ternak Anda. Anda pasti mau bukan?

Ketika Anda sudah mengambil keputusan, “ya, saha mau itu”, maka Anda harus sedikit berusaha lebih keras. Setidaknya Anda membaca artikel ini dengan pelan dan seksama.

Karena informasi yang akan Anda dapatkan antara lain, kurang lebih sebagai berikut.

Pertama, Anda bisa tahu apa itu temulawak dan bagaimana cara kerja khasiatnya.

Kedua. Anda akan mendapat informasi tentang bagaimana cara memberikan temulawak untuk ternak kambing dan domba Anda.

Ketiga. Informasi manfaat temulawak yang sumbernya adalah penelitian dari universitas – universitas. Penelitian ini dites pada ternak kambing dan domba. Hasilnya bagus atau tidak, baca dulu ya..

Keempat. Silahkan difikirkan dengan matang, jika menurut Anda memang meyakinkan, silahkan diyakini dan terus berusaha keras.

Jangan lupa berdoa kepada Allah yang punya segalanya.

Cara Kerja Temulawak

Pernah dengar produk iklan yang fungsinya bisa meningkatkan nafsu makan? Pasti pernah dong…

Biasanya, salah satu bahan komposisinya ada yang namanya curcumin. Bisa dicek di kemasannya. Ternyata, curcumin itu sumbernya bisa berasal dari temulawak.

Iklan tersebut menguatkan bahwa temulawak bisa digunakan sebagai peningkat nafsu makan.

Akan tetapi, meskipun penggunaannya banyak dimanfaatkan oleh manusia, namun tidak menutup kemungkinan temulawak juga bisa digunakan pada hewan ternak.

Nanti, di bagian akhir pada artikel ini ada sub topik yang membahas tentang pemanfaatan temulawak untuk domba. Jadi, lanjutkan terus bacanya sampai selesai.

Temulawak adalah salah satu tanaman obat tradisional. Mungkin Anda lebih suka menyebutnya sebagai tanaman herbal.

Ketika itu adalah herbal, maka kita boleh menganggapnya dengan suplemen yang aman, tanpa efek samping, dan murah karena kita bisa dengan mudah untuk mendapatkannya.

Secara fisik, temulawak memiliki bentuk bongkahan atau rimpang mirip seperti jahe. Warnanya kuning (orange) kalau sudah dicuci bersih. Kalau kita membandingkannya dengan jahe, kunyit, kunci, dan lain – lain, masing – masing mempunyai taste atau rasa dan aroma yang khas.

 

Jangan lupa, untuk ternak, kita juga perlu tahu bahwa temulawak ini mengandung zat antinutrisi berupa mimosin.

Temulawak mengandung beberapa zat. Komponen utama kandungan zat tersebut adalah zat kuning atau kurkumin, protein, pati serta zat-zat minyak atsiri. Zat pati dalam temulamak ini, merupakan zat pati yang mudah dicerna.

Karena kandungan bahan – bahan tersebut, temulawak jadi mempunyai banyak khasiat.

Minyak atsiri dan kurkumin di dalam temulawak mempunyai khasiat merangsang sel hati untuk meningkatkan produksi empedu dan memperlancar sekresi empedu sehingga cairan empedu jumlahnya meningkat.

Hal ini akan mengurangi partikel-partikel padat yang terdapat dalam kantung empedu.

Empedu berfungsi dalam melarutkan lemak. Dengan lancarnya sekresi empedu, maka akan dapat menurunkan kadar kolesterol dan pencernaan, sehingga penyerapan lemak berjalan lancar.

Temulawak berpengaruh pada kinerja pankreas dan meningkatkan nafsu makan. Temulawak dapat mempercepat pengosongan lambung. Dengan demikian, akan timbul rasa lapar dan merangsang nafsu makan.

Tidak hanya itu, dari berbagai hasil penelitian ilmiah, zat-zat aktif yang terdapat di temulawak memiliki berbagai khasiat sebagai analgetik (pain killer), antipiretik (penurun panas), antibiotik, anthelmintik (obat cacing), antidiabetik, antiinflamasi (radang), antioksidan, antitumor, diuretika (peluruh air seni), penekan sistem syaraf, dll.

Manfaat temulawak

Dengan kandungan yang dimiliki oleh temulawak tersebut, maka temulawak dapat digunakan untuk:

– meningkatkan nafsu makan
– melancarkan ASI
– antioksidan
– menurunkan lemak darah
– mencegah penggumpalan darah
– memperbaiki fungsi pencernaan
– menjaga kesehatan hati (liver).

Liver sendiri adalah organ terbesar dalam tubuh manusia dan hewan yang berfungsi bagaikan sebuah pabrik farmasi. Liver menyaring darah dan membuang racun – racun hasil proses metabolisme dan menambahkan berbagai macam zat ke dalamnya untuk membantu proses metabolisme dan pencernaan makanan.

Jangan percaya begitu saja dong. Ketika saya menulis manfaat di atas, saya merasa sedang membaca manfaat produk dari kemasannya. Saya harap Anda juga sama seperti saya.

Saya ingin menekankan, bahwa tidak ada satu jenis bahan apapun, yang mampu memberikan manfaat sangat banyak dan semuanya manjur.

Kenapa? Karena meskipun ini herbal, aman, tidak ada efek samping dll, tidak semua kandungan zatnya memiliki jumlah yang sama. Ada satu yang lebih banyak dan lainnya lebih sedikit.

Kecuali untuk kebutuhan yang spesifik, misalnya untuk meningkatkan nafsu makan. Temulawak memang sudah terkenal dengan manfaat ini.

Untuk melancarkan Asi, ada alternatif lain yang lebih tokcer. Misalnya daun katuk, banyak makan sayur, protein dan air putih. Itu semua lebih enak rasanya dibanding harus makan atau minum temulawak.

Antioksidan, madu dan hampir semua buah bagus sebagai sumber antioksidan. Kalau saya harus milih, ya saya milih buahnya dong. Lebih manis dan lebih enak daripada temulawak yang pahit rasanya.

Tapi itu adalah sudut pandang saya sebagai konsumer. Tapi kalau untuk ternak, sudut pandangnya akan berubah. Pasti.

Kenapa? Karena mereka tidak bisa protes, tidak bisa berdebat, tidak bisa klaim malpraktek kepada kita dan seterusnya.

Hewan ternak adalah mesin produksi yang kerjanya sangat under pressure (di bawah dan ditekan). ” Kamu harus sehat, cepat besar, gemuk, beranak yang banyak, kalau bisa anakmu harus jantan, kamu harus menguntungkan bagi saya, dst”.

Tapi tidak apa – apa, saya kira itu memang wajar. Karena salah satu tujuan ternak diciptakan supaya kita bisa mengambil manfaat darinya. Kita boleh makan dagingnya, susunya, telurnya dan uangnya.

Tidak perlu diberi temulawak, percuma

Pada tahun 2007, ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa UNS Surakarta. Kalau ingin kepo dengan judulnya, bisa dilihat di referensi no [1].

Benang merah dari penelitian ini adalah, percuma memberikan tepung temulawak kepada domba. Tidak akan memberikan pengaruh apa – apa.

Artinya apa?

Artinya adalah, antara domba yang tidak diberi temulawak dan domba yang diberi temulawak perkembangannya sama saja. Dengan catatan, jenis dan jumlah pakan yang diberikan sama.

Akan tetapi, ada penelitian lain, yang lebih baru, menyimpulkan bahwa dengan memberi temulawak ke ternak domba, pertambahan bobot hariannya bisa jauh lebih tinggi.[2]

Lho…kok bisa berbeda? Terus mana yang benar?

Jangan menyimpulkan terlalu dini dulu ya, mari kita lihat satu per satu. Saya akan menunjukkan bagaimana penelitian tersebut. Sehingga, kita akan tahu di mana letak perbedaannya.

Ok. Saya akan bahas untuk yang “percuma diberi temulawak” terlebih dahulu.

Domba yang digunakan adalah jenis lokal sebanyak 16 ekor. Berkelamin jantan. Usia sekitar 1 tahun dengan berat sekitar 12 kg per ekornya. Jumlah domba yang dipakai cukup representatif. Jadi, saya berani lanjutkan untuk membahasnya.

Kemudian domba – domba tersebut diberi pakan dengan jumlah dan kualitas yang sama. Kandungan nutrisi pakan bisa dilihat pada tabel di bawah ini.

Kandungan NutrisiJumlah (%)
Protein Kasar15
Lemak kasar2
Serat kasar24
Abu14
BETN44
TDN61

Jumlah ransum yang diberikan adalah sebanyak 4% dari bobot domba. Jika bobot dombanya adalah 12 kg, maka ransum total per harinya adalah sebanyak 0,48 kg atau 480 gram. Hampir setengah kilo per ekornya.

Empat persen tersebut, terdiri dari 60% hijauan dan 40% konsentrat. Jadi, jika ransum per harinya sebanyak 0,48 kg, maka hijauan dan konsentrat masing – masing sebanyak 0,3 kg dan 0,18 kg.

Kok sedikit sekali ya jumlah hijauannya? Iya karena diberikan dalam angka berat kering (BK). Kalau konsentrat, karena biasanya sudah dalam keadaan kadar air yang kecil, standarnya 12%, kita tidak perlu pusing. Tinggal berikan saja.

Kalau hijauan, kita harus hitung kembali jika ingin diberikan dalam bentuk segar. Hijauan dalam bentuk segar, kandungan airnya kita anggap 60%. Jadi, dalam bentuk segar hijauan harus diberikan sebanyak 100/60 x 0,3 kg = 0,5 kg.

Sebelum mengetahui hasil dari penelitiannya, saya beritahukan terlebih dahulu bahwa jumlah tepung temulawak yang diberikan adalah sebanyak 0,5%, 1% dan1,5%. Persen dari apa? Persentase dari total ransum yang diberikan.

Anda bisa menghitungnya sendiri kan, berapa jumlahnya?

Sekarang, hasilnya bisa kita lihat secara ringkas pada tabel di bawah ini.

Konsumsi pakan (g/ekor/hari)PBBH (g/ekor/hari)Konversi Pakan
Kontrol649,9882,598,11
0,5%589,9973,218,19
1%596,7581,707,39
1,5%594,3386,617,40

Anda bisa lihat jumlah konsumsi pakan pada tabel di atas. Secara analitik, itu tidak ada perbedaan. Iya ada sedikit perbedaan, tapi kalau hanya sekian persen saja, itu tidak berarti apa – apa.

Lagian, angka tersebut adalah angka rata – rata. Artinya, jumlah konsumsi pakan tidak selalu sama setiap harinya. Terkadang domba kontrol konsumsinya lebih tinggi dan kadang juga lebih rendah. Begitu pula dengan domba yang diberi tambahan tepung temulawak 1,5%.

Jadi, kita tidak mendapatkan apa yang seharusnya kita harapkan dari penelitian ini. Oleh karena itu, mari kita riset selanjutnya.

Temulawak meningkatkan pbbh sampai 300%

Domba lokal betina yang berbobot 17 – 25 kilogram bisa bertambah bobotnya sebanyak 6,25 kg dalam 30 hari.[2] Artinya, per hari, rata – rata kenaikan bobotnya adalah sebanyak 200 gram.

Ini sangat luar biasa sekali kalau dibandingkan dengan domba yang tidak diberi temulawak. Mereka hanya mengalami kenaikan berat badan sebanyak 1,88 kg dalam 30 hari.

Efek temulawak bisa meningkatkan berat badan sampai 300 persen. Ini tidak mengada – ada, karena memang ada riset dan jurnal penelitiannya. Anda bisa lihat di referensi no [2] tentang apa dan siapa perisetnya. Dan, kalau Anda membutuhkan jurnalnya, silahkan komentar dan tinggalkan email. Nanti akan saya kirim jurnalnya.

Tapi yang perlu diperhatikan adalah jumlah pakan dan jenis pakan yang diberikan. Tidak ada data dan informasi tentang ini.

Seandainya jenis ransum yang dipakai berbeda dan diberikan dengan jumlah lebih banyak, kita tetap bisa yakin bahwa semua domba mendapat jenis pakan yang sama.

Karena itu adalah prosedur ilmiahnya.

Berarti, domba yang mendapat temulawak dalam ransumnya, mereka lebih efisien dalam mencerna ransumnya.

Apa yang membedakan antara pemberian temulawak pada riset ini dan riset diatasnya?

Ada dua poin yang bisa saya garis bawahi disini.

  1. Jumlah pemberian temulawak.
  2. Cara pemberian temulawak.

Jumlah temulawak yang diberikan berbeda dengan riset yang pertama. Kalau yang pertama berdasarkan persen dari jumlah ransum, yang kedua ini persen dari berat badan.

Apakah berbeda? Sangat berbeda sekali. Mari kita hitung saja supaya lebih jelas.

Sudah saya hitung untuk yang riset pertama, bahwa jumlah ransum yang pakai adalah 4% dari berat badan. Jumlahnya sebanyak 0,48 kg dalam berat kering.

Jika temulawak diberikan sebanyak 1,5 persen dari total ransum, maka jumlahnya adalah 7,2 gram dalam berat kering. Atau kalau dibuat dalam bentuk tepung, ya jumlahnya hampir segitu, 7,2 gram.

Coba kalau temulawak ini berdasarkan berat badan dombanya. Penelitian pertama menggunakan domba dengan bobot sekitar 12 kg.

1,5% dari bobot tersebut, seharusnya temulawaknya adalah sebanyak 0,18 kg atau 180 gram.

Sangat jauh sekali bedanya kan?

Meskipun yang kedua tidak secara jelas menyebutkan apakah temulawaknya diberikan dalam berat kering atau tidak. Menurut saya, ini bisa dicover dengan poin yang kedua ini.

Cara pemberian temulawaknya juga berbeda.

Kalau yang pertama diberikan dalam bentuk tepung, yang kedua ini diberikan dalam bentuk cairan.

Memberikan temulawak dalam bentuk ekstrak cair ini bisa memberi keuntungan lebih.

Pertama tidak perlu banyak menyita waktu untuk membuta tepung temulawak. Dan kedua, tidak terlalu banyak proses yang bisa menghilangkan zat – zat berguna pada temulawak.

Misalnya, temulawak terdapat minyak atsiri di dalamnya. Minyak ini mudah sekali menguap. Kalau temulawak dibuat tepung, maka temulawak mengalami proses pengeringan. Entah itu dengan sinar matahari atau oven.

Proses pengeringan ini bisa membuat minyak atsiri dalam temulawak banyak yang terlepas ke udara.

Sehingga, secara tidak langsung itu akan mengurangi kualitas dari temulawak itu sendiri.

Beberapa hal penting tentang temulawak ini akan saya berikan di bagian kesimpulan di bawah.

Kesimpulan

  • Saya tetap yakin bahwa temulawak memang bisa memberikan efek positif jika digunakan untuk hewan ternak.

Terkait masalah berhasil atau tidak, ada banyak faktor yang bisa menentukannya. Pertama adalah genetik dari ternak itu sendiri.

Kedua, adalah jenis, jumlah dan kualitas pakan.

Ketiga, adalah lingkungan tempat memelihara ternak.

Dan keempat, adalah adanya serangan parasit atau tidak.

  • Temulawak yang diberikan dalam bentuk ekstrak cair, lebih efektif daripada dalam bentuk tepung.

Hal ini karena selama proses pembuatan temulawak tidak akan banyak kehilangan zat yang berguna karena pemanasan.

  • Berikan temulawak dengan dosis yang pas dan tidak berlebihan.

Dari kedua referensi penelitian di atas, jumlah maksimal temulawak yang diberikan ke domba adalah 1,5 % dari berat badan.

Jika terlalu banyak, dikhawatirkan malah akan menurunkan tingkat nafsu makan ternak itu sendiri. Apalagi kalau pemberiannya dicampur dengan pakannya.

Terlalu banyak temulawak di dalam pakan, bisa mempengaruhi tingkat palatabilitas pakan.

  • Seberapa sering temulawak harus diberikan?

Tidak dianjurkan untuk memberi temulawak setiap hari. Mekipun ini herbal dan tidak ada efek samping, bukan berarti tingkat efisiensinya akan meningkat jika diberikan setiap hari.

Berlebihan itu tidak baik meskipun itu dalam hal yang baik.

Yang sudah teruji dan ada hasil ilmiahnya adalah temulawak sebanyak 1,5% dari berat badan dan diberikan selama 3 hari berturut – turut dalam 30 hari atau sebulan.

Jadi, berdasarkan penelitian [2], selama 1 bulan domba atau kambing diberi temulawak 3 kali. Dan pemberiannya diberikan selama 3 hari berturut – turut. Kemudian domba tidak diberi temulawak lagi sampai 27 hari berikutnya.

Kalau mau mencoba misalnya 10 hari sekali, silahkan.

Saya kira cukup sekian untuk artikel ini, semoga berguna ya.

Referensi:

[1] Muqorobin, Awwalul. 2007. Pengaruh Penambahan Tepung Temulawak (Curcuma Xanthorriza Xrb) Dalam Ransum Terhadap Performan Domba Lokal Jantan. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

[2] Nizma,Ainun.drh. Nurul Humaidah, M.Kes., Ir. Dedi Suryanto, MP. 2015. Pengaruh Tingkat Pemberian Temulawak (Curcuma xanthorriza) Sebagai Obat Cacing Herbal Terhadap Jumlah Telur Cacing Haemonchus contortus dan Pertambahan Berat Badan Domba. Jurusan Peternakan Universitas Malang.vv

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. Lekyo berkata:

    Bisa diberikan 3 kali dalam sebulan atau setiap sepuluh hari sekali.

  2. Sofyan berkata:

    Berapa x dalam seminggu harus di beri temu lawak pada kambing?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *