Pembuatan Silase dan Hay Limbah Pasar untuk Pakan Kambing Etawa

Silahkan share di:

Limbah pasar dimanfaatkan  untuk pakan kambing? bisa.

Maksudnya limbah pasar yang organik yang digunakan sebagai pakan kambing seperti sisa sayuran, kol, wortel, kacang dan lainnya.

Kalau limbah pasar seperti batok kelapa, sabut kelapa, karung goni sepertinya butuh kreatifitas tingkat sangat lanjut untuk dijadikan sebagai pakan kambing.

Untuk sayur-sayuran memang ada yang disukai oleh kambing, jadi tinggal ngumpulin dari pasar bawa pulang lalu kasihkan ke kambing.

Sangat sederhana, yang dimakan habis, yang tidak kemakan di buang. Sampah pasar berkurang.

 

Kenapa harus dibuat silase atau hay?

Kalau menurut saya seperti ini. Kalau kita lihat di panduan-panduan pembuatan ransum komplit pakan kambing, bahan-bahannya sangat beragam.

Kalau semua itu beli semua, jadinya kan mahal. Kalau limbah pasar bisa dapat gratis, maka bisa menggantikan salah satu atau beberapa bahan dalam ransum komplit.

Karena limbah organik pasar sifatnya mudah busuk, maka dibuat silase atau hay adalah salah satu solusinya.

Tentang silase dan hay dari limbah pasar organik ini ada penelitian dari peneliti Balai Pembibitan Ternak Unggul Sapi Aceh NAD dan Fakultas Peternakan IPB, Bogor.

Penelitiannya untuk mengetahui palatabilitas silase ransum komplit dan hay ransum komplit.

Palatabilitas disini dimaksudkan pakah ransum komplit yang ada limbah pasarnya disukai kambing atau tidak.

Setelah hal itu diketahui, maka diketahui pula efektifitas pemanfaatan sampah organik primer sebagai pakan kambing terhadap lingkungan.

Limbah pasar organik yang digunakan adalah sebagai berikut:

Dari tabel di atas dapat dilihat jenis sampah atau limbah pasar yang digunakan dalam pembuatan ransum pakan kambing.

Dengan komposisi limbah seperti pada gambar di analisis juga kandungan nutrisinya.

Pembuatan ransum komplit untuk pakan kambing kali ini tidak hanya terdiri dari bahan-bahan limbah pasar.

Limbah pasar ini hanya sebagai pelengkap atau bahan tambahan. Selain limbah pasar, ada tambahan bahan-bahan lain yang digunakan dalam penyusunan ransum komplit pakan kambing.

Bahan-bahan tersebut antara lain dedak padi, bungkil inti sawit, onggok, premix dan ampas tahu.

tabel-ransum-komplit-pakan-kambing

Cara Membuat Ransum Komplit

Cara membuat ransum komplit pakan kambing langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.

Limbah pasar yang akan digunakan sebagai pakan kambing dipotong kecil-kecil ukurannya sekitar 3-5 cm.

Limbah pasar yang celah di cacah tadi dicampur, diaduk-aduk sampai merata.

Setelah itu dicampur dengan bahan-bahan dedak, bungkil sawit, ampas tahu, onggok dan premix. Semua bahan dicampur sampai merata.

Bahan disimpan dalam wadah, dipadatkan , dan ditutup rapat.

Tidak ada keterangan tambahan bakteri fermentasi atau semacamnya, ransum komplit hanya di Silase.

Penyimpanan dilakukan selama 6 minggu dengan kondisi tertutup atau an aerob pada suhu ruang.

Setelah 6 minggu, silase dibuka dan dibagi menjadi dua bagian.

Satu bagian di keringkan dengan cara dijemur sampai kadar airnya 14 %. Bagian yang ini di sebut hay.

Satu bagian yang lain dibiarkan dalam kondisi masih dalam bentuk silase. Kemudian masing-masing ransum diuji kualitasnya.

Cara main dari penelitiannya adalah ransum komplit yang dalam bentuk hay dan silase di uji cobakan ke kambing.

Jenis kambingnya adalah kamping peranakan etawa betina dan dalam masa laktasi satu dan laktas dua.

Nanti detailnya bisa download pdf penelitiannya. Saya sediakan linknya, bahasanya sudah bahasa indonesia.

Untuk mengetahui apakah ransum komplit hay dan ransum komplit silase disukai kambing, maka harus ada ransum atau pakan pembandingnya.

Ransum atau pakan kambing pembandingnya kali ini adalah ampas tahu 50%, dedak padi 25% dan rumput alam 25%.

Hasil

Hasil dari analisi laboratnya dapat dilihat pada tabel di bawah:
Hasil-analisi-ransum-komplit-silasi-hay-pakan-kambing-etawa
Kontrol maksudnya adalah ransum/pakan kambing kontrol yang digunakan sebagai pembanding.

Dari tabel dapat dilihat berapa jumlah protein kasarnya, serat kasar, lemak kasar, BETN, kalsium, phospor dan TDN nya.

Semua kandungan nutrisinya sudah dihitung dalam berat kering (BK).

SRK adalah ransum komplit silase. Bagian silase dari semua bahan yang telah saya jelaskan di atas yang masih dalam bentuk silase.

HRK adalah ransum komplit hay, yaitu bagian dari silase semua bahan yang telah dikeringkan sampai kadar airnya 14%.

Setelah tahu hasil kandungan nutrisi dari ransum pakan kambingnya, sekarang kita lihat hasil dari palatabilitas ransum tersebut.

Secara sederhananya palatabilitas pakan adalah disukai atau tidak pakan tersebut oleh kambing.

Cara mengetahuinya, ransum/pakan kambing yang paling banyak dimakan itulah yang palatabilitasnya tinggi.

Hasilnya, bisa dilihat pada tabel di bawah ini.

konsumsi-pakan-kambing-etawa
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa ransum/pakan kambing kontrol dimakan paling banyak.

Terbanyak kedua adalah Ransum komplit silase selanjutnya baru Ransum Komplit Hay. Kok bisa seperti itu? ya memang seperti itu.

Kalau ransum/pakan kambing disajikan dalam bentuk silase atau hay tingkat kesukaannya oleh kambing bisa jadi berkurang.

Penjelasannya bagaimana? tenang saja kalau penelitian hasil yang diperoleh harus bisa menjelaskan.

Penjelasan-penjelasanya akan coba saya rangkumkan berikut ini:

Silase ransum komplit memiliki bau asam yang menyengat akibat proses fermentasi. Bau asam yang menyengat untuk rasa silase ini diduga penyebab ketidaksukaan kambing dalam mengkonsumsi ransum tersebut.

Ransum HRK merupakan ransum jenis kering dengan kadar air < 14%. Proses pengeringan ini menyebabkan beberapa komponen penyusun ransum sampah sayuran pasar seperti kulit jagung, kol, kulit kembang kol dan ampas tahu menggumpal dan keras sehingga sulit untuk dikonsumsi oleh kambing.

Kandungan protein ransum kontrol memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dibandingkan dengan ransum SRK dan HRK, sehingga perbedaan kandungan nilai protein ini juga diduga dapat mempengaruhi tingkat konsumsi ransum kambing.

Adanya kandungan pestisida pada ransum sampah sayuran pasar (SRK dan HRK) diduga juga menjadi penyebab turunnya palatabilitas ransum. Hal ini tercermin dari tingkah laku kambing yang cukup selektif dalam memilih pakan yang akan dikonsumsinya.

link download jurnal penelitiannya

 

Silahkan share di:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan komentar