Cara Budidaya Kutu Air Dengan Kotoran Ayam, Kotoran Puyuh dan Ragi, yang Terbaik Adalah?

SHARE:

Cara budidaya kutu air untuk pakan alami

Mari kita membahas tentang cara budidaya kutu air. Karena jika behasil membudidayakannya, kita sudah memegang kunci penting untuk keberhasilan budidaya ikan kita.

Terutama ketika ikan dalam masa pembenihan atau ikan hias dengan ukuran yang kecil. Karena pada kondisi tersebut, benih membutuhkan pakan dengan ukuran yang lebih kecil dari bukaan mulutnya.

cara budidaya kutu air

Kutu air ini ada yang menyebutnya dengan kutu kutir. Istilah kutu air di sini berbeda dengan kutu air penyakit kulit ya. Karena kutu air ini hewan agak besar, sedangkan kutu air pada kulit itu adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh jamur.

Pakan alami adalah pakan yang terbaik untuk ikan berukuran kecil ataupun ikan yang dalam usia pembenihan. Dan, salah satu pilihan jenis pakan alami tersebut adalah kutu air.

Kelebihan menggunakan pakan alami pada usaha pembenihan ikan adalah:

  1. Tidak perlu susah payah untuk adaptasi pakan, karena pakan sesuai habitat aslinya.
  2. Memiliki kandungan nutrisi yang lebih tinggi daripada pakan buatan.

Kandungan nutrisi kutu air untuk pakan

Kandungan nutrisi dari kutu air, terutama proteinnya sangat tinggi. Dalam berat keringnya, kandungan protein kasar dari kutu air bisa lebih dari 50%.[1]

Ini adalah kandungan protein kasar yang sangat tinggi. Karena jika dibandingkan dengan pakan komersial, sangat jarang yang bisa dapat angka CP sebesar itu.

Akan tetapi, menurut studi yang lain, kandungan nutrisi dari kutu air (daphnia sp) adalah sebagai berikut.[2]

Kandungan nutrisiJumlah (%)
Air86,61
Protein6,25
Lemak0,57
Serat1,27
Karbohidrat4,08
Abu1,20

Dalam bentuk as feed (beserta kandungan air), nilai protein daphnia bisa dibilang rendah. Tapi lain halnya kalau nilai proteinnya diambil dari berat kering.

Saya akan coba menghitungnya, kita kita hilangkan kandungan airnya dan menghitung presentasinya. Maka, kandungan nutrisi dari daphnia akan menjadi seperti ini.

Kandungan nutrisiJumlah (%)
Berat kering13,39
Protein46,7
Lemak4,26
Serat9,48
Karbohidrat30,47
Abu8,96

Kadang memang informasi yang kita dapatkan sedikit dilebih – lebihkan. Kandungan protein dari kutu air sepertinya sulit untuk tembus di atas 60%. Karena nilai nutrisi kutu air sebagai pakan memang dipengaruhi oleh jenis makanannya.

Meskipun demikian, kandungan nutrisi di atas sudah top dan sangat recommended.

Oleh sebab itu, kalau kita tahu cara budidaya kutu air ini, kita bisa mendapatkan pakan benih ikan yang berkualitas dengan biaya yang tidak terlalu besar.

Karena seperti kita tahu, pakan dengan CP yang semakin tinggi, harganya akan semakin mahal.

Akan tetapi, kita tetap membutuhkan beberapa penyesuaian. Karena untuk mendapatkan sejumlah pakan tertentu, dibutuhkan kapasitas yang memadai dari budidaya kutu airnya.

Potensi produksi protein dari cara budidaya kutu air

Keunggulan dari budidaya kutu air adalah hewan ini termasuk penghuni air tawar. Jadi, kutu air seperti daphnia sp. Dan moina sp. Bisa kita budidayakan di air tawar.

Lebih mudah kan. Air tawar lebih gampang untuk diusahakan. Tinggal menyesuaikan nilai pH, suhu dan tingkat kelarutan oksigen yang diperlukan.

Ini berbeda dengan artemia. Artemia media untuk budidayanya harus air laut. Makanya, artemia ini sangat cocok untuk pakan alami benur (larva udang).

Mendatangkan air laut saja sudah satu pekerjaan sendiri. Kalau tidak dekat dengan pantai, akan sulit untuk mengangkutnya.

Selain medianya yang mudah, kutu air tawar (daphnia dan moina) juga mempunyai sifat non-selective feeder. Dengan kata lain tidak pilih – pilih makanan.

Apapun bahan organik yang tersedia, asalkan ukurannya bisa masuk ke cocotnya, maka akan dimakannya.

Dengan demikian, bertambah lagi satu kemudahan dalam budidaya kutu air ini. Yaitu, pakan kutu air tidak harus dari bahan yang mahal. Berbagai kotoran ternak dan limbah pertanian bisa digunakan sebagai pakannya.

Jenis kutu air

cara budidaya kutu air agar tidak mati

Seperti kita tahu, jenis kutu air yang terkenal ada 2. Yaitu daphnia sp. Dan moina sp. Sp ini menunjukkan kedua jenis kutu air tersebut masih bisa diturunkan lagi menjadi jenis spesisnya yang lebih spesifik.

Secara terang, tidak ada perbedaan yang mencolok dari kedua jenis kutu air tersebut.

Keduanya memiliki ciri – ciri yang hampir sama, yaitu:[3]

  • Bentuk tubuhnya pipih dan beruas-ruas.
  • Dinding tubuh bagian punggung membentuk lipatan yang menutupi anggota tubuh lain pada kedua sisi tubuhnya sehingga tampak seperti cangkang kerang.
  • Pada sisi atas bagian belakang tubuh, ‘cangkang’ tersebut membentuk sebuah kantong yang berguna sebagai tempat penampungan dan perkembangan telur.
  • Ukuran Daphnia sp. Sekitar 1000 – 5000 mikron (1 – 5 mm), sedangkan ukuran Moina sp. sekitar 500-1000 mikron (0,5 – 1 mm)cara budidaya kutu air

Syarat hidup kutu air

Agar kutu air tidak cepat mati, maka kita harus memenuhi kebutuhan lingkungan yang baik bagi mereka.

Hal tersebut terkait erat dengan kualitas air atau media yang akan digunakan.

Hal – hal yang harus diperhatikan dalam cara budidaya kultur air ini adalah suhu media, pH, Karbondioksida bebas, dan kadar amoniak.

Suhu optimal untuk membudidayakan kutu air adalah antara 250C – 300C. Tapi, kutu air mempunyai toleransi yang tinggi terhadap fluktuasi suhu. Jadi, untuk suhu di wilayah kita, kutu air dapat dibudidayakan dimana saja. Di dataran rendah bisa, dataran tinggi juga bisa.

PH media yang paling baik untuk membudidayakan kutu air adalah yang netral sampai sedikit basa. Kalau dinyatakan angka antara ph 7 – 8. Tapi ada juga sumber ilmiah yang menyatakan bahwa kutu air bisa hidup pada pH antara 6,5 – 8,5.

Oksigen terlarut dalam media, sangat dibutuhkan oleh kutu air. Nilai oksigen terlarut ini minimal sebanyak 1 ppm. Idealnya antara 4,2 – 5,1 ppm.

Semakin banyak zat organik yang diberikan (pupuk kandang), suhu media naik, dan jumlah populasi kutu air, akan mengurangi jumlah oksigen terlarut. Sehingga, aerasi sangat diperlukan.

Kadar amoniak yang tinggi bisa menyebabkan kutu air mati. Amoniak ini bisa berasal dari pupuk yang belum jadi, sehingga proses penguraian N organik terjadi dalam media kutu air.

Penguraian N organik ini akan menghasilkan amoniak yang bisa meracuni biota dalam media budidaya. Termasuk kutu air itu sendiri.

Pakan kutu air

Kutu air dapat memakan Alga, protozoa, bakteri, ragi, bahan organik terlarut dan detritus. Detritus dalam hal ini adalah hasil penguraian limbah organik yang ukurannya kecil.

Dari semua jenis makanan tersebut, makanan utama dari kutu air adalah alga dan protozoa.[4]

Sedangkan untuk sumber makanan tersebut, kita bisa menyediakannya dari beberapa sumber di bawah ini.

  1. Kotoran ayam
  2. Kotoran puyuh
  3. Tepung terigu
  4. Tepung tapioka
  5. Eceng gondok
  6. Ragi.
  7. Dedak
  8. Limbah cair tahu

Jangka waktu produksi

Siklus hidup dari kutu air cukup pendek. Hanya berlangsung belasan hari saja.

Kutu air sudah menjadi dewasa dalam waktu 4 hari saja. Dengan usia hanya 12 hari, lalu mati.[4]

Setelah dewasa, setiap 1 – 2 hari sekali bisa beranak sampai 29 ekor. Jika ditotal, selama hidupnya, setiap ekor kutu kebul bisa menghasilkan anak sekitar 200 ekor.

Secara teori seperti itu, jika kutu air hidup semua, selama 12 hari jumlahnya menjadi 200 kali lipat. Jika tidak mati.

Tapi, faktanya jumlah kutu air kelipatan 30 kali dari jumlah bibit saja sudah top gandos. Puncak populasi kutu air terjadi pada hari ke 8 – 10.

Itulah mengapa, pada kolam budidaya kutu air yang agak besar, bisa panen setiap hari itu sangat mungkin.

Langkah dan cara teknis budidaya kutu air

Setelah tahu tentang data dan beberapa fakta tentang kutu air, kita langsung ke langkah cara budidaya kutu air ini.

Cara budiaya kutu air ini bisa kita lakukan dengan langkah menyiapkan wadah, air, makanan dan bibit kutu airnya.

1 . Menyiapkan wadah

Wadah untuk budidaya kutu air bisa ember plastik, akuarium, kolam semen atau kolam tanah.

cara budidaya kutu air

Ini tergantung rencana besar kecilnya skala pembudidayaan kutu air yang akan dilakukan.

Tidak ada patokan khusus, berapapun ukuran yang kita punya, bisa dipakai.

Budidaya kutu air pakai ember ada yang berhasil. Begitu juga dengan kolam semen atau fiber.

2 . Menyiapkan air

Air yang digunakan untuk budidaya kutu air sebaiknya air sumur. Air ini dimasukkan ke dalam wadah yang sudah kita siapkan.

Kemudian didiamkan minimal sehari semalam. Kalau perlu diaerasi malah lebih bagus.

Jika airnya dari PDAM, maka waktu pendiaman airnya dilakukan lebih lama. 3 hari sampai 1 minggu. Sama seperti air sumur, diberi aerasi lebih bagus.

Untuk jumlah air yang sangat banyak, sepertinya aerasi sifatnya fleksibel.

Karena saya pernah lihat dari salah satu video di youtube, cara budidaya kutu air di empang, diatasnya langsung kotoran ayam segar, ada campuran air pembuangan limbah kamar mandinya juga, ternyata kutu airnya juga bisa hidup dan banyak.

3 . Menyiapkan pakan

Kita akan menggunakan pakan yang mudah – mudah saja. Yaitu kotoran ayam, kotoran puyuh dan ragi.

cara budidaya kutu air

Sebenarnya memang banyak pakan yang bisa dipakai untuk kutu air. Tapi, dari beberapa sumber yang saya kumpulkan, saya ambil yang produksinya paling tinggi saja.

Kotoran puyuh 4,2 gam/liter selama 8 hari populasi dari 30 menjadi 900

Cara budidaya kutu air dengan pakan kotoran ayam[5]

Kotoran ayam yang digunakan adalah kotoran ayam yang sudah dikeringkan. Dosis kotoran ayam yang digunakan adalah 2,4 gram/liter air.

Tinggal sesuaikan saja jumlahnya dengan volume air yang digunakan. Lebih banyak lebih baik, karena air dari kotoran ayam ini nanti bisa dijadikan stok sebagai penambah air budidaya yang dibuang.

Pemberian pakan kotoran ayam untuk kutu air ini diberikan secara tidak langsung. Artinya, dekomposisi kotoran ayam dilakukan pada wadah yang berbeda atau terpisah dari wadah kutu air.

Lalu, kotoran ayam yang sudah dimasukkan ke dalam wadah berisi air tadi, diaerasi selama 4 hari. Kotoran ayam kering, sudah bisa terurai secara sempurna dengan aearasi selama itu.

Setelah 4 hari, air dari kotoran ayam diambil secukupnya dan dipakai buat membesarkan kutu air.

Penggantian air dilakukan sebanyak 25% setiap hari. Penambahan airnya diambilkan dari stok yang awal tadi.

Cara budidaya kutu air dengan pakan kotoran puyuh[4]

Cara menyiapkan kotoran puyuh untuk budidaya kutu air tidak terlalu berbeda dengan kotoran ayam. Semisal kita buat sama persis pun juga tidak masalah.

Akan tetapi di sini berdasarkan studi, dengan metode atau cara budidaya kutu air supaya hasilnya maksimal.

Kotoran puyuh kering, dengan dosis 4,2 gram/liter. Kemudian diaerasi selama sehari semalam (24 jam).

Kemudian ambil airnya saja, lakukan penyaringan jika perlu, untuk memfilter kalau ada organisme lain yang bisa menjadi pesaing kutu air.

Lebih optimal jika budidaya diberi aerasi.

Cara budidaya kutu air dengan pakan ragi roti[5]

Menggunakan ragi roti sebagai pakan kutu air menjadikan budidaya ini lebih bersih. Tapi, ragi roti harus beli.

Untuk volume air yang digunakan, setiap 15 liter diberi ragi roti sekitar 1,5 gram.

Sebelum digunakan, air sebaiknya diaerasi terlebih dahulu. Kemudian ambil sedikit airnya untuk melarutkan ragi, dan setelah tercampur merata, masukkan ke media budidaya.

Masukkan bibit kutu air.

Selanjutnya adalah jangan lupa untuk mendapatkan bibit kutu airnya.

4 . Mendapatkan bibit kutu air

Kutu air bisa didapatkan dengan tiga cara:

  1. Beli
  2. Cari sendiri
  3. Minta

Beli bibit kutu air di mana? Biasanya para breeder ikan hias punya stok untuk bibit kutu air ini. Karena mereka membutuhkannya.

Petani breeder ikan cupang biasanya banyak yang pakai kutu air ini.

Kalau mau nyoba beli di BBPAT (balai besar perikanan air tawar), juga silahkan. Tapi sepertinya tidak semua BBPAT sedang tersedia kultur kutu air ini.

Atau mencari sendiri bibitnya di alam. Silahkan.

Anda bisa mencobanya nyari di got, selokan, rawa, sungai dan tempat – tempat lainnya.

Kalau kita butuhnya hanya sedikit, saya kira, minta boleh lah.

Mintalah sekitar 10 ekor kutu air. Karena berkembangnya cepat, lama – lama kita akan punya stok kutu air yang cukup banyak.

Seperti itu ya.

Saya kira pembahasan tentang cara budidaya kultur air ini sampai di sini dulu. Sorry jika banyak kekurangan. Terima kasih dan sampai jumpa lagi.

Referensi

[1] Mokoginta, I, D. Jusadi dan T. L. Pelawi. Pengaruh Pemberian Daphnia sp. Yang Di Perkaya Dengan Sumber Lemak Yang Berbeda Terhadap Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Larva Ikan Nila, Oreochromis niloticus. Jurnal Akuakultur Indonesia, 2 (1): 7 – 11 (2003).

[2] Maulidiyanti , Limin Santoso, dan Siti Hudaidah. Pengaruh Pemberian Pakan Alami Daphnia Sp Yang Diperkaya Dengan Tepung Spirulina Terhadap Kelangsungan Hidup Dan Pertumbuhan Larva Ikan Komet (Carassius Auratus). e-Jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan Volume IV No 1 Oktober 2015.

[3] Fuadi, Muhammad. 2010. Deteksi Kemampuan Artemia Dan Kutu Air Dalam Uptake Bakteri Mengandung Dna Asing Menggunakan Pcr. Program Studi Teknologi Dan Manajemen Perikanan Budidaya Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.

[4] Gunawati, Rr. Catur. 2000. Pengaruh Konsentrasi Kotoran Puyuh Yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan Populasi dan Biomassa Daphnia sp. Program Studi Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB Bogor.

[5] Jusadi, Dedi., Dewi Sulasingkin, dan Ing Mokoginta. Pengaruh Konsentrasi Ragi Yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan Populasi Daphnia Sp. Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Jurnal Ilmu-ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia, Juni 2005, Jilid 12, Nomor 1: 17-21.

SHARE:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *