Sapi Bali Paling Rentan Dengan Penyakit Jembrana, Siapkah Vaksinnya?

BADAI UANG
Silahkan share di:

Waktu kemarin pas maen sosmed, secara tidak sengaja saya lihat postingan bahwa sapinya mati.

Kemudian saya lihat lebih jauh dari beberapa komentar yang muncul, ternyata penyebabnya karena jembrana.

Sapinya masih bagus, tapi kok bisa mati seperti itu. Akhirnya saya penasaran dengan penyakit jembrana ini.

Ternyata penyakit ini dikarenakan infeksi virus Jembrana Desease Virus (JDV). Dan termasuk jenis penyakit mewabah atau endemik.

Maka, inilah informasi yang bisa saya himpun untuk pembaca sekalian. Semoga berkenan untuk membacanya.

Sejarah penyakit jembrana

Kenapa penyakit ini dinamakan jembrana?

Sejarahnya penyakit ini pertama kali menyerang pada sapi di Desa Sangkaragung, kabupaten Jembrana, Bali pada tahun 1964.

Apakah virus ini hanya menyerang sapi bali?

Iya. Menurut laporan kegiatan dari Balai Veteriner Bukit Tinggi, sapi bali memang yang paling rentan akan virus ini.

Jenis sapi seperti ongole, sapi madura, dan Frisien Holstein tahan terhadap penyakit ini. Ruminansia kecil seperti kambing dan domba juga tahan terhadap penyakit ini.[1]

Apalagi sapi bali yang masih pure breed. Meskipun begitu, sapi yang hasil perkawinan dengan sapi bali juga memiliki kerentanan terhadap virus ini.

Saya tidak tahu kenapa hanya sapi bali yang rentan terhadap virus ini.

Karena sapi bali sudah tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia, maka keberadaan penyakit ini juga kemungkinan merata.

Gejala penyakit jembrana

Penyakit ini disebabkan oleh virus. Virusnya dalam kelompok virus Retroviridae. Virus ini dapat menurunkan daya tahan tubuh.

Gejala sapi yang terserang virus ini adalah:

Sapi mengalami demam tinggi. Suhunya bisa sampai 40 – 42 derajat celcius. Demam berlangsung sekitar 7 hari. Tapi ada yang berkisar antara 5 – 12 hari.

Sapi mengalami pembengkakan kelenjar limfa. Tandanya bisa dilihat ada benjolan pada tubuh. Lokasi benjolan bisa berada di bahu, lutut, perut dan area sekitar bawah telinga.

Sapi diare. Kalau sudah parah bisa bercampur darah.

Adanya bercak darah pada kulit dan sapi biasanya pincang.

Kalau sapinya pas terserang sedang hamil, kemungkinan besar akan mengalami keguguran.

Cara penularan penyakit jembrana

Penyakit ini tidak menular melalui kontak badan. Jadi, kalau dalam satu kandang ada yang terserang virus ini, kemungkinan kecil yang lain akan tertular.

Kecuali sapi yang sehat saling menjilati ingus dan liur sapi lain yang terjangkiti.

Penularan penyakit jembrana ini paling banyak disebabkan oleh serangga. Serangganya adalah serangga yang menghisap darah.

Misalnya caplak atau bangkak.

Prosesnya adalah caplak menghisap darah sapi bali yang terkena virus jembrana. Kemudian caplak tersebut hinggap dan menghisap darah sapi yang sehat.

Selain karena serangga, penularan penyakit ini juga bisa karena penggunaan jarum suntik.

Jarum suntik yang sudah digunakan untuk sapi yang terinfeksi, kemungkinan besar akan menularkan virus tersebut kalau digunakan lagi pada sapi yang sehat.

Tingkat penularan penyakit ini sangat tinggi yaitu sampai 60%. Kalau dalam suatu kandang ada 10 ekor sapi bali, Jika satu terinfeksi, maka kemungkinan akan ada 6 sapi yang terinfeksi.

Pengobatan penyakit jembrana

Belum ada obat yang bisa langsung membunuh virus jembrana ini. Karena penyababnya adalah virus, maka antibiotik tidak akan mempan.

Penggunaan antibiotik digunakan untuk mengobati penyakit sekunder yang diakibatkan oleh infeksi virus ini.

Maksudnya seperti ini.

Virus ini dapat menurunkan daya tubuh sapi bali. Sehingga kalau daya tahan tubuhnya melemah, maka jenis infeksi lain akan lebih mudah menyerang. Terutama oleh infeksi bakteri.

Antibiotik bisa digunakan untuk mengobati infeksi sekunder yang diakibatkan oleh bakteri ini.

Saat ini memang masih dikembangkan vaksin untuk mengobati penyakit jembrana ini. Namun masih dalam pengembangan dan penyempurnaan.[2]

Maklum, penyakit jembrana ini hanya terjadi di Indonesia. Jadi, lama untuk bisa segera mendapat obat yang manjur.

Sampai sejauh ini saya belum menemukan informasi bahwa penyakit jembrana bisa diobati dengan obat tertentu.

Karena penyakit ini termasuk jenis penyakit endemik, biasanya dinas resmi terkait akan turun tangan kalau korbannya sudah banyak.

Kalau baru satu atau dua, masih kurang responsif.

Pencegahan dan Pengendalian Jembrana

Mencegah itu lebih baik daripada mengobati. Akan tetapi pemusnahan massal tidak bisa dijadikan pembenaran untuk tindakan pencegahan dan pengendalian.

Tetap saja, mengobati lebih memberi harapan daripada pemusnahan. Kalau tidak ditemukan vaksin yang tokcer, maka pemusnahan akan selalu terjadi.

Wabah penyakit jembrana itu kan tidak seperti peristiwa gunung meletus. Kalau gunung meletus tidak mungkin dicegah. Kalau suatu penyakit, masih bisa diusahakan supaya tidak terjadi.

Pencegahan penyakit jembrana, sampai saat ini hanya dengan vaksinasi. Sedangkan untuk pengendalian dimaksudkan supaya virus ini tidak menyebar ke wilayah yang lebih luas.

Vaksin penyakit jembrana

Peternak tidak bisa memberi vaksin secara bebas kepada sapi bali mereka. Karena vaksinnya tidak dijual bebas.

Hanya pihak yang berwenang yang bisa melakukannya. Saya juga kurang tahu apakah permintaan untuk vaksinasi bisa mudah seperti permintaan kawin suntik pada mantri hewan.

Karena pembuatan vaksin hanya masih dalam skala laboratorium. Artinya jumlahnya masih sangat sedikit. Ini menurut laporan yang dibuat pada tahun 2015.[2]

Kalau jumlahnya sedikit, tentu tidak semua daerah di Indonesia ada dong.

Kapan pemberian vaksin ini harus dilakukan?

Untuk wilayah yang menjadi lokasi penyakit jembrana, vaksinasi dilakukan selama tiga tahun berturut – turut untuk tiap ekor sapi.

Dalam tiga tahun tersebut, setiap tahunnya dilakukan vasinasi 2 kali. Jarak antar vaksinasi pertama dan kedua adalah satu bulan.

Jadi, selama tiga tahun, tiap ekor sapi harus diberi vaksin sebanyak 6 kali.

Pengendalian penyakit jembrana

Kalau pemberian vaksin hasilnya tidak benar – benar efektif, maka langkah pengendalian yang akan dilakukan akan benar – benar merepotkan peternak.

Terutama dalam hal perdagangan sapi ini.

Hal ini karena prosedurnya sangat sulit dan memakan waktu yang cukup lama.

Ini keterangannya.

Kalau kita mau memasukkan atau mengirim sapi ke daerah tertentu, maka kita harus menyertakan surat keterangan kesehatan hewan. Surat kesehatan hewannya dari laboratorium yang terakreditasi.

Kalau mengirim sapi bali dari daerah tidak ada kasus ke daerah yang tidak ada kasus juga, maka vaksinasi dan uji laborat tidak perlu dilakukan.

Biar lebih jelas bisa dilihat pada gambar di bawah ini untuk prosedurnya.

Selain pengaturan lalu lintas ternak sapi bali, untuk pengendalian langkah lainnya adalah pemusnahan.

Kalau ini gampang, biar difikirkan oleh pihak yang berwenang saja.

Saya kira cukup sekian, terima kasih. Sampai jumpa minggu depan.

Referensi

[1] Anonim. Monitoring dan Diagnosa Penyakit Jembrana Di Wilayah Kerja Balai Veteriner Bukittinggi 2015. Balai Veteriner Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.

[2] Anonim. Pedoman pengendalian dan penanggulangan penyakit jembrana. Direktorat kesehatan hewan Direktorat jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementrian Pertanian 2015.

Silahkan share di:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan komentar