Cara Ternak Lele Bioflok, Teknologi Yang Pernah Jaya Kini Meragukan

SHARE:

Ternak lele bioflok mulai terkenal dan banyak dicoba karena penyampaiannya yang bombastis.

Ada yang bilang hasil panennya bisa 10 kali lipat, 5 kali lipat, untungnya berlipat dan seterusnya. Anda percaya? Hmm, tunggu dulu…kalau Saya tidak.

ternak-lele-bioflok

Ternak lele bioflok ini mulai muncul pada tahun 2014. Kemudian meledak pada tahun 2015. Lalu surut dan stagnan.

Karena sudah banyak yang rugi (bangkrut).

Kemudian berkembang lagi, karena sudah mulai banyak telaah – telaah ilmiah yang dilakukan. Sampai sekarang masih berlanjut dan riset – riset masih banyak dilakukan.

Tapi, sudah banyak orang yang mulai ragu terhadap bioflok ini.

Meskipun dalam keadaan terdesak, kita harus bisa berfikir logis dan jernih. Jangan terburu – buru mengambil keputusan yang sifatnya transaksional (keluar uang) ketika dalam keadaan bingung, pusing dan hampir frustasi.

Karena ketika fikiran sudah jernih, biasanya akan ada sedikit rasa penyesalan. Selanjutnya mau tidak mau harus melanjutkan karena sudah terlanjur kecemplung.

Jadinya, keputusan yang diambil dijalankan dengan setengah – setengah. Atau ditengah jalan, kembali ke pola pemeliharaan yang lama.

Bioflok memang memberikan tambahan efisiensi dalam budidaya lele. Teknologi ini sudah berhasil digunakan pada budidaya udang di luar – luar negeri.

Itupun dilakukan dengan langkah – langkah teknis yang disiplin dan aerasi yang masif (besar sekali).

Aerasi sangat penting dalam mendukung terciptanya biota bioflok dalam kolam. Dan kita, hanya mengaerasinya dengan aerator akuarium.

Inti dari bioflok sebenarnya bukan supaya padat tebar tinggi atau sebagai pakan tambahannya ikan lele.

Tapi, bioflok sebenarnya lebih pada menghilangkan limbah beracun dalam kolam. Dalam hal ini limbahnya adalah Nitrogen dan bentuk senyawanya yang berasal dari kotoran ikan lele.

Atau, nitrogen yang dalam bentuk beracun yaitu amoniak (NH3 dan NH4+) diubah menjadi senyawa yang tidak beracun dan dimanfaatkan mikroorganisme menjadi flok.

Dengan demikian, lingkungan hidup lele menjadi lebih sehat dan berpeluang untuk daya tebar yang lebih tinggi. Tapi, bioflok yang terbentuk tetap harus dikontrol.

Pengontrolan terhadap bioflok perlu dilakukan. Karena dengan penambahan sumber karbon, dalam hal ini molases, akan membuat flok semakin banyak.

Jika jumlahnya terlalu banyak, mereka akan mengkonsumsi oksigen lebih banyak. Jadinya malah bersaing dengan lele itu sendiri.

Untuk itu, Mari kita lihat lebih dalam lagi, bagaimana ternak lele bioflok ini seharusnya dilakukan.

Seberapa efisienkah penerapan teknologi bioflok ini dalam meningkatkan produktifitas budidaya lele.

Apa itu teknologi bioflok?

Teknologi bioflok adalah teknik dalam budidaya ikan (lele) untuk meningkatkan kualitas air kolam atau air budidaya.

Teknik bioflok ini menggunakan bantuan mikroorganisme seperti bakteri heterotrof dan fitoplankton. Banyak mikroorganisme yang berperan, ada bakteri, fungi, ragi, protozoa, fitoplankton.

Bioflok ini akan optimal jika terjadi perbandingan yang pas antara unsur Karbon (C) dan Nitrogen (N).

Mikroorganisme ini akan memanfaatkan Nitrogen organik yang berasal dari sisa makanan dan kotoran ikan. Sedangkan sumber karbon perlu ditambahkan.

Sumber karbon yang bisa digunakan dalam ternak lele adalah molases atau tetes tebu.

Molases termasuk dalam gula sederhana. Sehingga lebih cepat dimanfaatkan oleh bakteri.

Dengan demikian, bakteri yang direncanakan untuk bioflok lebih cepat berkembang daripada fitoplankton dan bakteri – bakteri pengganggu lainnya.

Bakteri ini bersama – sama akan membentuk flok atau gumpalan. Berwarna coklat tua.

Jika dilihat dengan mikroskop, gumpalan tersebut aktif (bakterinya hidup). Jika itu mati, maka itu hanya lumpur biasa.

Kenapa harus bioflok?

Ikan lele yang berada dikolam akan menghasilkan feses setiap harinya. Feses ini akan menumpuk dan membuat kondisi air menjadi semakin buruk.

Semakin besar, produksi feses akan semakin besar dan semakin cepat. Otomatis kondisi air kolam akan semakin buruk juga.

Secara alami akan muncul mikroorganisme seperti fitoplankton yang bisa memanfaatkan feses ikan ini. Yaitu mengurai kandungan N organiknya.

Tapi apakah fitoplankton saja cukup? Ternyata tidak, dengan adanya jumlah feses yang sangat banyak dan cepat.

Butuh bantuan bakteri lain. Supaya kotoran ikan bisa terurai dan tidak mengganggu kehidupan ikan.

Bakteri nitrobacter dan nitrosomonas bisa digunakan untuk mengatasi masalah ini.

Bakteri ini akan mengurai amoniak (NH3) dan Amoniak terionisasi NH4+ menjadi nitrit. Dan oleh nitrobacter, nitrit akan diubah menjadi nitrat (NO3).

Hasil akhir dari nitrobacter adalah nitrat. Nitrat tidak bisa dimakan oleh ikan. Dalam jumlah yang banyak akan membuat salinitas air menjadi tinggi.

Tapi nitrat bisa dimanfaatkan oleh tanaman. Nitrogen dalam bentuk nitrat lebih bagus untuk tanaman daripada nitrogen dalam bentuk amoniumnya.

Berarti, penambahan bakteri nitrosomonas dan nitrobacter sangat cocok kalau dikombinasikan dengan akuaponik.

Bakteri bioflok berbeda denga nitrosomonas dan nitrobacter. Bakteri yang digunakan dalam bioflok adalah bakteri heterotrof. Jenis bakterinya adalah bakteri bacillus.

Bakteri bacillus tersebut akan memanfaatkan amoniak dan memanfaatkannya untuk berkembang biar membentuk flok. Semakin lama ukuran flok akan semakin membesar dan mengendap di dasar kolam.

Makanya, aerasi yang berfungsi sebagai agitator oksigen juga bermanfaat untuk mengaduk flok ini.

Bersama – sama mikroorganisme lain, bakteri akan berkumpul dan membentuk flok. Flok ini bisa dimakan oleh ikan.

Tapi, tidak ada jaminan bahwa ikan lele akan selalu makan flok. Lele memang memakan flok, tapi dalam jumlah yang sedikit.

Karena tujuan dari ternak lele bioflok adalah menciptakan lingkungan yang nyaman bagi ikan lele, jadi jangan berharap banyak kalau lele akan memakan flok. Tumpuan pakan tidak pada flok, tapi pada pakan utamanya, misalnya pelet.

Tujuan ternak lele bioflok

Memelihara lele dalam bioflok bukan berarti semuanya menjadi lebih mudah dan sederhana.

Untuk hasil yang lebih, harus membutuhkan usaha yang juga lebih besar dari biasanya. Itu adalah hukum alam.

Jika ternyata setelah memakai sistem bioflok, kegiatan budidaya lele tidak memberi keuntungan yang lebih, mending kembali saja ke pola lama. Atau menambah ilmunya.

Oleh karena itu, ketika sedang berbioflok kita harus konsen dengan beberapa hal berikut ini.

  1. Harus ada tingkat penghematan yang cukup signifikan (efisien). Terutama pada air dan pakan.
  2. Karena ada kontribusi mikroorganisme dalam bioflok, maka bagaimana mengkuantitikasi kontribusi bioflok tersebut terhadap pertumbuhan.
  3. Bagaimana kesejahteraan ikan pada sistem bioflok, stresskah dia, normalkah dia, fcr bagaimana, dll
  4. adakah pengaruh level protein pakan terhadap pertumbuhan dan pertumbuhan ikan? Benarkan bioflok bis amenurunkan dosis penumbuhan pakan
  5. Bagaimana komposisi partikel flok dalam bioflok. Dilakukan analisa proksimat.
  6. Apa sumber c yang dapat digunakan? Molases, gula pasir , tepung
  7. adakah hubungannya dengan produktivitas bioflok sendiri per satuan volume.
  8. Berapa volume vlok yang optimal.
  9. Bagaimana dinamika nitrogen dalam sistem bioflok.
  10. Berapa padat tebar optimal, 400 ekor, 600, 1000 /meter kubik?

Intro tentang biofloknya cukup sampai situ saja.

Sekarang kita ke teknis ternak lele biofloknya. Nanti akan disertai penjelasan – penjelasan utamanya.

1 . Mempersiapkan kolam lele biofloknya

Kolam lele sekarang banyak yang bentuknya bulat. Bukan karena mau dipakai bioflok.

Tapi desain kolam lele bundar banyak manfaatnya:

  1. Bentuknya lebih bagus. Dengan bahan terpal dan wiremesh bisa membuat kolam terlihat lebih rapi.
  2. Biaya lebih murah. Kolam terpal persegi panjang dengan penyangga dan gapit bambu memang lebih murah. Tapi dari segi keindahan kurang. Kalau bahannya disamakan dengan kolam bundar, saya kira biayanya hampir seimbang, bahkan bisa lebih mahal.
  3. Sistem irigasi kolam bisa dibuat lebih mudah. Dengan membuat dasar kolam cekung dipusat tengahnya dan saluran pembuangan ditempatkan disana, kotoran akan mengumpul ditengah. Boom, sekali buka, sebagian besar kotoran kolam bisa dikeluarkan.

Yang perlu diingat, bentuk kolam tidak mempengaruhi terhadap pertumbuhan ikan lele. Belum ada laporan ilmiahnya, kalau di kolam bundar lele bisa lebih bagus.

Tingkat urgensinya sama saja. Ini hanya masalah selera. Bioflok tetap bisa di kembangkan di kolam persegi.

Harga kolam lele bundar

Informasi mengenai harga kolam lele bundar bisa dengan mudah diperoleh dari toko online.

Setelah saya survey, ternyata ukuran terpal dengan volume yang hampir sama harganya sebanding.

Kolam bundar dengan diameter 2 meter, harganya dianggka 3xx ribuan. Itu belum termasuk ongkir dan kerangka besi wiremeshnya.

Dalam bioflok, instalasi kolam harus benar – benar diperhatikan.

Saluran outlet harus berada di tengah kolam dengan bagian tengah kolam dibuat lebih dalam daripada pinggir kolam.

Setiap jarak satu meter dari tengah kolam, harus lebih tinggi 15 cm.

Ini akan berguna ketika ingin membuang air dasar kolam. Karena ada waktu dimana pasti air dasar ini perlu untuk dibuang.

2 . Penyiapan media air kolam bioflok

Bahan yang dibutuhkan untuk menumbuhkan bioflok dalam air kolam adalah sebagai berikut:

  1. Garam kasar 1 kg per m3.
  2. Dolomit 50 gram per m3.
  3. Molase 100 ml per m3 atau 75 gram gula pasir per m3
  4. Probiotik 10 gram per m3.

Jumlah bahan – bahan di atas adalah untuk per meter kubik air kolam. Kita harus menghitungnya kembali jika ukuran kolam lebih besar dari 1 m3.

Misalnya kolam bundar dengan diameter 2 meter dan air diisi sedalam 80 cm. Volume air kolamnya adalah sebanyak

3,14 x 1 meter x 1 meter x 0,8 meter = 2,5 meter kubik.

1 meter pada perhitungan di atas adalah jari – jari kolam. Yaitu dengan cara diameter kolam dibagi 2. Terus kedalaman kolam 80 cm = 0,8 meter.

Karena volume kolam 2,5 meter kubik, maka bahan – bahan di atas jumlahnya menjadi.

  1. garam kasar 2,5 kg per kolam.
  2. Dolomit 125 gram per kolam.
  3. Molases 250 ml per kolam.
  4. Probiotik 25 gram per kolam.

Selanjutnya kita masukkan bahan – bahan di atas satu per satu.

Pertama, masukkan garam kasar atau garam krosok. Masukkan garam ke dalam saringan (jaring seser) buat ikan. Kemudian masukkan saringan tersebut ke kolam dan bawa memutar mengelilingi kolam sampai air habis terlarut.

Kedua, masukkan kapur dolomit. Campur dulu dengan air dalam ember. Kemudian sebar merata ke kolam.

Ketiga, masukkan molases. Encerkan dengan air lalu sebar dengan merata ke seluruh kolam.

Terakhir adalah probiotik. Larutkan dulu dengan air lalu masukkan ke kolam.

Kolam perlu di aerasi secara terus menerus dengan 4 titi aerasi. Masing – masing titik besarnya 40 liter/menit.

Persiapan media air bioflok ini perlu dibentuk terlebih dahulu. Minimal seminggu baru bibit bisa ditebar ke kolam.

Probiotik harus terdiri dari bakteri heterotrof. Yang paling banyak digunakan dalam bioflok adalah jenis dari bakteri bacillus sp.

Bacilluss subtilis, bacilluss meganterium, bacilluss licheniformis.

EM4 tidak bisa digunakan dalam bioflok. Lingkungan hidup bakteri EM4 tidak sesuai dengan kebutuhan ikan lele. Saling bertolak belakang.

Alasannya adalah:

  • EM4 membutuhkan ph rendah sedangkah ph air kolam ideal sekitar 8.
  • EM4 membutuhkan kondisi anaerob sedangkah kolam lele membutuhkan kandungan oksigen yang tinggi.

3 . Mengontrol perkembangan bioflok

Pada tahap awal, pengontrolan terhadap terbentuknya media bioflok. Secara awam dan kasat mata, bisa diamati dari warna air.

Warna air juga dipengaruhi oleh ada tidaknya naungan di atas kolam. Atau intensitas matahari yang diterima oleh air kolam lele.

Jika kolam terpapar sinar matahari cukup tinggi, pasti fitoplankton akan banyak tumbuh. Dan fitoplangkton itu warnanya hijau.

Warna bioflok adalah coklat tua. Jadi ada kemungkinan warnanya campur antara coklat tua kehijauan.

Pengukuran yang pasti adalah dengan mikroskop. Jadi kelihatan floknya aktif atau tidak.

Bakteri dalam bioflok membutuhkan oksigen untuk tetap bisa hidup. Kebutuhannya minimal 2 mg/L air kolam.

Ini belum kebutuhan oksigen untu lelenya.

Idealnya, per titik aerasi besarnya 10 liter/menit. Itu adalah volume aerasi yang besar.

Aerator akuarium tidak ada yang besarnya segitu bos.

Volume bioflok

Ternak lele bioflok itu ibaratnya memelihara dua hewan dalam satu kolam. Satu lele satunya bioflok.

Karena yang utama adalah lelenya, maka bioflok jumlahnya dalam kolam tidak boleh berlebihan.

Harus diukur setiap minggunya.

Caranya dengan menggunakan imhoff cone.

Ambil air kolam sebanyak 1 liter pada bagian tengah kolam. Kemudian endapkan selama 30 menit. Nanti floknya akan mengendap pada bagian dasar imhoff cone.

Volume optimal bioflok pada ikan lele adalah sebanyak maksimal 100 ml/liter air.

Jumlah bioflok yang berlebihan akan membuat oksigen rebutan antara lele dan bioflok. Karena utamanya adalah lele, maka biofloknya harus dikurangi dong.

Caranya dengan membuang air dasar pada kolam. Pengurangan air dasar bisa dilakukan sebanyak 10% air kolam. Dengan catatan air tidak bau dan pembuangan hanya bertujuan untuk mengurangi volume flok saja.

4 . Memasukkan benih

Secara teknis memasukkan benih ikan lele bioflok tidak berbeda dengan model pemeliharaan lain.

Yaitu benih lele beserta wadahnya dimasukkan bersama – sama dengan wadahnya ke kolam. Supaya suhu wadah benih dan air kolam sama.

Ini supaya benih beradaptasi terlebih dahulu.

Kemudian pelan – pelan biarkan lele melepaskan diri dengan sendirinya ke kolam.

Tapi yang paling penting dalam hal memasukkan benih dalam ternak lele bioflok adalah lele harus benar – benar keadaan sehat dan tidak terserang oleh bakteri apapun.

Penjelasannya seperti ini.

Media bioflok yang baru terbentuk kaya akan gula. Asal gula ini adalah dari molases atau gula pasir.

Perkembangan bioflok pada minggu awal ini belum banyak.

Jika bibit lele terdapat bakteri pada tubuhnya, maka ada kemungkinan yang lebih berkembang adalah bakteri patogennya.

Kemudian apa yang terjadi, pasti kita sudah bisa mengetahuinya.

Padat tebar ternak lele bioflok

Berapa padat tebar yang optimal.

Ini masih terus berjalan penelitiannya.

Ada yang ngasih 1000 per m3 sampai ada yang 2000 ekor/m3 nya.

Idealnya, padat tebar adalah 400 ekor/m3.

Tapi percayalah, semakin tinggi padat tebar semakin banyak persoalan yang harus dihadapi.

Salah satunya adalah semakin padat laju pertumbuhan semakin rendah. Dengan padat tebar yang sedang – sedang saja, bobot konsumsi bisa dicapai lebih cepat.

5 . Pemberian pakan

Pada ternak lele bioflok pemberian pakan tidak boleh berlebihan. Semua sistem budidaya lele juga sama sepertinya.

Pemberian pakan diberikan sebanyak 3% dari biomassa lele.

Meskipun begitu, ketika lele sudah tidak menunjukkan respon aktif terhadap pakan yang dilempar, pemberian dihentikan.

Pakan yang tidak sempat termakan oleh ikan, akan merusak kualitas air.

Pakan ikan mengandung protein yang sangat tinggi. Protein adalah sumber N organik.

N organik ini akan diubah oleh bakteri dalam kolam menjadi amoniak. Jika tidak pakai bioflok.

Kalau pakai bioflok, tetap saja akan membuat beban kerja bakteri bioflok menjadi lebih berat.

Berarti, pakan yang tidak termakan tersebut menyumbang penurunan kualitas air yang sangat tinggi.

Sangat disayangkan.

6 . Penggantian air lele bioflok

Ternak lele bioflok tidak berarti tanpa adanya ganti air. Bisa tanpa ganti air, asalkan:

  • Air tidak bau
  • Volume bioflok tidak berlebihan
  • Air kolam tidak berkurang karena penguapan.

Pada budidaya lele konvensional, pergantian air dianjurkan sebanyak 30% setiap minggunya.

Atau dalam sebulan melakukan penambahan air sebanyak 120%. Ini seperti ganti air baru.

Hal tersebut dilakukan supaya lele bisa tumbuh dengan normal.

Lha kalau pergantian air seperti ini juga dilakukan pada ternak lele bioflok, artinya tidak ada bedanya dong?

Mending pakai yang konvensional saja. Tidak perlu ada tambah – tambah garam, molases, dolomit dan probiotik. Malah lebih hemat.

Makanya, dalam ternak lele sitem bioflok, pergantian air dilakukan atau ditambah jika mengalami ketiga hal di atas.

Air kolam yang bau menandakan kandungan oksigen yang terlarut dalam air kolam sangat sedikit. Dan amoniaknya juga tinggi.

Bisa diakibatkan aerasi kurang, pakan banyak yang tidak termakan atau biofloknya mati.

Jika aerator mati lebih dari 5 jam, maka air kolam perlu dibuang sebanyak 30% atau sepertiganya.

Kemudian membuat aplikasi bioflok baru seperti pada awal penyiapan media.

Kalau mati lampu hanya sekitar 1 jam, buang air dasar saja. Sekitar 10% dari air kolam.

Kemudian tambah lagi airnya seperti sedia kala.

7 . Pemanenan

Panen , panen saja. Jika ukuran sudah masuk di pasar, lele bisa dipanen.

Harga menyesuaikan dengan harga setempat.

Sederhana saja. Itu saja.

Apakah airnya harus dibuang?

Kalau airnya masih bagus, bisa dipindah ke kolam lain. Jadi nanti tidak perlu aplikasi bioflok lagi.

Lebih hemat.

8 . Penyakit lele

Lele kumis putus atau keriting

Kumis putus pada lele diakibatkan oleh bakteri flexibacter. Pengobatannya dengan daun pepaya jepang.

Ambil beberapa lembar daun pepaya jepang, kemudian remas – remas menjadi ukuran yang sangat kecil. Sebar dalam kolam.

Bisa juga daun di remas – remas dan pemberiannya bareng dengan saat pemberian pakan. Daun akan termakan oleh lele.

Pemberian dilakukan setiap sehari sekali. 3 – 4 hari InsyaAllah kumis bisa tumbuh kembali.

Artinya, lele membaik.

Referensi

Adi Sucipto. https://www.youtube.com/watch?v=ZSy7826H1sw

SHARE:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *