Membuat Pupuk Kompos dari Kotoran Kambing dengan EM4

Silahkan share di:

Produksi kotoran kambing per hari

Limbah dari peternakan kambing banyak macamnya. Diantaranya adalah kotoran kambing dan sisa-sisa pakan kambing yang tidak habis.

Limbah dari peternakan kambing biasanya kurang dimanfaatkan secara optimal oleh para peternak. Biasanya limbah ini hanya dikumpulkan di suatu tempat dan kemudian dibakar.

Padahal, kalau informasi bisa diberikan secara tepat, pemanfaatan limbah ternak bisa sangat membantu perekonomian meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak.

Misalnya, jumlah nitrogen dari kotoran kambing sebanyak 7,434 kg, itu sama dengan pupuk urea sebanyak 16,2 kg. Kandungan nitrogen dari urea adalah 46%.[4]

Misalnya kita mempunyai beberapa kambing. Misalnya 5 ekor dan berat masing – masing 24 kg. Totalnya berarti 120 kg.

Setiap berat total 120 kg kambing atau domba, kotoran yang dihasilkan adalah sebanyak feses 4 kg dan urin 1 liter. Totalnya sekitar 5 kg.

Berat kering feses kambing adalah 45 %. Dari 4 kg feses, kita bisa dapat feses kering sebanyak 1,8 kg.

Kandungan nitrogen dari feses kambing adalah 1,6% dari berat kering. Sedangkan kandungan nitrogen dari urinnya adalah 0,6%.

Setelah saya hitung, setiap hari kita mendapatkan nitrogen yang masih terkandung dalam kotoran kambing sebanyak 37,8 gram. Kalau sebulan tinggal dikalikan 30 hari, jadinya 1,134  kg.

Jumlah nitrogen sebanyak ini, hanya setara dengan urea sebanyak 2,5 kg saja.

Ini hanya murni dari feses dan urin kambing. Sisa pakan belum dihitung.

Pemanfaatan limbah ternak kambing

Limbah dari peternakan kambing ini sebenarnya bisa dimanfaatkan menjadi pupuk kompos yang cukup berkualitas.

Pembuatan kompos dari limbah peternakan kambing, bahan-bahannya bisa dari kotoran kambing murni atau dengan tambahan bahan-bahan organik lainnya. Misalnya sisa-sisa pakan yang terbuang tadi.

Banyak sekali manfaat dan keuntungan apabila memanfaatkan kotoran kambing menjadi pupuk kompos atau pupuk kandang.

Yaitu:

  • Mengurangi jumlah penyimpanan limbah peternakan.

  • Bau yang diakibatkan oleh tumpukan kotoran kambing bisa berkurang.

  • Menghilangkan potensi patogen yang terdapat dalam kotoran ternak

  • Biji-bijian yang bisa menjadi gulma mati atau tidak akan tumbuh.

  • Mempermudah dalam pengangkutan dan pupuk kompos dapat memperbaiki tanah.

  • Pengomposan kotoran ternak dapat melepaskan unsur-unsur hara yang dapat langsung dimanfaatkan oleh tanaman.

  • Mengurangi sumber polusi dan Bernilai Ekonomi.

Manfaat-manfaat tersebut tidak terbatas hanya pada peternakan kambing saja. Ternak Sapi, kerbau, kuda, dan domba juga bisa.

Standard pupuk kompos

Pupuk kompos yang baik harus mempunyai rasio C/N <20, sehingga pupuk kompos dari kotoran kambing akan lebih baik penggunaannya bila dikomposkan terlebih dahulu.

Kalaupun akan digunakan secara langsung, kandungan unsur hara belum bisa dimanfaatkan oleh tanaman.

Pupuk kandang dari kotoran kambing ini akan memberikan manfaat yang lebih baik pada musim kedua penanaman.

Atau dengan kata lain, kalau dipupuk sekarang, manfaatnya baru terasa pada periode penanaman berikutnya.

Kadar air kotoran kambing relatif lebih rendah dari kotoran sapi dan sedikit lebih tinggi dari kotoran ayam.

Tekstur dari kotoran kambing adalah khas, karena berbentuk butiran-butiran yang agak sukar dipecah secara fisik sehingga sangat berpengaruh terhadap proses dekomposisi dan proses penyediaan haranya.

Nilai rasio C/N pukan kambing umumnya masih di atas 30. Kadar hara pukan kambing mengandung kalium yang relatif lebih tinggi dari pupuk kompos lainnya. Sementara kadar hara N dan P hampir sama dengan pukan lainnya.

Menurut standar SNI, kualitas dari pupuk organik haruslah seperti ini.

standard-sni-pupuk-kompos

Sedangkan kotoran kambing, menurut sebuah jurnal imiah[5], kandungan unsur dan standar kualitasnya masih seperti ini.

Nilai C organik dari kotoran kambing masih sangat tinggi. Sehingga kalau dibagi dengan Nitrogen, hasil dari rasio C/N masih tinggi.

Supaya rasio C/N nya rendah dan pupuk mudah terserap oleh tanaman, kandungan C-Organik harus dikurangi.

Secara alami C organik semakin lama seiring waktu akan berkurang dengan sendirinya. Tapi ini akan membutuhkan waktu yang lama.

Supaya lebih cepat, maka kotoran kambing dikomposkan. Pengomposan dibantu dengan bakteri pengurai. Misalnya EM4, Starbio, Promi, Orgadec dan masih banyak yang lainnya.

Cara Membuat kompos dari kotoran kambing

Pembuatan kompos dari kotoran kambing kini menjadi lebih mudah. Soalnya, bakteri yang digunakan untuk starter sudah mudah untuk didapatkan.

Selain itu, informasi yang mudah sekali diperoleh untuk membuat pupuk kompos ini.

Berikut ini ada beberapa cara untuk membuat kompos dari kotoran kambing. Cara ini adalah metode – metode yang dilakukan dalam sebuah penelitian.

Cara pertama:

Cara yang pertama ini starter yang digunakan adalah EM4. Kalau starter ini sudah pada tahu bukan?

Starter yang satu ini mudah sekali untuk didapatkan. Harganya juga lumayan murah. Per botol isi 1 liter harganya sekitar 20 ribuan.

Langkah – langkahnya adalah sebagai berikut.

Mencampur kotoran kambing dengan bakteri starter em4.

Sebelum itu, aktifkan terlebih dahulu Em4 nya dengan cara mencampur em4 dengan molases dan air.

Perbandingan em4, molases dan air adalah 1:1:100.

Misalnya,
1 ml em4 : 1 ml molases : 100 ml air atau
10 ml em4 : 10 ml molases : 1000 ml air atau1 liter air.

Diamkan campuran ini selama dua hari supaya bakteri dalam em4 teraktifkan.

Kalau memakai reaktor sederhana, bakteri aktif ditandai dengan munculnya gelembung gas.

Takaran dalam penggunaan em4 ini sesuai petunjuk dalam kemasan. Satu liter em4 untuk 1 ton bahan kompos/pupuk kandang.

Kalau pembuatan pupuk kompos dari kotoran kambing ini tidak sampai 1 ton, maka takarannya harus disederhanakan.

Contoh:

1 ml em 4 untuk 1 kg bahan. Jadi nilainya nanti akan sama dengan (1000 ml = 1 liter) em4 untuk (1000 kg = 1 ton) bahan pupuk.

Selanjutnya siramkan secara merata larutan yang berisi em4, molases dan air ke kotoran kambing yang akan di buat kompos.

Kemudian diditutup rapat selama 5 minggu. Kadar air dari pupuk kandang ini juga perlu diperhatikan.

Setiap tiga hari sekali, pupuk kompos dibolak balik untuk aerasi. Ini bisa lebih mempercepat prosesnya. Penjelasannya ada dibawah.

Ciri-ciri kadar air yang pas dalam pembuatan pupuk kompos dari kambing ini adalah kalau bahan dikepal, dan dilepaskan, bahan tadi tidak pecah atau ambyar.

Selain itu saat dikepal tidak menenteskan air yang sampai mengocor banyak.

Jadi, silahkan mengepal-ngepal kotoran kambing…..(Peace!)

Dari beberapa penelitian ada yang menyarankan membolak-balikkan kompos selama proses pemeraman tapi ada juga yang tidak.

Membolak-balik dalam proses pengomposan tujuannya supaya pengomposan terjadi secara aerobik bukan anaerobik.

Ternyata hasil dari pengomposan aerobik lebih baik daripada pengomposan anaerobik.

Kelebihan dari pengomposan aerobik adalah sebagai berikut.


Prosesnya berlangsung lebih cepat. Hanya sekitar 4 – 6 minggu. Sedangkan pengomposan secara anaerobik bisa sampai 24 minggu.

Pengomposan aerobik tidak menghasilkan gas yang berbau.

Proses aerobik memberikan efek pupuk tetap dingin atau tidak terjadi peningkatan suhu.

Proses aerobik secara alamiah dapat menguraikan material limbah yang mengandung serat selulosa sedangkan proses anaerobik tidak bisa.[3]


Cara yang pertama ini hampir sama dengan cara pembuatan kompos dari kotoran sapi pada postingan saya sebelumnya.

Silahkan lihat di cara membuat pupuk kompos dari kotoran sapi.

Cara ke dua pembuatan pupuk kompos dari kotoran kambing.

Cara yang kedua ini, Bahan yang digunakan untuk pembuatan kompos tidak hanya dari kotoran kambing melainkan ada tambahan bahan organik-organik lainnya.

Cara yang kedua ini seperti cara yang dilakukan oleh Suprapto dkk, peneliti dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lampung yang akan menggunakan pupuk kompos dari kotoran kambing untuk pertanian lada di Lampung.

Bahan-bahannya adalah kotoran kambing dan limbah pertanian yang digunakan adalah limbah kopi, limbah somil (gergajian), jerami, dedak, sisa pangkasan penegak, bebokor dan penutup tanah.

Langkah – langkahnya adalah sebagai berikut:

1 . Membuat larutan biofermentasi dari molases dan EM-4. Masing-masing volumenya 250 cc dengan konsentrasi 10 cc/ 20 liter.

Jadi, molases sebanyak 250 ml, em4 sejumlah 10 ml dilarutkan ke air sebanyak 20 liter.

Kemudian, semuanya dicampur diaduk sampai homogen atau merata.

2 . Limbah pertanian dipotong-potong dengan ukuran 5 – 10 cm. Kemudian limbah pertanian yang terdiri dari beberapa bahan di atas dicampur secara merata.

Campuran limbah pertanian ini ditaburi kotoran kambing sampai merata. Selanjutnya, ditumpuk membentuk bedengan/guludan dengan ukuran lebar 2 meter dan panjang 5 – 8 meter.

Untuk ukuran ini bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Tergantung jumlah bahan yang dimiliki juga.

Guludan ini lalu disiram dengan larutan biofermentasi yang sudah dibuat pada no 1 sampai merata.

3 .Membuat campuran limbah pertanian untuk lapisan kedua.

Campuran limbah pertanian yang dihamparkan pada guludan pertama, kemudian dilapisi lagi dengan limbah pertanian lainnya.

Kemudian di atasnya ditaburkan pupuk kandang lagi sampai merata.

Selanjutnya disiram dengan larutan biofermentasi sampai basah seperti lapisan pertama.

4 . Langkah-langkah seperti lapisan pertama dan ke dua dilakukan lagi pada lapisan ke tiga dan seterusnya sampai ketinggian guludan mencapai 60 – 80 cm atau bahan habis.

5 . Kemudian ditutup plastik warna gelap dengan rapat dan dibiarkan terjadi proses dekomposisi. Plastik bisa menggunakan plastik mulsa.

6. Setelah selama 10 hari, plastik dibuka dan dilakukan pengadukan, selanjutnya dikembalikan lagi dan ditutup plastik seperti semula.

7 . Setelah 30–40 hari, panasnya akan turun (dingin) dan artinya pembuatan pupuk organik sudah selesai dan siap untuk digunakan sebagai pupuk tanaman.

Cara ke tiga

Cara yang ke tiga ini menggunakan starter yang berbeda dari cara pertama dan kedua. Kalau kedua cara yang pertama menggunakan EM4, cara yang ini menggunakan P**MI dan Or*a*ec.

Bakteri yang terkandung dalam starter ini berbeda dengan bakteri yang ada pada EM4.

Jenis bakteri pada P**MI adalah Trichoderma Harzianium Dt 38, Pseudokoningii Dt 39, Aspergilus sp. dan fungi.

Sedangkan pada Or*a*ec bakterinya adalah Trichoroderma Pseudokoningii dan Cytophaga Sp.

Trichoroderma Pseudokoningii dan Cytophaga Sp. Menurut sumber akademik memiliki kemampuan yang sangat luar biasa dalam memecah ikatan karbon dari bahan organik.

Jadi, penggunaan jenis bakteri ini kalau digunakan untuk membuat kompos dari kotoran kambing, prosesnya bisa lebih cepat.

Dua puluh hari selama pengomposan, nilai kualitas pupuk sudah memenuhi standar C/N rasio yang ditetapkan.

Dosis pemakaiannya, untuk 1 kg starter bisa untuk 1 ton bahan pupuk. Cara penggunaannya tinggal 1 kg dilarutkan ke 20 liter air bersih dan diaduk sampai merata.

Kalau bahannya 0,5 ton, ya tinggal di buat menjadi setengahnya saja. Misalnya 0,5 kg starter dilarutkan ke 10 liter air bersih untuk 500 kg bahan pupuk kompos.

Penelitian membuat kompos dari kotoran kambing dengan P***I

Ada sebuah penelitian yang menggunakan starter bakteri jenis ini untuk membuat pupuk kompos dari kotoran kambing.

Bahan yang digunakan adalah kotoran kambing dan debu sabut kelapa. Debu sabut kelapa itu adalah serpihan dari proses penyeratan sabut kelapa.

Kalau sabut kelapa diserat, misalnya mau dibuat sapu, pasti ada debunya yang berjatuhan. Nah, itu yang digunakan bukan sabutnya.

Perbandingan antara kotoran kambing dan debu sabut kelapanya adalah 1:1. Kalau kotoran kambingnya 500 kg, debunya juga 500 kg. Jadi, totalnya 1 ton.

Kemudian bahan tadi disiram dengan bakteri tadi yang sudah dilarutkan. Setelah itu ditutup rapat dan dimampatkan selama 50 hari.

Setiap tiga hari dilakukan pengadukan.

Kualitas dari pupuk kompos yang dihasilkan secara angka bisa dilihat pada gambar berikut.

Semakin lama waktu pengomposan, nilai c organik semakin menurun dan nilai jumlah nitrogen semakin meningkat.

Sehingga, nilai c/n rasionya semakin kecil dan sudah memenuhi standar SNI.

Kesimpulan

# . Saya kira tidak perlu idealis atau fanatik kalau bahan yang digunakan untuk pupuk kompos harus murni dari kotoran kambing.

Hal ini karena produksi dari kotoran kambing sangat sedikit kecuali kalau kambing kita ratusan bahkan ribuan.

Untuk 5 ekor kambing atau domba dengan berat total 120 kg, produksi total kotoran hanya 5 kg per hari.

Kalau mau mendapatkan kotoran sebanyak 100 kg per hari, maka kita harus punya 100 ekor kambing atau domba.

# . Untuk hasil lebih maksimal, bahan yang akan digunakan sebaiknya ukurannya dikecilkan. Bisa dichop atau dicacah.

Kotoran kotoran kambing sendiri, lebih baik dan proses pengomposannya lebih cepat kalau dihaluskan terlebih dahulu.

Kalau memungkinkan. Kalau tidak memungkinkan, tidak dihaluskan juga tidak masalah.

# . Proses dan cara pembuatan janganlah terlalu kaku. Yang penting, prinsip pengomposan sudah dipenuhi.

Yaitu, kondisi air harus lembab, pengomposan dilakukan secara anaerob dengan sesekali dilakukan pengadukan atau aerasi.

Pemeraman dilakukan sekurang – kurangnya 3 atau 4 minggu. Jadi, tidak ada yang namanya pengomposan sehari dua hari jadi.

Silahkan bereksperimen sendiri. Saya akan sangat senang kalau Anda berhasil melakukannya.

Dan kalau Anda berhasil, silahkan datang ke sini lagi dan bagikan pengalaman anda ke orang – orang lain.

Semoga sukses, sampai jumpa minggu depan.

Referensi:

[1] Kusuma, Maria Erviana. 2012. Pengaruh Beberapa jenis Pupuk Kandang Terhadap Kualitas Bokashi. Fakultas Peternakan Universitas Kristen Palangkaraya. Jurnal Ilmu Hewani Tropika Vol. 1 No. 2

[2] SUPRAPTO, SURACHMAN, A. PRABOWO dan M. SILALAHI. 2003. Pemanfaatan Kotoran Kambing Sebagai Bahan Baku Pupuk Kompos Pada Tanaman Lada.Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lampung

[3] Wahyono, Sri. dkk. 2011. Membuat pupuk organik granul dari aneka limbah. Jakarta. Agromedia Pustaka.

[4] Mathius, I-Wayan. Potensi dan Pemanfaatan Pupuk Organik Asal Kotoran Kambing-Domba. Balai Penelitian Ternak P.O . Box 221, Bogor. 16002)

[5] Triviana, Linda dan Aditya Yudha Pradhana. 2017. Optimalisasi Waktu Pengomposan dan Kualitas Pupuk Kandang dari Kotoran Kambing dan Debu Sabut Kelapa dengan Bioaktivator PROMI dan Orgadec. Balai Penelitian Tanaman Palma Manado. Jurnal sain veteriner issn 2407 0733.

(Visited 11.735 times, 31 visits today)
Silahkan share di:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan komentar