4 Hama Penting Pada Kacang Panjang Yang Menentukan Jumlah Produksi Kacang Panjang. Daftar Insektisidanya Tersedia

SHARE:

Keberadaan hama pada kacang panjang sedikit banyak akan mempengaruhi terhadap produksi dan keberhasilan panen kacang panjang.

Oleh sebab itu, hama pada kacang panjang ini perlu segera diatasi. Karena perkembangan dan siklus hidup mereka yang sangat cepat.

Hanya dalam hitungan hari, telur dari hama sudah bisa menjadi larva. Dan fase larva adalah fase yang sangat rakus dalam memakan inangnya.

Ada beberapa jenis hama yang biasanya menyerang kacang panjang. Meskipun tidak sebanyak hama pada tanaman cabe, ada beberapa yang fokus menyerangnya pada buah dan polong kacang.

Jenis – jenis hama pada kacang panjang adalah sebagai berikut:

  1. Lalat kacang (Agromyza phaseoli)
  2. Ulat tanah (Agrotis ipsilon)
  3. Ulat bunga/penggerek polong (Maruca testulalis)
  4. Kutu daun (Aphis craccivora)
  5. Kepik polong (Riptortus linearis) dan
  6. Wereng Empoasca sp.

Nanti kita akan melihat satu per satu sifat dan karakteristik serangan dari masing – masing hama di atas.

Ini akan sangat menarik karena bahkan insektisida tidak bisa mengatasi dengan efektifitas yang tinggi.

Posisi hama yang bersembunyi pada bunga dan polong mengurangi efektifitas dari penyemprotan pestisida yang digunakan.

Tapi mau bagaimana lagi, insektisida masih menjadi pilihan yang efektif bagi para petani.

Karena kenyataan memang seperti itu.

Menggunakan musuh alami dan pestisida organik masih kalah jauh performanya dengan yang kimia. Populasi musuh alami terkadang sangat jauh lebih sedikit daripada populasi hamanya.

Sehingga, musuh alami tidak berpengaruh banyak dalam mengatasi hama kacang panjang.

Selain itu, jumlah hama yang mampu dimangsa jauh lebih sedikit ketimbang perkembangan populasi hamanya. Sedangkan mengandalkan musuh alami untuk mengatasi hama, membutuhkan populasi musuh alamai yang sangat banyak.

Misalnya saja laba – laba. Mereka hanya membuat jaring dan memakan hama yang kebetulan terperangkap. Tentu jumlah yang terperangkap pasti tidak seberapa.

Kalau jumlah laba – laba menjadi sangat banyak, tentu petaninya juga malah “gilo” sendiri melihatnya.

Kalau sekala laboratorium sih masih ok. Efektifitas musuh alami masih bisa teramati.

Kalau di lapangan, mengandalkan musuh alami keburu habis kacang panjangnya.

Langsung saja kita ke jenis hama – hama di atas.

Ulat bunga atau pengerek polong

Ulat bunga ini sebenarnya adalah larva dari serangga yang bernama latin maruca testulalis.

hama pada kacang panjang

Nama maruca testulalis adalah nama yang banyak dipakai oleh bidang keilmuan di Indonesia. Tapi sebenarnya serangga yang satu ini memiliki persamaan nama ilmiah yang cukup banyak. Supaya nanti tidak mengalami kebingungan dalam membedakan, nama – nama lain dari serangga ulat bunga atau pengerek polong ini adalah sebagai berikut:[1]

  1. Maruca vitrata oleh (fabricius 1787).
  2. Maruca testulalis (oleh Geyer pada tahun 1832)
  3. Botys bifenestralis ( Oleh mabile tahun 1880).
  4. Hdrocampe aquatilis ( oleh Guerin Meneville tahun 1832).
  5. Phalaena Vitrata (Oleh Fabricius tahun 1787)

Kelima nama – nama di atas menunjukkan pada satu serangga yang sama tapi diperkenalkan oleh ilmuan yang berbeda. Silahkan cari sendiri jika ingin tahu tentang hal tersebut.

Serangga ini memang suka berkembang biak pada tanaman kacang – kacangan. Selain kacang panjang, ulat bunga juga suka menyerang kacang hijau, kacang kedelai dan kacang tunggak.

Cara hama pengerek polong menyerang kacang panjang adalah dengan cara:

  • Meletakkan telur – telur mereka pada bunga, polong atau daun. Telur ini biasanya diletakkan mengumpul. Jumlahnya tidak banyak hanya sekitar 2 – 4 butir.
  • Telur akan menetas dalam 2 – 3 hari. Pada awalnya telur berwarna putih tapi ketika akan menetas warnanya berubah menjadi agak kuning kecoklatan.
  • Larva kemudian akan lari ke dalam polong dengan cara melubangi dan memakan kacang atau isi polong.
  • Fase larva berlangsung cukup lama, bisa sampai 10 – 15 hari. Tapi karena posisi mereka berada di dalam polong, maka insektisida kontak kurang efektif.

Ada banyak insektisida yang bisa dipakai untuk mengatasi serangan pengerek polong ini. Di bawah ini adalah macam – macam insektisida yang bisa kita gunakan untuk mengendalikan pengerek polong kacang panjang ini.

Merek DagangBahan Aktif
SUMIALPHA 25 ECEsfenvalerat 25 g/liter
PREVATHON 50 SCKlorantraniliprol 50 g/liter
INVISI 70 WGImidakloprid 70%
METEOR 25 ECLamda sihalotrin 25 g/liter
AGRIMEC 18 ECAbamektin 18 gram/liter
ACTARA 25 WGTiametoksam 25%
PACE 420 SCEmamektin benzoat 20 g/liter

fipronil 400 g/liter

BELAWAN 365 ECAbamektin 45 g/liter

klorfenapir 320 g/liter

AMMATE 150 ECIndoskarb 150 g/liter
DKFENRAT 200 ECFenvalerat 200 g/liter
MATADOR 25 ECLamda sihalotrin 25 g/liter
STARBAN 585 ECKlorpirifos 530 g/liter

Sipermetrin 55 gram/liter

DELTAKINGDeltametrin 35 g/liter

klorpirifos 530 g/liter

TENCHU 20 sgDinotefuron 20%
REGENT 50 SCFipronil 50 g/liter
INOVA 25 ECBeta siflutrin 25 g/liter
Dangke 40 WPMetomil 40%
CASCADE 50 ECFlufenoksuron 50 g/liter
ALIKA 247 ZCLamda sihalotrin 106 g/l

tiametoksam 141 g/l

AGROTRIN 250 ECSipermetrin 250 g/l
AGROFOS 480 ECKlorpirifos 480 g/l
APRISID 25 WPMetidation 25%
BULDOK 25 ECBeta siflutrin 25 g/l
LANNATE 40 SPMetomil 40%
PREZA 100 ODSiantraniliprol 100 g/l
PROSID 150 ECMetidation 150 g/l

Konsentrasi dalam kolom bahan aktif bukan anjuran pemakaian. Melainkan kepekatan dari bahan aktif dalam masing – masing produk insektisida di atas.

Untuk penggunaan, silahkan lihat pada kemasan masing – masing. Biasanya disertakan dan seharusnya memang ada.

Mengatasi pengerek polong dengan insektisida nabati

Ada banyak sekali bahan herbal yang mempunyai potensi untuk digunakan sebagai insektisida nabati.

Diantaranya adalah

  • Daun sirih
  • Daun sirsak
  • Akar tuba
  • Daun pepaya
  • Daun babadotan.

Karena berdasarkan penelitian daun sirsak lebih efektif[4], kita akan fokus pada daun sirsak saja.

Proses pembuatannya juga sangat mudah.

  • daun sirsak sebanyak 250 gram ditumbuk sampai halus.
  • Kemudian ditambah air sebanyak 1 liter
  • diamkan selama 24 jam.
  • Saring dengan kain halus dan siap digunakan.
  • Aplikasinya bisa dimulai pada usia kacang panjang 28 hst setiap satu minggu sekali.

 

Kutu daun

Kutu daun yang menyerang kacang panjang memiliki nama ilmiah aphis craccivora. Salah satu dari banyak jenis aphid yang ada di dunia ini.

Secara kasat mata kutu ini berwarna hitam, ada yang bersayap dan tidak bersayap.

Ukurannya sangat kecil. Kutu daun dewasa ukurannya sekitar 2,2 mm. Untuk jenis yang tidak bersayap, ukurannya bisa lebih kecil lagi.

Dengan ukuran induk yang sangat kecil, anak – anaknya pasti sangat lembut ukurannya.

Indukan dari kutu daun usia hidupnya antara 9 – 25 hari dan bisa menghasilkan anakan sebanyak 25 – 125 ekor.[2]

hama kacang panjang

Kutu daun dapat menyerang kacang panjang pada bagian tanaman yang muda. Seperti tunas – tunas muda atau daun muda.

Taun yang terserang akan mengalami kerusakan dalam bentuk berkerut, keriting, ngelunthung dan pertumbuhan tanaman terhambat (stunting).

hama pada kacang panjang

Kutu daun ini menghasilkan embun madu yang bisa menjadi tempat berkembangnya jamur atau cendawan capnodium sp. Embun madu ini sebenarnya adalah kotoran dari kutu daun.

Karena embun madu ini banyak mengandung gula, maka biasanya sangat menarik perhatian semut – semut.

Cendawan ini berwarna hitam dan menutupi permukaan daun. Daun yang tertutup cendawan hitam ini tidak akan bisa melakukan fotosintesis.

Selain merusak daun dan tunas muda, kutu daun juga bisa menjadi vektor (penularan) berbagai virus pada tanaman.

Tanda kalau virus sudah ditularkan dan menyerang adalah tanaman mengalami gejala lain selain kerusakan akibat kutu daun.

Kutu daun biasanya menyerang daun muda atau tunas vegetatif yang baru muncul. Tunas ini akan tumbuh keriting dan mengkerut. Begitu seterusnya setiap tunas akan tumbuh pasti keriting lagi. Akan tetapi, keriting tapi warna daun masih hijau.

Meskipun begitu, daun pada bagian bawah kacang panjang yang tidak terserang, daunnya masih utuh dan hijau. Sehingga, kacang panjang masih bisa berbuah.

Ketika serangan kutu daun ini diabaikan, daun keriting ini akan menguning. Hati – hati saja, siapa tahu ini adalah serangan sekunder dari virus yang dibawa oleh kutu daun tadi.

Merek insektisida untuk kutu daun aphis craccivora ini rata – rata sama dengan insektisida pengerek polong maruca testulalis.

Insektisida nabati untuk kutu daun kacang panjang ini lebih banyak pilihan yang bisa digunakan. Diantaranya adalah air tembakau, daun pepaya dan daun sirsak mungkin juga bisa.

Wereng empoasca

Wereng ini bernama ilmiah empoasca sp. Penampakan fisiknya adalah wereng yang berwarna hijau kekuningan dengan bintik coklat pada kedua sayapnya.

Ada sekitar puluhan spesies dari wereng empoasca yang kini bisa ketahui. Setidaknya seperti itu dari sumber wikipedia.

Tidak semua spesies tersebut bisa kita temukan di Indonesia. Yang penyebarannya paling mendekati Indonesia adalah spesies empoasca decedens.

Wereng ini berukuran sekitar 3 mm. Wereng empoasca menyerang daun muda dan daun kacang-kacangan yang belum membuka.

Seperti halnya kutu daun, Empoasca sp. juga menyerang tanaman dengan cara menghisap cairan tanaman (daun).[3]

Bekas luka yang ditimbulkan berupa bercak-bercak putih yang mengelompok pada permukaan daun.

Serangan berat mengakibatkan daun menguning, mengeriting, dan mati mirip dengan kerusakan yang diakibatkan oleh kutu daun.

Insektisida yang digunakan untuk mengontrol serangan wereng empoaska adalah yang bisa merusak sistem sarafnya dan memhambat pertumbuhannya.

Contoh bahan aktif insektisida tersebut adalah organophosphates, nicotinoids dan pyrethroids.

Contoh merek dagang insektisida yang bisa dipakai untuk wereng empoasca adalah CONFIDOR 200 SL.

Kepik coklat penghisap polong

Riptortus linearis, serangga seperti kepik, ramping, berwarna coklat ini dikenal sebagai kepik pengisap polong. Tidak hanya pada kacang panjang, tetapi pada jenis tanaman kacang-kacangan lain seperti kedelai.

Serangga ini fokus menyerang pada biji polong, baik serangga dewasa maupun nimfanya.

Perusakan polong dilakukan dengan cara menusuk dan mengisap biji pada polong muda maupun polong tua.

Serangan pada polong muda mengakibatkan biji menjadi kempis dan kering dan pada polong yang bijinya belum mengeras mengakibatkan biji menjadi hitam dan tidak berisi.

Serangan pada polong tua mengakibatkan biji keriput dan terlihat adanya bintik atau bercak hitam pada biji atau pada kulit polong bagian dalam yang merupakan bekas tusukan serangga.

Kewaspadaan pada serangga ini harus dimulai pada saat kacang panjang mulai berbunga. Karena sebentar lagi makanan mereka akan tersedia.

Tapi, siklus reproduksi dari serangga ini cukup lama. Lama perkembangan kepik pengisap polong dari telur hingga imago membutuhkan waktu 64,48 hari. Cukup lama untuk persiapan mengendalikannya.

Tidak banyak insektisida kimia yang secara khusus mengklaim bisa mengendalikan serangga ini. Sementara informasi untuk insektisida kepik coklat ini adalah RIMON-FAST 100 SC.

salah satu merek insektisida hama kacang panjang

Saya kira sampai di sini dulu untuk hama pada kacang panjang dan sedikit cara untuk mengatasinya.

Sebenarnya masih ada beberapa lagi hama pada kacang panjang yang bisa kita bahas. Tapi hama – hama di atas merupakan hama penting yang secara langsung akan mengganggu kuantitas produksi.

Hama seperti pengerek daun biasanya tetap ada. Dan terjadi pada semua fase pertumbuhan kacang panjang. Mulai dari fase vegetatif sampai fase generatif.

Referensi

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Maruca_vitrata

[2] https://en.wikipedia.org/wiki/Aphis_craccivora

[3] Johan. 2011. Kelimpahan Hama dan Musuh Alami Serta Pengaruh Perlakukan Insektisida Pada Tanaman Kacang Panjang (Vigna sinensis L.) Fase Generatif. Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.

[4] Eka Sundari Saragih, Yuswani Pangestiningsih*, Lisnawita. Uji Efektifitas Insektisida Biologi terhadap Hama Penggerek Polong (Maruca testulalis Geyer.) (Lepidoptera ; Pyralidae) pada Tanaman Kacang Panjang di Lapangan. Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian USU, Medan. Jurnal Online Agroekoteknologi .Vol.3. No.4, September 2015. (529) :1468 – 1477.

SHARE:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *