Kepadatan dan Bentuk Kandang Puyuh, Berpengaruh!

Silahkan share di:

Mengisi jumlah ternak puyuh dalam sebuah kandang tidak boleh sembarangan. Hal ini karena jumlah ternak dalam suatu kandang puyuh akan berpengaruh terhadap performa produksi dari ternak itu sendiri.

Kandang yang terlalu padat atau terlalu longgar bisa menyebabkan konversi pakan menjadi tinggi.

Kalau konversi pakan tinggi, maka penggunaan pakan menjadi tidak efektif atau boros.

Ada jumlah yang pas, supaya produksi telur puyuh menjadi optimal. Jumlah ini akan kita ketahui setelah Anda membaca artikel ini.

Pada artikel ini kita saya akan membahas khusus mengenai kandang. Lebih tepatnya kandang puyuh.

Tidak hanya pada kepadatan isi puyuh dalam kandang, tetapi juga desain dan bentuk kandang.

Desain dan bentuk tersebut meliputi perbandingan panjang dan lebar kandang, jumlah pintu dan seterusnya.

Mengenai kandang puyuh, secara umum sudah saya singgung dalam artikel saya sebelumnya. Yaitu di artikel analisa usaha ternak puyuh.

Jika belum membacanya, silahkan di baca terlebih dahulu.

Untuk mendukung artikel ini, saya menggunakan beberapa daya yang cukup bisa dipertanggung jawabkan.

Data tersebut adalah dari beberapa penelitian skripsi dan jurnal publikasi yang pernah dilakukan di beberapa universitas di Indonesia.

Berapa jumlah optimal puyuh dalam suatu kandang?

Sebagian besar, jumlah optimal puyuh dewasa dalam sebuah kandang adalah 40 ekor/m2. Namun ada juga yang menggunakan patokan kepadatan kandang sebanyak 60 ekor/m2. Hal ini menunjukkan bahwa kepadatan kandang bukan satu satunya faktor yang menentukan.

Artinya, kandang yang luasnya 1 meter persegi produksi telurnya akan optimal jika diisi puyuh sebanyak 40 ekor.

Bukan berarti kita harus membuat kandang dengan ukuran 1 meter x 1 meter. Jika kandangnya 1 meter x 0,5 meter, maka jumlah puyuhnya harusnya 20 ekor.

Jumlah puyuh bisa dihitung dengan patokan jumlah di atas.

Sekarang kita akan melihat pengaruh produksi puyuh jika diisi dengan jumlah yang lebih banyak.

Dari penelitian yang pernah dilakukan, kandang dengan ukuran petak panjang 62 cm, lebar 50 cm dan tinggi 26 cm, idealnya diisi burung puyuh sebanyak 12 ekor.

Cara menghitungnya adalah sebagai berikut:

Akan tetapi, petak kandang puyuh tersebut ada yang diisi 15 ekor dan 18 ekor puyuh.

Ternyata, terdapat perbedaan pada performa produksi puyung puyuh.[1]

Perbedaannya saya berikan dalam tabel di bawah in.

ParameterKepadatan Kandang (ekor/kandang)

12

15

18

Konsumsi pakan (gram)19,2619,2519,41
Konversi Pakan (gram/butir)32,4437,6636,81
Bobot telur (gram)9,69,529,43
Hen day production (%)59,2954,1651,98

Perbedaan yang cukup nyata adalah pada konversi pakan dan hen day productionnya.

Saya akan jelaskan satu per satu.

Konversi pakan

Konversi pakan terendah ada pada kepadatan kandung puyuh dengan jumlah puyuhnya 12 ekor.

Ini berarti dalam petak kandang tersebut, burung puyuh membutuhkan pakan sebanyak 32,44 gram untuk menghasilkan 1 butir telur.

Sedangkan kepadatan 15 dan 18 masing – masing membutuhkan pakan sebanyak 37,66 gram dan 36,81 gram untuk menghasilkan 1 butir telur.

Perbedaan selisih pakan yang dibutuhkan puyuh antara 4 – 5 gram antara kepadatan kandang 12, 15 dan 18.

Jelas kandang dengan kepadatan 12 ekor/kandang lebih efektif dalam penggunaan pakan.

Dalam usaha puyuh skala besar, efektifitas pakan ini baru akan sangat terasa.

Hen day production

Ini adalah persentasi burung puyuh bertelur setiap harinya.

Meskipun persentasinya jauh dari harapan, tapi persentasi produksi telur tertinggi ada pada kandang dengan kepadatan puyuh 12 ekor/kandang.

Harapannya, persentasi puyuh yang bertelur adalah sebanyak 80%. Mungkin ini dikarenakan kualitas genetik puyuhnya yang kurang bagus.

Sampai sejauh ini, kita bisa mengambil nilai yang cukup berguna.

Bahwa isi kandang yang padat kurang bagus untuk performa produksi telur puyuh.

Kandang yang padat menyebabkan suhu kandang meningkat. Kandang menjadi gerah dan menyebabkan burung puyuh menjadi stress.

Bentuk kandang, persegi atau persegi panjang?

Permasalahan kandang tidak terhenti hanya pada jumlah kepadatannya.

Bentuknya kandang juga mempengaruhi produksi dari telur puyuh.

Bentuk kandang juga menentukan perilaku puyuh bagaimana mereka menjangkau makanan, minum dan gerak mereka.

Bentuk kandang yang terbaik adalah persegi panjang.

Hal ini didukung dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Mbak Destia dari Universitas Juanda Bogor.[2]

Kepadatan kandang puyuh yang dipakai selama penelitian adalah 60 ekor per meter persegi. Lebih pasnya adalah 58,8 ekor per meter persegi.

Ukuran kandang yang digunakan selama penelitian adalah sebagai berikut.

Kandang 1. Ukurang kandang ini adalah panjang x lebar x tinggi = 70 cm x 68 cm x 25 cm. Dengan kata lain perbandingan antara panjang dan lebar kandang adalah mendekati 1:1.

Kandang 2. Kandang ke dua ini berukuran 84 cm x 57 cm x 25 cm. Perbandingan antara panjang dan lebarnya adalah mendekati 1,5 : 1.

Selanjutnya adalah kandang 3. Kandang yang ketiga ini ukurannya adalah 98 cm x 49 cm x 25 cm. Sehingga, perbandingan antara panjang dan lebarnya adalah 2:1.

Jumlah burung puyuh dalam masing – masing kandang sama, yaitu 28 ekor.

Pemberian pakan juga semua disamakan, yaitu sebanyak 22 gram/ekor.

Penelitian ini dilakukan selama 4 minggu. Bertepatan dengan usia burung puyuh saat umur 7,8,9 dan 10 minggu.

Hasil penelitian

Luas alas pada ketiga kandang di atas hampir sama. Coba masing – masing di kalikan.

Meskipun ada perbedaan sedikit, tapi jumlahnya cukup kecil.

Akan tetapi, performa produksi puyuh yang dihasilkan sangat berbeda.

Secara singkat, hasilnya akan saya berikan dalam bentuk tabel di bawah. Hasil ini adalah hasil total selama 4 minggu.

Kalau saya tampilkan data hasil tiap minggunya, jadinya nanti sangat panjang.

Parameter total (4 minggu)

Kandang

1

2

3

Konsumsi ransum15826 gram16127 gram16237 gram
Bobot telur3677,6 gram3950,67 gram4044 gram
Konversi ransum6,616,025,97

Konsumsi ransum total selama 4 minggu, kandang ke 2 dan ke 3 lebih tinggi daripada kandang 1.

Hal ini memperlihatkan bahwa bentuk kandang mempengaruhi tingkat konsumsi ransum burung puyuh.

Selain itu, bobot telur yang dihasilkan juga lebih banyak. Entah itu produksi telur yang dihasilkan lebih banyak atau bobot telur per butirnya lebih berat.

Meskipun jumlah konsumsi ransumnya lebih tinggi, akan tetapi konversi pakan pada kandang ke 2 dan ke 3 lebih kecil.

Berarti kandang ke 2 dan ke 3 lebih efektif dan efisien.

Sekarang kita akan lihat perbedaan hasil dari produksi telur puyuh per harinya. Ini sengaja saya sendirikan karena produksi telur pada puyuh usia 7,8,9 dan 10 minggu berbeda – beda.

Secara lengkap berikut adalah hasilnya.

Persentasi produksi telur puyuh usia

Kepadatan Kandang

1

2

3

7 minggu

15,31%

17,01%

17,86%

8 minggu

37,41%

39,46%

39,61%

9 minggu

58,16%

61,05%

61,56%

10 minggu

73,98%

77,55%

78,57%

Pada usia 7 minggu, burung puyuh baru mulai belajar bertelur, sehingga produksi telurnya masih sedikit.

Meskipun begitu, persentase produksi telur harian pada kandang ke 2 dan ke 3 lebih besar daripada kandang 1.

Baru setelah usia 10 minggu, produksi telur mulai naik mendekati angka 80%. Produksi telur tertinggi selama penelitian adalah 78,57 %.

Produksi telur tertinggi ini terjadi pada kandang puyuh yang nomer tiga.

Referensi

[1] Sipayung, Paingat Pardamean. 2012. Performa Produksi dan Kualtas Telur Puyuh (Coturnix – coturnix japonica) Pada Kepadatan Kandang Yang Berbeda. Skripsi. Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Fakultas Peternakan IPB Bogor.

[2] Destia, M., D Sudrajat, dan E Dihansih. Pengaruh Rasio Panjang dan Lebar Kandang Terhadap Produktivitas Burung Puyuh (Coturnix Coturnix Japonica) Periode Produksi. Jurnal Peternakan Nusantara ISSN 2442-2541Volume 3 Nomor 2, Oktober 2017. Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Djuanda Bogor.

(Visited 397 times, 1 visits today)
Silahkan share di:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan komentar