7 Manfaat Sabut Kelapa Untuk Tanaman, Yang Terakhir Uangnya Banyak

SHARE:

Manfaat sabut kelapa untuk tanaman

Manfaat sabut kelapa untuk tanaman ternyata begitu luas. Baik itu sabut kelapa digunakan secara langsung ataupun setelah melalui pemrosesan.

Pemrosesan sabut kelapa antara lain untuk dijadikan sebagai pupuk cair ataupun cocopeat.

Pemrosesan sabut kelapa juga tidak terlalu sulit. Tidak membutuhkan teknik dan bahan yang aneh – aneh. Sangat sederhana dan efektif.

Sabut kelapa yang lebih bersih, membuatnya banyak dijadikan pilihan oleh para pecinta tanaman. Berbeda dengan media tanam kompos, kadang beberapa orang merasa risih. Karena tahu bahan asalnya sehingga mungkin jijik karenanya.

Manfaat – manfaat sabut kelapa untuk tanaman ini, bukan berarti tidak bisa dipenuhi oleh bahan lain. Bahan lain juga bisa memberikan manfaat yang hampir sama, tapi sabut kelapa bisa menjadi alternatif.

Meskipun sebagai alternatif, tanaman bisa tumbuh dengan baik, meskipun belum tentu yang terbaik.

Inilah beberapa manfaat dari sabut kelapa untuk tanaman yang bisa kita ketahui.

1 . Sebagai media tanam

Yang jelas, sabut kelapa bisa dimanfaatkan sebagai media tanam. Yaitu dengan mengambil bagian sabut dari kulit kelapa dan menggunakannya secara langsung sebagai bahan untuk menanam.

Ada tanaman yang membutuhkan jenis media tanam khusus, sehingga menyerupai atau mirip habitat aslinya. Misalnya adalah tanaman anggrek.

manfaat sabut kelapa untuk tanaman  sebagai media tanam

manfaat sabutkelapa sebagai media tanaman anggrek

Beberapa jenis anggrek hidupnya adalah epifit. Yaitu menempel pada tanaman inang, tapi tidak parasit terhadap tanaman inang. Tidak semua anggrek bersifat epifit.

Karena sifatnya tidak parasit, maka anggrek tidak tergantung pada tanaman inang untuk mendapatkan nutrisinya. Istilahnya hanya numpang tempat hidup saja. Tapi, nutrisi dan kebutuhan lainnya cari sendiri.

Sehingga, hal tersebut bisa dimanipulasi dengan memberi anggrek dengan media tanam dari sabut kelapa.

Anggrek yang ditempelkan pada sabut kelapa seolah – olah ia hidup seperti habitat aslinya.

manfaat sabut kelapa untuk tanaman

Kemudian, nutrisinya diberikan secara manual dengan memberikan pupuk melalui media tanam ataupun melalui pupuk daun khusus anggrek.

Oleh sebab itu, pilihan yang paling mudah untuk dilakukan adalah dengan sabut kelapa. Karena teksturnya yang solid dan tidak mudah ambyar. Mudah dibentuk dan diatur sesuai keinginan.

Dan, sepertinya tidak memungkinkan untuk menggunakan media tanam yang lain.

Sebagai media tanam, sabut kelapa juga memenuhi kriteria media tanam yang baik. Yaitu diantaranya mampu mengikat air dan unsur hara.

Kemampuan tersebut lebih baik daripada arang kayu.

Meskipun bukan yang terbaik, untuk tanaman anggrek sabut kelapa adalah pilihan yang paling memungkinkan.

Jika ada pilihan lain yang lebih baik, let me know in the comment.

2 . Cocopeat

manfaat sabut kelapa untuk diproses menjadi cocopeat

Sabut kelapa bisa diproses untuk menjadi cocopeat. Cocopeat adalah sabut kelapa yang dipritili menjadi lebih lembut.

Serat – serat pada sabut kelapa diurai dan diubah menjadi ukurang yang sangat lembut.

Dengan ukuran yang lebih kecil, cocopeat menjadi lebih fleksibel untuk mengisi pot atau media dari media tanam.

Sehingga media tanam menjadi lebih padat, sehingga kemampuan dalam menyimpan air lebih baik, namun tetap memiliki porositas yang baik. Sehingga udara bisa masuk dan berdifusi pada media.

Oksigen yang tinggi pada media akan membantu akar untuk lebih baik dalam menyerap unsur hara.

Cocopeat ini cukup banyak digunakan dalam media tanam hidroponik. Meskipun, digunakan untuk selain sistem tanam hidroponik juga bisa.

Tapi dengan sifatnya yang porous, cocopeat akan membuat tanaman tumbuh menjadi lebih baik.

Karena oksigen akan banyak terdifusi pada cocopeat dan akar bisa tumbuh lebih leluasa.

3 . Mengandung unsur kalium

Sabut kelapa dikenal mengandung unsur kalium yang cukup tinggi.

manfaat sabut kelapa sebagai pupuk sumber kalium

Kandungan kalium pada sabut kelapa lumayan banyak. Kalium ini paling banyak terdapat pada bagian serat dari kulit kelapanya.

Ketika dalam bentuk serabut, jumlah kaliumnya sekitar 10,25%.[1] Sedangkan ketika sudah dalam bentuk abu serabut kelapa, nilai kaliumnya lebih tinggi antara 20 – 30%.[2]

Itu adalah jumlah kalium yang sangat banyak. Hampir setara dengan pupuk kandungan K nya pupuk gandasil, dan lebih tinggi daripada pupuk NPK.

Selain mengandung kalium, abu sabut kelapa juga ada kandungan fosfornya. Tapi jumlahnya jauh lebih sedikit, hanya sekitar 2% saja.

Untuk mendapatkan abu dari sabut kelapa juga mudah membuatnya. Tinggal di bakar saja. Proses ini akan menghasilkan pupuk padat dari sabut kelapa.

Sedangkan untuk mendapat pupuk cair, kita perlu melakukan beberapa pekerjaan tambahan untuk itu.

Pupuk kalium anorganik harganya mahal. Jika kita bisa mengolah sabut kelapa ini menjadi pupuk, maka kita bisa terbantu untuk mengurangi belanja pupuk kalium.

Karena unsur kalium sangat dibutuhkan oleh tanaman, terutama ketika tanaman sedang dalam fase berbuah atau berbunga.

Sehingga, menggunakan sabut kelapa sebagai pupuk, secara tidak langsung akan menambah jumlah unsur kalium untuk tanaman.

4 . Sebagai pupuk organik

Manfaat sabut kelapa untuk tanaman adalah bisa dipakai sebagai pupuk organik. Lebih khusus lagi sebagai sumber kalium organik.

Hal ini karena sabut kelapa mengandung unsur kalium yang lumayan. Seperti pada poin di atas.

Disebut sebagai sumber kalium organik karena diantara unsur lain di dalamnya, kalium yang paling tinggi.

Pupuk organik dari sabut kelapa bisa dalam bentuk abu sabut kelapa atau pupuk organik cair.

Dalam bentuk abu, maka sabut kelapa harus dibakar terlebih dahulu. Lebih mudah dan cepat dalam prosesnya. Kemudian abu dicampurkan ke media tanam dengan jumlah yang telah direncanakan.

Untuk jumlahnya, lihat di sumber kalium organik setara pupuk anorganik.

Sedangkan untuk pupuk cairnya, kita bisa membuatnya dengan cara berikut ini.[3]

  1. Sabut kelapa sebanyak 30 – 50 kg dicacah menjadi ukuran 3 – 5 cm. Semakin kecil semakin baik.
  2. Kemudian sejumlah abu sabut kelapa tersebut dimasukkan ke dalam tong dengan volume sekitar 200 liter.
  3. Tambahkan air bersih sampai tong terisi penuh.
  4. Tutup dan biarkan selama 4 minggu (satu bulan).
  5. Pupuk cair kalium organik siap digunakan.

Pupuk cair kalium dari sabut kelapa ini bisa digunakan sebagai pupuk kocor.

Pada tanaman jagung, pupuk cair kalium tersebut paling bagus kalau diberikan sebanyak 300 ml/tanaman.[4]

Dosis tersebut bisa membuat jagung tumbuh paling tinggi diantara dosis lainnya. Selain itu, serapan K nya juga menjadi lebih tinggi.

5 . Terdapat bakteri dan mikro organisme yang menguntungkan

Berdasarkan sebuah penelitian, setidaknya ada 7 mikroorganisme yang berbeda ditemukan pada sabut kelapa.[5]

Ke tujuh mikroorganisme tersebut adalah:

  • Genus Chromobacterium
  • genus Bifidobacterium,
  • genus Rothia,
  • genus Cellulomonas,
  • genus Sarcina,
  • genus Pasteurella dan
  • genus Bacillus.

Sepertinya jenis bakteri yang terdapat pada sabut kelapa bersifat kondisional. Karena sabut kelapa biasanya tidak diperlakukan secara khusus.

Sehingga, potensi untuk tercemar oleh bakteri dan jamur sangat tinggi.

Terlepas bakterinya akan merugikan atau tidak, saya perlu mencari informasinya lebih jauh lagi.

Tapi, salah satu dari bakteri di atas, ada yang sudah sering digunakan untuk mengatasi layu bakteri.

Misalnya, bakteri Bacillus subtilis dari genus bacillus, bakteri ini bisa digunakan untuk mengatasi serangan layu bakteri pada cabai.[6]

Mikro organisme di atas tidak semuanya baik. Ada yang bisa menyebkan patogen pada manusia misalnya rothia, sarcina, dan pasteurella.

6 . Mulsa sabut kelapa

manfaat sabut kelapa sebagai mulsa organik

Mulsa adalah penutup tanah pada lahan pertanian. Biasanya menggunakan plastik mulsa khusus dengan warna silver pada bagian atas.

Mulsa ini sangat penting perannya. Karena fungsinya bisa sebagai:

  1. Menjaga air tanah tidak mudah menguap.
  2. Menutup sinar matahari sehingga gulma tidak bisa tumbuh.
  3. Menjaga suhu media tanam tetap stabil.
  4. Mengurangi aliran air di permukaan tanah, sehingga pupuk tidak banyak yang hanyut bersama aliran air.
  5. Membuat tanah tidak cepat memadat.
  6. Pelapis antara buah dan tanah secara langsung. Misalnya pada semangkan. Jika tanahnya lembat, maka kontak langsung antara buah dan bisa memicu terjadinya busuk buah.

Sekarang sudah banyak kajian untuk menggunakan mulsa dari bahan organik. Misalnya jerami padi, alang – alang, sekam padi dan sabut kelapa.

Penggunaan mulsa organik dirasa lebih menguntungkan. Karena selain bisa berfungsi seperti mulsa plastik, mulsa organik juga bisa menyumbang bahan organik pada tanah.

Karena semakin lama, mulsa organik akan terdegradasi (terurai) dan bisa membuat tanah tetap gembur dan subur.

Termasuk memanfaatkan sabut kelapa sebagai mulsa organik untuk tanaman.

Berdasarkan penelitian, memberi mulsa sabut kelapa memberikan pertumbuhan yang lebih baik, dibandingkan dengan tanaman yang tidak menggunakan mulsa sama sekali.[7]

Akan tetapi, kelemahan dari mulsa organik adalah harus tebal. Ketebalan mulsa sabut kelapa setidaknya antara 6 – 10 cm.

Kalau mulsa organik ini terlalu tipis, maka sinar matahari basi bisa menembus ke tanah melalui rongga – rongga mulsa.

Sehingga, memberi peluang terhadap gulma untuk tumbuh.

7 . Peluang usaha

Dengan banyaknya manfaat sabut kelapa untuk tanaman, ini bisa menjadi peluang usaha yang unik.

Karena sabut kelapa akan banyak dibutuhkan. Baik itu dari para penghobi sampai pertanian yang lebih luas.

Terutama cocopeat, harga eceran di pasaran yang cukup lumayan, peluang besar ada di sini.

Dengan memproses sabut kelapa menjadi cocopea, maka nilai tambahnya akan meningkat. Pengemasan yang oke disertai beberap pentunjuk manual akan bisa menambah daya jual ke konsumen.

Saya kira itu, beberapa manfaat sabut kelapa untuk tanaman. Semoga bermanfaat.

Sorry jika banyak kekurangan, terima kasih dan sampai jumpa lagi.

Referensi

[1] Zaini, Halim, Fachraniah, Zaimahwati, dan M. Yunus. Pelatihan Pembuatan Pupuk Kalium Cair Dari Sabut Kelapa Untuk Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Hortikultura di Desa Mesjid Punteut Kecamatan Blang Mangat Kota Lhokseumawe. Jurnal Vokasi, Vol 2 No.1 April 2018.

[2] Risnah, Sitti, Prapto Yudono, dan Abdul Syukur. Pengaruh Sabut Kelapa Terhadap Ketersediaan K di Tanah dan Serapan K Pada Pertumbuhan Bibit Kakao. Ilmu Pertanian Vol. 16 No.2, 2013 : 79 – 91.

[3] Zaini, Halim, Fachraniah, Zaimahwati, dan M. Yunus. Pelatihan Pembuatan Pupuk Kalium Cair Dari Sabut Kelapa Untuk Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Hortikultura di Desa Mesjid Punteut Kecamatan Blang Mangat Kota Lhokseumawe. Jurnal Vokasi, Vol 2 No.1 April 2018.

[4] Wijaya, Ray., M. Madjid B. Damanik, dan Fauzi. Aplikasi Pupuk Organik Cair dari Sabut Kelapa dan Pupuk Kandang Ayam Terhadap Ketersediaan dan Serapan Kalium serta Pertumbuhan Tanaman Jagung pada Tanah Inceptisol Kwala Bekala. Jurnal Agroekoteknologi FP USU Vol.5.No.2, April 2017 (33): 249- 255.

[5] Agustin, Elsa. (2014). IDENTIFIKASI BAKTERI PADA SABUT KELAPA YANG TERDAPAT DI PASAR ANGSO DUO KOTA JAMBI. Jambi: FKIP Universitas Jambi.

[6] https://kambingjoynim.com/cara-mengatasi-layu-bakteri-pada-cabe/#4_Cara_mengatasi_layu_bakteri_pada_cabai_secara_biologis

[7] Lumban Gaol, Rapolo. 2016. Pengaruh Berbagai Ketebalan Mulsa Sabut Kelapa Dan Interval Penyiraman Terhadap Pertumbuhan Tanaman Sukun (Artocarpus Communis) Di Rumah Kaca . Program Studi Kehutanan Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara.

SHARE:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *