Cara Mengatasi Layu Bakteri Pada Cabe Itu Sulit, Kecuali Pada Langkah Ke-4

SHARE:

Bagaimana cara mengatasi layu bakteri pada cabe?

Cara mengatasi layu bakteri pada cabe ini sebenarnya sudah lama dilakukan berbagai uji penelitiannya.

Mulai dari rotasi tanaman bukan inang, menghasilkan varietas tanaman yang tahan dan berbagai macam bakterisida.

Tapi tetap saja kasus – kasus serangan layu bakteri pada cabai dan tanaman lain tetap terjadi.

Layu bakteri dan pada cabai dan pada tanaman inangnya merupakan penyakit tanaman yang cukup sulit untuk dikendalikan.

Hal ini karena bakteri ini termasuk patogen yang bisa terbawa oleh tanah (tular tanah). Selain itu bakteri ini juga bersifat sangat merusak atau destruktif.

Penyebab layu bakteri adalah bakteri Pseudomonas solanacearum. Nama lain dari bakteri ini adalah Ralstonia solanacearum. Jadi, antara Pseudomonas solanacearum dan Ralstonia solanacearum itu sebenarnya sama saja.

Identifikasi nama bakteri penyebab penyakit layu bakteri ini mengalami beberapa perubahan. Sejarah perubahan namanya bisa dilihat pada tabel di bawah ini.

Perubahan nama bakteri penyebab layu bakteri[1]

TahunNama
1896Bacillus solanacearum E.F.
1923Phytomonas solanacearum Archibald
1992Burkholderia solanacearum
1995Ralstonia solanacearum Yabuuchi

Gejala yang akan terjadi ketika tanaman terserang layu bakteri adalah tanaman menjadi layu. Tapi, layunya ini berbeda.

Layunya tanaman yang terserang layu bakteri daunnya masih hijau dan terlihat segar. Mulai dari bagian daun muda, hingga akhirnya seluruh tanaman (termasuk batang) akan layu.

Gejala layu akan cepat berkembang bila suhu tanah sekitar 30°C dan intensitas cahaya cukup tinggi. Berarti semua daerah di Indonesia berpotensi untuk serangan Ralstonia solanacearum bisa berkembang dengan baik.

Serangan layu bakteri pada cabai dan tanaman lain bisa berlangsung cepat. Gejala layunya, tidak ditandai dengan adanya penguningan daun atau bercak daun terlebih dahulu.

Jadi, kondisi tanaman yang terserang kadang masih dalam kondisi segar bugar, dan bagian – bagiannya masih hijau. Terkadang kita tidak menyangka kalau tanaman ini akan mati begitu saja.

Jika yang diserang adalah varietas tanaman yang tahan terhadap bakteri ini, maka layu akan berhenti tapi tanaman menjadi kerdil.

Pemotongan batang tanaman yang terserang layu bakteri jika dipotong jaringannya berwarna coklat. Jika ditekan (dipencet) atau dimasukkan ke air akan keluar cairan berwarna putih.

Bakteri ini mempunyai kemampuan bertahan dalam tanah yang sangat tinggi. Ada beberapa faktor yang sangat mendukung untuk hal tersebut.

Pertama, tanaman inang layu bakteri sangat banyak. Tidak hanya pada cabai, tomat, terong, pepaya, kacang tanah, kentang, pisang, jahe dan tanaman sejenisnya. Bahkan untuk gulma juga bisa menjadi tanaman inangnya.

Kedua, rotasi tanaman bukan inang kadang bukan pilihan yang menguntungkan untuk pendapatan petani. Sehingga, menanam tanaman yang rentan dengan serangan layu bakteri mau tidak mau terus dilakukan.

Cara layu bakteri menyerang tanaman.

Bagaimana proses tanaman bisa terserang oleh layu bakteri? Apakah bakteri ini bisa langsung menyerang tanaman begitu saja?

Sepertinya tidak.

Meskipun bakteri ini berada dalam tanah, tidak berarti mereka bisa menyerang tanaman dengan semau mereka. Tetap ada pemicu awalnya atau ada pintu masuk supaya mereka bisa menyerang tanaman.

Kebanyakan, bakteri akan masuk mulai dari bagian akar tanaman. Dan pintu masuknya adalah ketika terdapat luka pada bagian akar.

Tapi tidak menutup kemungkinan luka selain di akar juga bisa menjadi pintu masuknya bakteri ini.

Luka pada bagian akar ini bisa disebabkan oleh nematoda, serangga, atau alat – alat pertanian.

Kegiatan penyiangan gulma dan penggemburan tanah dengan menggunakan cangkul terkadang bisa mengenai akar tanaman. Bisa jadi ini menjadi pemicunya.

Kemudian bakteri akan masuk, berkembang biak di dalam pembuluh kayu (xylem), akar, dan pangkal batang. Setelah itu bakteri akan menyebar ke seluruh bagian tanaman.

Bakteri Ralstonia solanacearum semakin banyak akan menyumbat jaringan pengangkut air pada tanaman. Sehingga ini akan menyebabkan transportasi air menjadi terhambat. Begitu juga distribusi unsur haranya.

Oleh karena itu, terjadinya layu bisa tanpa gejala penguningan dari daun. Karena yang dihambat adalah air. Dimana air merupakan kebutuhan utama dan tanpa air tanaman akan layu dan mati.

Cara mengatasi layu bakteri pada cabai

Kali ini, kita anggap bakteri Ralstonia solanacearum adalah musuh utamanya. Maka yang harus kita lakukan tujuannya adalah untuk mencegah atau menghambat atau mematikan mereka supaya tidak berkembang lebih jauh.

Bakteri ini kan kecil sekali. Berada dalam skala mikro.

Maka langkah pengendalian dalam skala yang sama, sepertinya akan lebih efektif. Misalnya dengan bakteri antagonis dari layu bakteri. Nanti kita akan cek lebih jauh mengenai jenis bakteri – bakteri ini.

Penggunaan pestisida, insektisida atau fungisida kontak sepertinya kurang bekerja dengan baik. Baik yang kimia maupun yang organik. Karena cara kerjanya berbeda.

Contoh adalah serangan hama cabai seperti kutu kebul. Kutu ini secara fisik terlihat dan berada diluar jaringan tanaman.

Penyemprotan insektisida kimia atau organik secara fisik akan mengenai langsung kutu tersebut.

Begitu juga serangan jamur seperti bercak daun atau antraknosa. Jamur yang menyerang masih memungkinkan untuk dikendalikan dengan fungisida kontak.

Sebenarnya, serangan layu bakteri pada cabai ini hampir mirip dengan serangan layu fusarium. Yaitu sama – sama bisa menghambat jaringan pengangkut air. Tapi bedanya adalah pada layu fusarium, daun akan layu dengan gejala menguning terlebih dahulu.

Langkah paling efektif untuk mengendalikan serangan layu bakteri pada cabai dan tanaman pangan lainnya dengan cara yang terpadu.

Ini meliputi lahan bebas patogen, varietas tahan, sistem bertanam dan pengendalian secara biologi.

1 . Pengendalian layu bakteri dengan tanah bebas patogen

Ini seharusnya menjadi langkah paling dasar sebelum melakukan langkah pencegahan untuk tahap – tahap selanjutnya.

Berarti, tanah bebas patogen tidak hanya untuk pencegahan penyakit layu bakteri saja, melainkan bisa untuk mencegeh penyakit tanaman yang diakibatkan patogen tular tanah lainnya.

Akan tetapi, kondisinya tanah di Indonesia sudah banyak yang tercemar dengan bakteri layu bakteri.

Karena kemampuan bakteri yang bisa bertahan lama dalam tanah dan jumlah tanaman inangnya yang sangat banyak.

Dua hal tersebut bisa membuat bakteri tetap bertahan dalam suatu tanah dalam jangka waktu yang lama.

Ok. Berarti kita skip (lewati) saja langkah ini. Karena sangat sulit sekali untuk menentukan apakah lahan yang akan kita tanami benar – benar terbebas dari patogen atau tidak.

Ketika lahan sudah tidak memungkinkan untuk steril dari patogen tukar tanah, maka seharusnya kita menggunakan bibit yang tahan terhadap patogen – patogen tersebut.

2 . Varietas tanaman yang tahan terhadap bakteri layu

Pada dasarnya ini adalah langkah yang mudah, cepat, dan efektif dalam hal cara mengatasi layu bakteri.

Karena varietas cabai yang digunakan sudah tahan terhadap serangan bakteri layu.

Tapi yang perlu difahami adalah tingkat ketahanannya jangan diharapkan bisa sampai 100%.

Nantinya tetap ada tanaman cabai yang terserang, tapi jumlah atau presentasinya lebih sedikit. Jika dibandingkan dengan varietas yang rentan, jumlahnya jauh lebih kecil.

Selain itu, bibit cabai yang tahan terhadap layu bakteri juga cukup sulit untuk ditemukan.

Tetap ada yang menjualnya, tapi tidak semudah menemukan bibit cabai kebanyakan.

Selain sulit, rata – rata harganya jauh lebih mahal.

Jika kita sering membaca publikasi – publikasi ilmiah bertemakan varietas tahan, perguruan – perguruan tinggi itu punya bibit cabai yang tahan terhadap layu bakteri.

Tapi saya tidak tahu apakah bisa dijual bebas atau hanya untuk kalangan sendiri sebagai bahan penelitian.

Tapi tenang saja, sudah ada produk bibit cabai yang tahan terhadap layu bakteri ini. Meskipun hanya beberapa, kita bisa mendapatkannya secara online. Seandainya saja di tempat kita tidak ada yang menjualnya.

Apa saja merknya?

1 . Bibit cabai merk red kriss

cara mengatasi layu bakteri pada cabe dengan bibit varietas tahan

Bibit cabai merk Red Kriss ini adalah bibit import. Bibit cabai ini diseleksi supaya produktifitasnya unggul.

Selain itu, klaimnya juga mengatakan bahwa bibit cabai red kriss ini tahan terhadap serangan antraknosa dan layu bakteri.

Silahkan dicari sendiri informasi yang lebih detail, dengan kata kunci bibit cabai red kriss. Nanti, banyak situs marketplace yang menawarkan produk ini.

2 . Colombus – Chia Tai seed

cara mengatasi layu bakteri pada cabe dengan bibit tahan bakteri layu

Bibit cabai colombus ini produk dalam negeri. Menurut klaimnya sih ini lebih bagus daripada bibit cabai merk red kriss.

Keunggulannya adalah bibit ini bisa memproduksi buah cabai sampai 2 kg / pohonnya.

Selain itu bibit ini juga tahan terhadap serangan virus kuning atau virus gemini pada cabai.

Tidak hanya tahan virus gemini, bibi ini juga tahan terhadap layu bakteri dan layu fusarium.

Sebenarnya masih ada beberap lagi,merk cabai yang tahan penyakit. Tapi, karena kita masih membahas banyak hal, saya akan sebutkan merk saja. Info detailnya nanti silahkan dicari sendiri.

Ini adalah nama – nama merk cabai tahan penyakit tersebut:

  • TM Thunder 99 (bibit cabai merah tahan antraknosa dan virus gemini.
  • Syphoon (bibit cabai rawit tahan terhadap antraknosa.
  • Cabe Sonar.
  • Bibit cabe Iggo
  • Bibit cabai Latonbar.

3 . Sistem bertanam ideal untuk mencegah invasi bakteri layu

Maksudnya ini adalah melakukan rotasi tanaman antara periode sekarang dengan periode tanam berikutnya.

Misalnya sekarang menanam cabai, maka setelah cabai dicabut semua, kemudian ditanami tanaman bukan inang dari layu bakteri.

Contohnya adalah jagung, padi, dan kubis kubisan.

Sepertinya tidak banyak pilihan untuk jenis tanaman bukan inang, mengingat tanaman inang dari bakteri layu sangat banyak sekali.

Selain itu juga pilihan untuk tanaman perotasi kadang tidak mendukung pada wilayah tertentu. Entah karena kondisi lahannya atau secara ekonomi kurang menguntungkan.

Diluar semua itu, apakah dengan rotasi tanaman bisa mengurangi serangan layu bakteri?

Perlu difahami lagi bahwa bakteri ini kan tular tanah. Dan bisa bertahan cukup lama di tanah.

Ketika ditanami tanaman bukan inang mereka, apa mereka akan pergi atau mati? Tentu tidak kan, mereka akan bertahan diri sampai mendapat lingkungan yang pas untuk berkembang.

Berbeda ketika rotasi tanaman dilakukan untuk mengurangi serangan serangga. Sepeti kutu kebul, ulat grayak, thrips, tungau kuning atau kutu daun persik.

Serangga – serangga tersebut memang bertempat dan menetap di tanaman. Mereka mendapat dan mengambil makanan dari tanaman. Jadi, ketika tanaman sebagai tempat tinggal mereka tidak ada, mereka akan pergi dari lahan tersebut dan mencari tanaman lain.

4 . Cara mengatasi layu bakteri pada cabai secara biologis

Cara mengatasi layu bakteri dengan cara biologis, berarti kita membutuhkan bantuan bakteri lain.

Bakteri ini bisa kita berikan secara sengaja, atau bakteri yang sudah ada pada tanaman.

Berarti ada dua fungsi dari bakteri yang akan kita gunakan. Pertama sebagai antagonis terhadap bakteri layu dan kedua adalah sebagai bakteri endofit.

Bakteri antagonis terhadap layu bakteri

Bakteri antagonis ini harus bisa menekan perkembangan bakteri Ralstonia solanacearum Yabuuchi.

Beberapa jenis mikroorganisme yang bisa dipakai untuk hal tersebut adalah:

  • Pseudomonas fluorescens
  • Streptomyces sp.
  • Bacillus polymyxa
  • Bacillus subtilis.
  • Thricoderma sp.

Satu atau dua dari bakteri – bakteri tersebut juga mudah untuk kita dapatkan. Contohnya adalah bakteri bacillus subtilis.

Terkadang kita tidak menemukan produk dalam kategori pertanian, bisa saja pada produk perikanan.

Karena bakteri bacillus subtilis juga dipakai untuk membentuk bioflok pada ternak lele atau nila.

Salah satu merknya adalah AQUAENZYM. Tapi bakterinya tidak hanya satu saja lho, di situ juga ada bakteri B. Meganterium dan beberapa bakteri lainnya.

Bakteri bacilluss subtilis ini sudah teruji, baik secara laborat atau secara lapangan. Bakteri ini bisa menekan atau mengurangi dampak serangan dari layu bakteri pada cabai dan tanaman lain seperti tomat.

Selain bisa menekan layu bakteri, B. Subtilis juga bisa berperan sebagai PGPR pada tanaman

Dari beberapa hasil studi yang telah saya kumpulkan, hasilnya bisa kita lihat sebagai berikut:

  • Aplikasi bakteri Bacilluss subtilis, 20 ml dengan kerapatan 108 cfu/ml, 1 minggu sebelum infeksi bakteri layu diberikan bisa menekan kasus serangan layu bakteri pada cabai sampai 73%.[1]
  • Aplikasi bakteri Pseudomonas fluorescens dan Bacilluss subtilis secara bersamaan lebih efektif dalam menekan terjadinya serangan layu bakteri pada tomat. Aplikasi yang paling efektif adalah sebanyak 2 kali. Yaitu perendaman pada bibit dengan bakteri dan pengkocoran pada lubang tanam 5 hari sebelum penanaman.[2]
  • Pemberian suspensi bakteri bacilluss subtilis, minimal sebanyak 2,5 ml dengan kerapatan 108 cfu/ml, pada cabai yang ditanam dalam pot secara efektif bisa mencegah terjadinya kasus layu bakteri.[3]

Mikroorganisme endofit untuk layu bakteri

Mikroorganisme endofit adalah organisme yang berada dalam jaringan tanaman dan tidak menimbulkan penyakit pada tanaman. Ini bisa bakteri atau jamur (cendawan).

Organisme ini benar – benar berada di dalam tanaman. Artinya mereka hidup dan tinggal pada jaringan tanaman, di dalam batang, di jaringan akar dan daun. Tidak hanya sekedar menempel di luaran saja.

Katanya, setiap tanaman yang sehat selalu berasosiasi dengan mikroorganisme endofit.[4] Organisme ini meskipun hidup di dalam tanaman, tapi tidak menyebabkan penyakit pada tanaman.

Dan, jenis organismenya juga spesifik. Hanya jenis tertentu saja.

Kemudian dari berbagai hasil penelitian, organisme ini bisa bersifat antagonis terhadap berbagai penyakit cabai. Diantaranya adalah layu bakteri.

Organisme endofit pada tanaman bisa menghasilkan zat – zat yang sifatnya anti bakteri dan anti fungi. Sehingga, ketika ada bakteri atau jamur patogen mencoba menyerang, self defense dari tanaman akan bekerja.

Luar biasa bukan! Bahkan secara alami (benar – benar natural) tanaman punya self defense (pertahanan diri) terhadap penyakit – penyakit cabai yang kita khawatirkan.

Mungkin selama ini sikap dan gaya bertani kita malah melemahkan kemampuan natural self defense dari pertanian kita. Mungkin saja, tapi belum ada bukti untuk bisa membahas hal itu.

Contoh organisme endofit yang pernah berhasil diidentifikasi dari jaringan tanaman bisa dilihat pada tabel di bawah ini.

Jenis tanaman

Organisme endofit

BakteriJamur (cendawan)
CoklatGliocladium catenulatum
TekiAcremonium sp
CabaiColletotrichum sp

Fusarium oxysporum,

F. solani,

Trichoderma sp.,

Gliocladium sp.,

Penicillium sp.

Aspergillus sp. Dan

Colletotrichum sp

TomatPseudomonas fluorescens

Database mikroorganisme di atas hanya sebagian kecil saja berdasarkan data yang sudah saya kumpulkan. Jika dikembangkan mungkin jumlahnya bisa sangat banyak sekali.

Ok, saya kira sampai disini dulu untuk cara mengatasi layu bakteri pada cabe. Cara – cara di atas tidak hanya berlalu pada cabai saja, tapi untuk tomat, terong juga bisa. Karena prinsipnya sama saja.

Terima kasih dan sampai jumpa lagi.

Referensi

[1] Kairul, Ujang. 2005. Kajian Beberapa Komponen pengendalian Terpadu Penyakit Layu Bakteri Pada Tanaman Cabai Merah. Tesis. Sekolah pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

[2] Nurjanani. 2001. Keefektifan Pseudomonas fluorescens GI-19, Bacillus subtilis dan Trichoderma viride Dalam Pengendalian Penyakit Layu Bakteri (Ralstonia solacearum) Pada Tomat. Tesis. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

[3] Djereng, Diah Kharismawati, Retno Kawuri, dan Yan Ramona. Potensi Bacillus sp. B3 Sebagai Agen Biokontrol Penyakit Layu Bakteri Yang Disebabkan Oleh Ralstonia Sp. Pada Tanaman Cabai (Capsicum annuum L.). Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Kampus Bukit Jimbaran, Universitas Udayana. Jurnal Metamorfosa Iv (2): 237-246 (2017).

[4] Windriyati, Ratna Dwi Hirma. Seleksi Cendawan Endofit Untuk Pengendalian Penyakit Layu Bakteri (Ralstonia Solanacearum) Pada Tanaman Cabai. Tesis. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor Bogor 2015.

SHARE:

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *